Katakata.id — Pendidikan bukan hanya soal pelajaran di ruang kelas. Bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) di Nagari Padang Sibusuk, Kabupaten Sijunjung, pendidikan juga tentang bagaimana anak-anak belajar menghargai sesama sekaligus berani menatap masa depan.
Semangat itulah yang dibawa Rahmadini Azzahra, mahasiswa KKN Unand, saat turun langsung memberikan edukasi kepada para pelajar di sejumlah sekolah di Nagari Padang Sibusuk.
Ada dua pesan utama yang disampaikan dalam rangkaian sosialisasi tersebut. Kepada siswa sekolah dasar (SD), Rahmadini mengajak mereka mengenali dan mencegah bullying di lingkungan sekolah. Sementara kepada pelajar tingkat sekolah menengah atas (SMA), ia mendorong mereka untuk berani melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Dua isu berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama yaitu membangun generasi muda yang lebih peduli, percaya diri, dan memiliki masa depan yang lebih luas.
Di hadapan siswa SD, materi tentang bullying disampaikan dengan pendekatan yang sederhana dan interaktif, menyesuaikan usia serta cara berpikir anak-anak.
Para siswa diajak memahami apa itu bullying, mengenali berbagai bentuk perundungan, serta melihat dampaknya terhadap korban maupun lingkungan sekolah.
Hal yang terlihat sepele seperti mengejek teman, mengucilkan, mempermalukan, atau menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan candaan, dijelaskan sebagai perilaku yang tidak boleh dianggap biasa.
Sebab, bagi anak yang menjadi korban, candaan tersebut bisa meninggalkan luka yang jauh lebih dalam.
Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diajak memahami pentingnya saling menghargai. Mereka didorong untuk tidak menjadi pelaku, tidak ikut-ikutan ketika melihat perundungan, serta berani mengambil sikap ketika ada teman yang menjadi korban.
Pesannya sederhana yakni sekolah harus menjadi tempat yang aman untuk belajar dan bertumbuh, bukan tempat bagi anak untuk merasa takut atau dikucilkan.
Sementara itu, suasana berbeda hadir ketika Rahmadini memberikan sosialisasi kepada pelajar SMA.
Di jenjang ini, pembahasan diarahkan pada pentingnya melanjutkan pendidikan setelah tamat SMA. Para siswa diperkenalkan dengan berbagai pilihan pendidikan lanjutan sekaligus diajak mulai mengenali minat, potensi, dan bidang yang ingin mereka tekuni.
Rahmadini menekankan bahwa pendidikan tinggi bukan semata-mata tentang memperoleh gelar. Lebih dari itu, perguruan tinggi dapat menjadi ruang untuk memperluas wawasan, menambah pengalaman, mengasah kemampuan berpikir, membangun jejaring, serta mengembangkan potensi diri sebagai bekal menghadapi masa depan.
Bagi sebagian pelajar di daerah, informasi mengenai pilihan pendidikan setelah SMA mungkin belum selalu mudah diperoleh. Karena itu, sosialisasi semacam ini menjadi ruang penting untuk membuka cakrawala mereka.
Rahmadini mengatakan lingkungan sekolah dan pendidikan merupakan fondasi penting bagi masa depan generasi muda.
“Lingkungan sekolah dan pendidikan adalah fondasi utama masa depan anak-anak kita. Perundungan, sekecil apa pun bentuknya, dapat merusak mental dan semangat belajar siswa. Di sisi lain, pendidikan tinggi merupakan kunci untuk memperluas wawasan dan membuka peluang masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Menurutnya, anak-anak Padang Sibusuk merupakan bagian dari generasi penerus yang perlu dibekali keberanian untuk saling menghargai sekaligus tekad untuk terus mengejar cita-cita.
“Anak-anak di Padang Sibusuk adalah generasi penerus, sehingga sudah sepatutnya mereka dibekali keberanian untuk saling menghargai dan tekad untuk terus mengejar cita-cita,” tambahnya.
Rangkaian edukasi tersebut dilaksanakan secara bertahap di berbagai sekolah di Nagari Padang Sibusuk.
Pada jenjang SD, sosialisasi diberikan kepada siswa-siswi SD IUT Siti Khadijah, SDN 01, SDN 05, SDN 06, SDN 07, SDN 09, SDN 11, dan SDN 12.
Sementara pada jenjang SMA, kegiatan dilaksanakan di SMA 4 Padang Sibusuk dan MAN 2 Padang Sibusuk.
Jangkauan yang mencakup berbagai jenjang pendidikan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN Unand untuk menghadirkan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.
Kegiatan ini bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga membangun percakapan dengan para pelajar mengenai persoalan yang mereka hadapi sekaligus memberikan perspektif baru tentang masa depan.
Pihak sekolah pun menyambut baik kegiatan tersebut. Para kepala sekolah dan guru menilai edukasi mengenai anti-bullying serta motivasi melanjutkan pendidikan sangat relevan dengan kebutuhan siswa saat ini. Selain membantu membentuk karakter positif, kegiatan tersebut dinilai dapat menumbuhkan motivasi belajar dalam jangka panjang.
Mereka berharap kegiatan pembinaan dan edukasi serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.
Kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat pada akhirnya bukan hanya tentang menyelesaikan program kerja. Ada pengetahuan yang dibagikan, ada pengalaman yang ditularkan, dan ada nilai yang coba ditanamkan. Melalui edukasi anti-bullying, anak-anak diajak memahami bahwa menghargai teman adalah bagian penting dari kehidupan bersama.
Melalui dorongan melanjutkan pendidikan, para pelajar SMA diajak melihat bahwa masa depan masih terbuka luas dan cita-cita layak diperjuangkan. Dua pesan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, jika ditanamkan sejak dini, dampaknya dapat berlangsung jauh lebih panjang daripada masa KKN itu sendiri.
Sebab membangun generasi tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang cukup dengan mengajarkan seorang anak untuk tidak menyakiti temannya, lalu meyakinkan seorang remaja bahwa ia berhak bermimpi setinggi-tingginya.
Dari sekolah-sekolah di Padang Sibusuk, mahasiswa KKN Unand mencoba menanamkan dua hal tersebut yakni kepedulian kepada sesama dan keberanian mengejar masa depan.
Dan dari sana, pengabdian menemukan maknanya—bukan sekadar hadir di tengah masyarakat, tetapi meninggalkan pengetahuan, semangat, dan harapan yang dapat terus tumbuh setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Penulis/pengirim: Rahmadini Azzahra
Editor: Rasid Ahmad
