Katakata.id — Tragedi memilukan menimpa seorang siswa sekolah dasar berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bocah tersebut diduga mengakhiri hidupnya setelah mengalami tekanan psikologis akibat ketidakmampuan keluarga memenuhi permintaannya untuk membeli buku dan alat tulis sekolah. Peristiwa ini mengguncang publik dan memantik sorotan tajam terhadap keadilan sosial serta pemerataan akses pendidikan di Indonesia.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan akan melakukan penyelidikan atas peristiwa tersebut. Namun, ia mengaku belum memperoleh informasi lengkap mengenai kasus yang menyita perhatian nasional itu.
“Nanti coba kita selidiki ya. Saya belum tahu informasinya,” ujar Mu’ti di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Saat ditanya apakah tragedi ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan nasional, Mu’ti kembali menegaskan komitmennya untuk menelusuri penyebab kejadian tersebut. “Saya belum tahu, nanti kita selidiki lagi ya penyebabnya apa dan sebagainya,” katanya.
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan rasa duka dan keprihatinan mendalam. Ia menegaskan tragedi ini harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen negara.
“Ya, tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, ini menjadi atensi kita bersama,” ujar Gus Ipul.
Mensos memastikan Kementerian Sosial bersama pemerintah daerah akan memperkuat pendampingan terhadap keluarga dan masyarakat yang rentan secara ekonomi maupun psikososial. Ia juga menekankan pentingnya penguatan basis data agar tidak ada warga miskin yang luput dari perlindungan negara.
“Kita harus memperkuat data kita. Jangan sampai ada yang tidak terdata. Data yang baik akan menentukan apakah kita bisa menjangkau keluarga yang memerlukan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan,” tegasnya.
Dari parlemen, Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief, mendesak Kemendikdasmen mengusut tuntas latar belakang tragedi tersebut. Menurutnya, kasus ini merupakan alarm keras bahwa masih ada anak-anak Indonesia yang tidak memperoleh kebutuhan belajar paling mendasar.
“Kami sangat prihatin. Ini tidak boleh dibiarkan. Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar pendidikan terpenuhi tanpa kecuali,” ujar Habib di Jakarta.
Habib menilai tragedi tersebut mencerminkan potret buram dunia pendidikan nasional, khususnya dalam pemenuhan hak anak dari keluarga kurang mampu. Ia mempertanyakan efektivitas penyaluran bantuan pendidikan, mengingat anggaran pendidikan nasional yang sangat besar.
“Harusnya kebutuhan dasar seperti buku dan alat tulis bisa terpenuhi. Ini perlu investigasi menyeluruh, apakah ada kelalaian sistemik,” katanya.
Ia juga menyoroti lemahnya mekanisme deteksi dini di tingkat sekolah dan pemerintah daerah terhadap siswa yang mengalami tekanan ekonomi dan psikologis. Menurutnya, guru dan kepala sekolah seharusnya memiliki kepekaan sosial yang lebih kuat.
“Jangan sampai kita kehilangan generasi hanya karena kemiskinan dan kelalaian sistem,” tegas Habib.
Di sisi lain, pengamat politik Rocky Gerung melihat peristiwa ini bukan sekadar tragedi individual, melainkan alarm keras kegagalan negara dalam menghadirkan keadilan sosial. Ia menyebut buku tulis sebagai hak paling elementer seorang anak.
“Buku tulis adalah hak seorang anak. Negara seharusnya hadir untuk memastikan hak itu terpenuhi,” ujar Rocky melalui kanal YouTube miliknya.
Rocky menyoroti ironi besar antara narasi pertumbuhan ekonomi, proyek strategis nasional, dan ambisi global Indonesia, dengan realitas pahit di akar rumput. Menurutnya, kebanggaan nasional runtuh oleh satu peristiwa kecil dengan dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Ia juga mengaitkan tragedi ini dengan melemahnya kapasitas fiskal pemerintah daerah, terutama di wilayah dengan pendapatan asli daerah rendah seperti NTT, akibat pemangkasan transfer ke daerah.
“Kita bertumbuh sebagai makhluk ekonomi, tapi tidak bertumbuh sebagai warga negara,” ujar Rocky.
Lebih jauh, Rocky menilai keputusan sang anak tidak bisa dibaca secara dangkal. Dalam rasionalitas yang tragis, anak tersebut dianggap memahami beban psikologis ibunya dan mengambil keputusan ekstrem demi meringankan penderitaan keluarga.
“Ia menahan rasa sakitnya sendiri untuk memuliakan ibunya,” katanya.
Tragedi di Ngada kini menjadi cermin bagi wajah bangsa. Bukan tentang seberapa tinggi klaim prestasi dan pertumbuhan ekonomi, melainkan seberapa dalam empati negara dan seberapa nyata keberpihakan kepada mereka yang paling lemah.
Sumber:
sindonews.com
www.fraksipkb.com
herald.id
