Katakata.id – Aksi aktivis lingkungan Greenpeace Indonesia yang membentangkan spanduk di lokasi berisiko bukan sekadar aksi nekat. Di baliknya, ada relawan dengan keterampilan khusus, persiapan matang, serta perhitungan risiko keselamatan dan hukum.
Ketua Tim Kampanye Sosial dan Ekonomi, Atha Rasyadi, mengungkapkan bahwa Greenpeace memiliki jaringan relawan dengan beragam kemampuan, mulai dari memanjat (climbing), mengoperasikan perahu, hingga memasang panel surya di sekolah dan masjid.
Dalam perbincangan di podcast Madilog Forum Keadilan dikutip Jumat (23/10/2026), Atha menjelaskan bahwa para relawan tersebut bukan seluruhnya anggota resmi organisasi. Mereka bergerak secara sukarela karena memiliki keresahan yang sama terhadap persoalan lingkungan dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Menurut Atha, setiap aksi kreatif tanpa kekerasan dirancang dengan mempertimbangkan berbagai risiko, terutama keselamatan, keamanan, dan konsekuensi hukum. Relawan yang berada di garis depan juga dipastikan memiliki keterampilan dan pelatihan yang sesuai.
“Ketika kami merancang sebuah aksi kreatif dan tanpa kekerasan, kami sudah punya ukuran-ukuran. Kami kalkulasikan segala risiko, termasuk risiko keselamatan dan keamanan serta risiko hukum,” demikian penjelasan Atha dalam wawancara tersebut.
Ia justru menyoroti aspek keselamatan dalam proses penanganan aktivis oleh aparat ketika aksi berlangsung. Menurutnya, rekaman kejadian memperlihatkan proses yang dinilainya belum mengedepankan aspek keamanan secara memadai.
Atha menegaskan, Greenpeace memiliki prosedur operasional dan standar keselamatan dalam menjalankan aksi, sebagaimana praktik organisasi tersebut di berbagai negara. Peralatan dan kesiapan personel menjadi bagian dari persiapan sebelum aksi dilakukan.
Terkait anggapan bahwa aksi Greenpeace tergolong ekstrem, Atha menilai penilaian itu bisa berbeda-beda, bergantung pada perspektif dan pemahaman publik terhadap teknik yang digunakan. Aktivitas yang tampak berbahaya bagi orang awam, menurutnya, dapat dilakukan secara terukur oleh personel yang terlatih.
Bagi Greenpeace, aksi lapangan merupakan salah satu cara menyampaikan keresahan dan mendorong perhatian terhadap persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran plastik sekali pakai hingga transisi energi.
Atha menyatakan bahwa risiko tetap menjadi perhatian dalam setiap kegiatan. Karena itu, persiapan dilakukan untuk meminimalkan potensi bahaya, bukan mengabaikannya demi menarik perhatian publik.
Editor: Rasid Ahmad
