Katakata.id — Sebuah perpustakaan di Nagari Padang Sibusuk, Kabupaten Sijunjung, kini tak hanya menjadi tempat membaca. Suasana belajar terasa lebih hidup ketika anak-anak dan pelajar berkumpul untuk bernyanyi, bermain gim, hingga mencoba berbicara dalam Bahasa Inggris.
Ruang belajar itu bernama English Club, sebuah program yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler II Universitas Andalas (UNAND) Nagari Padang Sibusuk Tahun 2026.
Program ini lahir bukan sekadar dari ide, melainkan dari temuan mahasiswa KKN saat melakukan survei ke sejumlah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Nagari Padang Sibusuk sebelum menyusun program kerja.
Dari survei tersebut, mahasiswa menemukan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris belum merata di seluruh sekolah. Kondisi tersebut terutama terlihat pada tingkat SD, di mana sejumlah sekolah belum menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran yang diberikan secara reguler.
Kesenjangan inilah yang kemudian mendorong mahasiswa KKN UNAND menghadirkan ruang belajar alternatif bagi anak-anak di nagari tersebut.
Perpustakaan Nagari dipilih sebagai tempat belajar. Di ruang yang sederhana itu, mahasiswa membuka English Club secara gratis, sehingga anak-anak tetap memiliki kesempatan mempelajari Bahasa Inggris meskipun tidak mendapatkannya secara rutin di sekolah.
“Program ini kami hadirkan sebagai bentuk kepedulian sekaligus solusi atas kesenjangan pengajaran Bahasa Inggris yang kami temukan di lapangan. Kami ingin anak-anak di Nagari Padang Sibusuk tetap punya kesempatan yang sama untuk belajar Bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan,” ujar **Berlian**, mahasiswa KKN yang terlibat dalam perancangan program tersebut.
English Club tidak dirancang seperti ruang kelas formal. Mahasiswa KKN justru berusaha menciptakan suasana belajar yang santai agar anak-anak tidak takut salah dan berani mencoba.
Setiap pertemuan dikemas secara interaktif melalui berbagai aktivitas, mulai dari bernyanyi bersama, bermain gim, hingga latihan percakapan sederhana dalam Bahasa Inggris.
Metode tersebut sengaja dipilih untuk membuat proses belajar terasa menyenangkan sekaligus membantu peserta memahami materi secara lebih mudah.
Anak-anak tidak hanya diajak menghafal kosakata. Mereka juga diberi ruang untuk berbicara, berekspresi, dan mencoba menggunakan Bahasa Inggris dalam situasi sederhana.
Dari permainan dan percakapan ringan itulah kepercayaan diri perlahan dibangun.
Mahasiswa KKN menyadari bahwa bagi sebagian anak, tantangan belajar Bahasa Inggris bukan hanya soal materi, tetapi juga keberanian untuk berbicara dan mencoba.
Karena itu, English Club hadir dengan pesan sederhana: tidak apa-apa salah, yang penting berani mencoba.
Agar pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing jenjang, English Club dilaksanakan dua kali dalam sepekan.
Setiap Jumat, kegiatan diperuntukkan bagi pelajar tingkat SMP sederajat. Sementara setiap Sabtu, giliran peserta tingkat SD mengikuti kegiatan. Pembagian tersebut memungkinkan mahasiswa menyesuaikan materi, metode, dan tingkat kesulitan pembelajaran berdasarkan kemampuan peserta.
Dengan begitu, anak-anak tidak merasa tertinggal ataupun terbebani oleh materi yang terlalu sulit. Lebih dari sekadar kegiatan tambahan, English Club menjadi ruang interaksi antara mahasiswa dan anak-anak nagari. Perpustakaan yang sebelumnya identik dengan buku dan aktivitas membaca kini berkembang menjadi ruang belajar yang lebih dinamis.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa kepada masyarakat tidak selalu harus hadir dalam bentuk kegiatan besar. Terkadang, sebuah perubahan bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana: membuka pintu perpustakaan, menyediakan waktu, lalu mengajak anak-anak belajar bersama.
English Club menjadi contoh kecil bagaimana hasil pengamatan di lapangan dapat diterjemahkan menjadi program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Mahasiswa KKN UNAND tidak hanya melihat adanya kesenjangan pembelajaran Bahasa Inggris, tetapi mencoba menghadirkan solusi dengan sumber daya yang mereka miliki.
Harapannya, program tersebut tidak berhenti ketika masa KKN berakhir.
Dukungan pemerintah nagari, para guru, orang tua, serta masyarakat menjadi penting agar ruang belajar ini dapat terus hidup dan berkembang.
Sebab pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah.
Ia dapat tumbuh di perpustakaan, di rumah, di lingkungan masyarakat, bahkan melalui permainan sederhana yang membuat anak-anak berani mencoba sesuatu yang baru.
Dari perpustakaan kecil di Nagari Padang Sibusuk, mahasiswa KKN UNAND ingin menanamkan satu hal penting bahwa belajar Bahasa Inggris bisa menyenangkan dan setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar.
Dan siapa tahu, dari ruang belajar sederhana itu kelak lahir anak-anak Padang Sibusuk yang lebih percaya diri, memiliki wawasan luas, dan siap menyambut dunia yang semakin terbuka.
Pengirim: Berliana Putri
Editor: Rasid Ahmad
