Katakata.id – Kepercayaan masyarakat terhadap merek kendaraan masih sangat dipengaruhi oleh persepsi atas kualitas dan keandalan. Di tengah semakin ketatnya persaingan industri otomotif, Toyota dan Honda masih menjadi merek yang paling dipercaya publik untuk kendaraan konvensional.
Sementara di segmen kendaraan listrik, BYD mulai mencuri perhatian dan menempati posisi teratas dalam tingkat kepercayaan masyarakat.
Temuan tersebut merupakan bagian dari survei nasional Poltracking Indonesia bersama XSagha – Market Research & Brand Strategy yang dilakukan pada 14–20 Agustus 2026.
Survei menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan melibatkan 1.220 responden yang tersebar di 38 provinsi. Sampel disusun secara proporsional berdasarkan data Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2024 dengan stratifikasi berdasarkan proporsi jenis kelamin pemilih.
Pada tingkat kepercayaan 95 persen, survei memiliki margin of error ±2,9 persen.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh pewawancara terlatih terhadap responden yang dipilih secara acak dengan bantuan teknologi aplikasi.
Dalam kategori mobil yang paling dipercaya dari sisi kualitas dan keandalan, Toyota berada di posisi teratas dengan 15,0 persen. Toyota hanya unggul tipis dari Honda yang berada di angka 14,9 persen. Sementara Mitsubishi menempati posisi berikutnya dengan 4,3 persen.
Temuan tersebut memperlihatkan ketatnya persaingan persepsi publik antara dua merek otomotif Jepang yang telah lama memiliki basis konsumen di Indonesia.
Ketika ditanya alasan utama dalam memilih mobil yang dibeli, kualitas dan keandalan mesin atau kendaraan menjadi pertimbangan terbesar dengan 23,8 persen.
Berikutnya adalah harga kendaraan sebesar 13,2 persen serta desain dan kenyamanan sebesar 5,0 persen.
Artinya, bagi konsumen, keputusan membeli kendaraan masih sangat berkaitan dengan pertanyaan mendasar: seberapa dapat diandalkan kendaraan tersebut dan seberapa sepadan harganya dengan kemampuan konsumen.
Perubahan menarik terlihat pada segmen kendaraan listrik. BYD menjadi merek mobil listrik yang paling dipercaya publik dari sisi kualitas dan keandalan dengan 9,2 persen, mengungguli Wuling sebesar 4,1 persen dan Chery sebesar 4,0 persen.
Meski demikian, tingkat kepercayaan terhadap kendaraan listrik secara keseluruhan masih menghadapi sejumlah hambatan.
Ketika responden yang belum memilih kendaraan listrik ditanya mengenai alasan keraguan mereka, 10,5 persen menyebut belum percaya terhadap kualitas kendaraan listrik. Alasan berikutnya adalah belum yakin dengan aspek keamanan sebesar 7,5 persen dan harga yang dianggap terlalu mahal sebesar 7,3 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan kendaraan listrik tidak semata-mata soal teknologi atau ketersediaan produk. Kepercayaan konsumen masih menjadi pekerjaan rumah utama.
Peneliti XSagha – Market Research & Brand Strategy, Ahmad Zia Fitrahuddin, mengatakan perubahan preferensi konsumen di sektor otomotif akan sangat bergantung pada kemampuan produsen membangun kepercayaan.
“Kualitas dan keandalan masih menjadi fondasi utama dalam keputusan masyarakat membeli kendaraan. Pada kendaraan listrik, fondasi tersebut harus dibangun kembali karena sebagian konsumen masih berada pada tahap mengenal dan memastikan apakah teknologi ini benar-benar dapat diandalkan.”
Menurutnya, persepsi mengenai keamanan dan harga juga menjadi faktor penting yang harus dijawab industri kendaraan listrik.
“Keraguan terhadap kualitas, keamanan, dan harga menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik tidak cukup hanya dengan menghadirkan produk. Konsumen membutuhkan bukti mengenai keandalan, keamanan, kemudahan penggunaan, serta nilai ekonominya dalam jangka panjang.”
Pada segmen sepeda motor, posisi Honda terlihat jauh lebih dominan. Honda menjadi merek motor yang paling dipercaya publik dari sisi kualitas dan keandalan dengan 64,1 persen. Angka tersebut terpaut sangat jauh dari Yamaha yang berada di posisi kedua dengan 14,5 persen. Suzuki berada di angka 2,4 persen.
Jika pada mobil Toyota dan Honda bersaing ketat, pada sepeda motor Honda menunjukkan dominasi persepsi yang jauh lebih kuat.
Pertimbangan masyarakat dalam memilih motor juga memiliki karakteristik tersendiri.
Keiritan bahan bakar menjadi alasan utama dengan 18,6 persen, disusul harga beli kendaraan sebesar 12,0 persen dan kemudahan menjangkau bengkel resmi sebesar 9,1 persen. Dengan demikian, efisiensi biaya penggunaan menjadi faktor yang sangat penting bagi konsumen sepeda motor.
Survei juga memotret pola perjalanan masyarakat untuk transportasi antarkota. Sebanyak 37,1 persen responden menyebut kendaraan pribadi sebagai moda transportasi antarkota yang paling sering digunakan.
Bus berada di urutan berikutnya dengan 23,0 persen, disusul travel 9,9 persen dan kereta api 9,1 persen. Namun, kereta api memiliki catatan positif dalam hal kepuasan pengguna. Dari masyarakat yang menggunakan kereta api, 81,8 persen menyatakan puas terhadap pelayanan kereta api saat ini. Sebaliknya, hanya 4,7 persen yang menyatakan tidak puas.
Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun proporsi pengguna kereta api dalam survei belum sebesar kendaraan pribadi atau bus, mereka yang menggunakannya cenderung memberikan penilaian positif terhadap pelayanan.
Persoalan justru muncul pada masyarakat yang tidak menggunakan kereta api. Alasan terbesar mereka memilih moda transportasi lain adalah lokasi stasiun yang dianggap jauh dari tempat asal atau tujuan akhir, dengan angka mencapai 30,8 persen. Alasan berikutnya adalah harga tiket kereta api yang dianggap lebih mahal sebesar 4,5 persen dan jadwal keberangkatan yang dinilai kurang fleksibel sebesar 4,0 persen.
Temuan ini memperlihatkan adanya paradoks dalam persepsi terhadap transportasi kereta api. Di satu sisi, pengguna memberikan tingkat kepuasan yang tinggi. Namun di sisi lain, sebagian masyarakat yang tidak menggunakan kereta api menghadapi persoalan akses menuju stasiun.
Ahmad mengatakan persoalan tersebut menunjukkan bahwa kualitas sebuah moda transportasi tidak hanya ditentukan oleh pelayanan di dalam perjalanan.
“Kepuasan pengguna kereta api cukup tinggi, tetapi akses menuju stasiun masih menjadi hambatan bagi masyarakat yang belum menggunakannya. Artinya, pengalaman transportasi harus dilihat sebagai perjalanan yang utuh, bukan hanya ketika penumpang sudah berada di dalam kereta.”
Menurutnya, kemudahan akses dari titik keberangkatan hingga tujuan akhir menjadi faktor penting untuk meningkatkan penggunaan transportasi publik.
“Jika akses dari rumah ke stasiun dan dari stasiun ke tujuan akhir semakin mudah, maka kereta api memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pilihan masyarakat dalam perjalanan antarkota.”
Hasil survei Poltracking Indonesia bersama XSagha memperlihatkan bahwa industri otomotif dan transportasi sedang menghadapi persoalan yang berbeda. Pada kendaraan konvensional, reputasi kualitas, keandalan, efisiensi, harga, dan jaringan layanan masih menjadi fondasi keputusan konsumen.
Sementara kendaraan listrik menghadapi tantangan yang lebih mendasar: membangun kepercayaan terhadap teknologi yang relatif baru bagi sebagian masyarakat.
Di sektor transportasi publik, tantangannya bukan semata meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi juga memastikan masyarakat dapat mengakses layanan tersebut dengan mudah. Dengan kata lain, konsumen semakin tidak hanya membeli produk atau menggunakan layanan, tetapi membeli rasa percaya dan kemudahan dalam pengalaman mereka sehari-hari. Dan di titik itulah persaingan merek otomotif maupun moda transportasi ke depan akan semakin ditentukan.(Rasid Ahmad)
