Katakata.id, Sijunjung – Minyak goreng bekas atau minyak jelantah selama ini kerap berakhir di tempat sampah, saluran air, bahkan langsung dibuang ke tanah. Padahal, limbah rumah tangga tersebut tidak hanya berpotensi membahayakan kesehatan dan mencemari lingkungan, tetapi juga masih bisa diolah menjadi produk yang bernilai guna.
Kesadaran itulah yang coba dibangun mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas melalui sosialisasi “Bahaya Minyak Jelantah terhadap Kesehatan dan Lingkungan serta Demonstrasi Pembuatan Sabun dari Minyak Jelantah” di Jorong Ladang Kapeh, Nagari Padang Sibusuk, Kecamatan Kupitan, Kabupaten Sijunjung.
Kegiatan tersebut diikuti masyarakat, khususnya ibu rumah tangga dan pelaku UMKM. Selain mendapatkan edukasi mengenai bahaya penggunaan minyak goreng berulang, warga juga diajak melihat langsung bagaimana minyak jelantah dapat diolah menjadi sabun cair.
Sosialisasi diawali dengan pemaparan materi oleh Muhammad Fadly Azzima, mahasiswa Jurusan Kimia Murni FMIPA Universitas Andalas. Ia menjelaskan bahwa minyak goreng yang digunakan berulang kali dapat mengalami perubahan kimia dan menghasilkan senyawa yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Penggunaan minyak jelantah secara berulang dalam jangka panjang, kata dia, dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk kolesterol tinggi, hipertensi, penyakit jantung hingga kanker.
Persoalannya tidak berhenti di meja makan. Ketika minyak jelantah dibuang sembarangan, dampaknya juga dapat dirasakan lingkungan. Minyak yang masuk ke saluran air berpotensi menyebabkan penyumbatan dan pencemaran. Sementara jika dibuang ke tanah, minyak dapat menurunkan kualitas tanah serta mencemari sumber air.
Karena itu, masyarakat didorong untuk tidak lagi melihat minyak jelantah sekadar sebagai limbah yang harus dibuang.
Pesan tersebut kemudian dipraktikkan melalui demonstrasi pembuatan sabun cair dari minyak jelantah yang dipandu Fahira Puandani dan Muhammad Fadly Azzima.
Peserta diperlihatkan tahapan pengolahan minyak jelantah yang telah dimurnikan hingga menjadi sabun cair. Proses tersebut menggunakan sejumlah bahan, di antaranya kalium hidroksida (KOH), air panas, pewarna dan pewangi.

Setiap tahapan dijelaskan secara langsung, mulai dari pencampuran bahan, pengadukan hingga proses pengemasan.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan. Peserta tidak hanya menyimak, tetapi juga aktif bertanya mengenai bahaya penggunaan minyak jelantah, teknik pengolahan menjadi sabun hingga cara mengelola limbah rumah tangga yang lebih ramah lingkungan.
Bagi mahasiswa KKN Unand, kegiatan tersebut bukan sekadar memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka cara pandang baru masyarakat bahwa limbah rumah tangga dapat dikelola menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Apalagi, jika pengelolaan tersebut dilakukan secara konsisten, minyak jelantah tidak hanya berkurang sebagai sumber pencemaran, tetapi juga berpotensi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Andalas berharap masyarakat Jorong Ladang Kapeh semakin memahami pentingnya mengelola minyak jelantah secara tepat dan mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mendorong pola hidup yang lebih sehat sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Sebab, menjaga lingkungan terkadang bisa dimulai dari hal sederhana: tidak membuang minyak jelantah sembarangan dan belajar mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna.
Pengirim: Muhammad Fadly Azzima, mahasiswa Jurusan Kimia Murni FMIPA Universitas Andalas
Editor: Rasid Ahmad
