Katakata.id, Sijunjung – Digitalisasi ekonomi dan literasi keuangan menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) di Nagari Padang Sibusuk, Kecamatan Kupitan, Kabupaten Sijunjung.
Kamis (7/8/2026), mahasiswa KKN Unand turun langsung ke tengah masyarakat dengan menjalankan dua program sekaligus. Pertama, membantu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mendapatkan fasilitas pembayaran digital QRIS. Kedua, membekali pelajar dengan pemahaman agar tidak terjebak judi online yang dikemas seolah-olah sebagai investasi.
Program tersebut menyasar dua sisi yang dinilai penting dalam membangun ekosistem digital yang sehat yakni mendorong masyarakat memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif sekaligus membentengi generasi muda dari penyalahgunaan teknologi.
Untuk mendorong UMKM lokal mengikuti perkembangan transaksi nontunai, mahasiswa KKN Unand melakukan pendampingan secara door-to-door.
Para mahasiswa membantu pelaku usaha mulai dari proses pendaftaran hingga pencetakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang dapat digunakan pelanggan untuk melakukan pembayaran secara digital.
Pendampingan tidak berhenti pada persoalan teknis. Pelaku UMKM juga diberikan pemahaman mengenai efisiensi transaksi nontunai, keamanan pembayaran serta pentingnya pencatatan keuangan usaha secara digital.
Hasilnya, sekitar 17 UMKM di Nagari Padang Sibusuk kini telah memiliki fasilitas pembayaran QRIS yang siap digunakan.
Langkah sederhana tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha memperluas pilihan pembayaran sekaligus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa menggunakan transaksi digital.
Di sisi lain, mahasiswa KKN Unand menyasar kalangan pelajar melalui sosialisasi bertajuk “Investasi Itu Bukan Judi, Sedangkan Judi Bukanlah Investasi” di SMKN 5 Sijunjung.
Isu tersebut diangkat melihat semakin maraknya promosi judi online di media sosial yang menggunakan narasi keuntungan cepat dan dikemas menyerupai instrumen investasi.
Para siswa diajak memahami perbedaan mendasar antara investasi dan perjudian. Mereka juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengenali produk keuangan yang legal serta memastikan informasi terkait instrumen investasi berasal dari sumber resmi.
PIC Pelaksana Program KKN Unand, Kevin Hadi Firdaus, mengatakan kedua program tersebut sengaja dirancang untuk berjalan beriringan.
“Lewat QRIS, kami ingin UMKM lokal di Nagari Padang Sibusuk bisa naik kelas dan tidak tertinggal arus pembayaran digital. Di sisi lain, lewat sosialisasi di sekolah, kami ingin membentengi pelajar agar memahami betul bahwa investasi itu bukan judi, sedangkan judi bukanlah investasi,” jelasnya.
Menurut Kevin, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam menggunakannya secara bijak. Digitalisasi tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga membawa risiko apabila tidak disertai literasi yang memadai.

Kegiatan di SMKN 5 Sijunjung mendapat respons positif dari pihak sekolah. Kepala SMKN 5 Sijunjung, Antonio Reinaldo, S.Pd., M.Pd, mengapresiasi mahasiswa KKN Unand yang mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
“Edukasi ini sangat penting karena anak-anak muda rentan tergiur hasil instan di internet. Kehadiran mahasiswa membuka mata para siswa tentang pentingnya bijak mengelola keuangan,” ungkapnya.
Puluhan siswa mengikuti diskusi secara antusias. Mereka juga mendapatkan poster edukasi literasi keuangan sebagai pengingat agar lebih kritis dalam menyikapi tawaran investasi maupun berbagai aktivitas keuangan di internet.
Bagi mahasiswa KKN Unand, kegiatan tersebut bukan sekadar menjalankan program kerja. Lebih dari itu, mereka ingin meninggalkan bekal yang bisa terus digunakan masyarakat setelah program KKN berakhir.
UMKM didorong semakin melek teknologi, sementara generasi muda dibekali kemampuan membedakan peluang dan jebakan. Dari Nagari Padang Sibusuk, pesan yang dibawa mahasiswa KKN Unand sederhana namun penting yakni digitalisasi harus membuka jalan menuju kemajuan, bukan menjadi pintu masuk menuju kerugian.
Penulis: Kevin Hadi Firdaus
Editor: Rasid Ahmad
