Katakata.id – Dua mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Sistem Elektronika Politeknik Caltex Riau (PCR), Muhammad Irgi Fahrezi dan Gilang Prasetya Anugrah, berhasil mengembangkan inovasi berupa sistem pendeteksi monyet berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu petani melindungi tanaman dari gangguan satwa liar.
Inovasi yang menjadi proyek tugas akhir tersebut memanfaatkan teknologi image processing dan dirancang mampu mendeteksi keberadaan monyet secara otomatis. Saat monyet memasuki area perkebunan, sistem akan memberikan peringatan dini melalui alarm sehingga petani dapat segera mengambil langkah pencegahan.
Pengembangan alat dilakukan di bawah bimbingan dosen Politeknik Caltex Riau, Putri Madona, S.S.T., M.T. Menurut tim pengembang, ide tersebut lahir dari persoalan yang selama ini dihadapi para petani, yakni sulitnya memantau area perkebunan yang luas secara terus-menerus, terutama di lokasi yang jauh dari jangkauan listrik.
Untuk menjawab tantangan itu, Irgi dan Gilang memanfaatkan teknologi image processing menggunakan platform Roboflow dan algoritma YOLOv8 yang dijalankan pada perangkat Raspberry Pi.
Sebuah kamera (webcam) dipasang untuk menangkap gambar secara real-time. Selanjutnya, citra tersebut diproses menggunakan model YOLOv8 guna mengenali objek monyet. Ketika sistem berhasil mendeteksi keberadaan satwa tersebut, alarm akan aktif secara otomatis sebagai tanda peringatan bagi pemilik kebun.
Muhammad Irgi Fahrezi mengatakan inovasi ini dirancang agar petani dapat memperoleh informasi lebih cepat ketika monyet mulai memasuki area perkebunan.
“Kami melihat masih banyak petani yang kesulitan memantau area perkebunan secara terus-menerus, terutama pada lahan yang luas. Melalui alat ini, kami ingin menghadirkan sistem pendeteksi yang mampu memberikan peringatan dini secara otomatis sehingga petani dapat bertindak lebih cepat untuk melindungi tanaman mereka,” ujar Irgi.
Tak hanya mengandalkan teknologi AI, perangkat ini juga mengusung konsep energi ramah lingkungan. Sistem dirancang menggunakan sumber daya hybrid yang dapat memanfaatkan listrik PLN maupun panel surya sehingga tetap mampu beroperasi di kawasan perkebunan yang minim akses listrik.
Menurut Gilang Prasetya Anugrah, penggunaan panel surya menjadi salah satu keunggulan alat tersebut karena menyesuaikan kondisi banyak perkebunan yang berada jauh dari jaringan listrik.
“Kami ingin alat ini tidak hanya mampu mendeteksi monyet secara real-time, tetapi juga dapat digunakan pada lokasi yang memiliki keterbatasan listrik. Karena itu, kami memanfaatkan panel surya dengan sistem hybrid agar perangkat tetap dapat beroperasi secara optimal. Harapannya, inovasi ini dapat membantu mengurangi kerusakan tanaman sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi modern di sektor pertanian,” jelasnya.
Dosen pembimbing Putri Madona menilai karya mahasiswa tersebut menjadi contoh nyata penerapan kecerdasan buatan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, di Provinsi Riau masih banyak kawasan perkebunan yang berbatasan langsung dengan habitat satwa liar sehingga konflik antara manusia dan satwa masih sering terjadi.
“Melalui tugas akhir ini, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan, tetapi juga menghasilkan solusi yang menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Kami berharap inovasi seperti ini dapat terus disempurnakan, tidak hanya membantu petani mendeteksi keberadaan monyet lebih dini, tetapi juga menjadi dasar pengembangan teknologi pemantauan satwa liar yang lebih cerdas dan ramah lingkungan,” ungkap Putri Madona.
Pengembangan alat tersebut memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat bulan, mulai dari identifikasi kebutuhan, pengumpulan data, pelatihan model YOLOv8, integrasi perangkat keras, hingga tahap pengujian sistem.
Ke depan, Irgi dan Gilang berharap inovasi ini dapat menjadi referensi bagi mahasiswa maupun peneliti lain untuk mengembangkan teknologi serupa. Mereka juga mengusulkan penambahan fitur object tracking agar sistem mampu mengikuti pergerakan monyet secara otomatis serta mengurangi deteksi berulang terhadap objek yang sama.
Selain itu, integrasi dengan sensor pendukung seperti sensor gerak dan sensor cahaya dinilai akan semakin meningkatkan akurasi dan efisiensi sistem sesuai kondisi lingkungan.
Melalui inovasi tersebut, kedua mahasiswa berharap penerapan teknologi berbasis Artificial Intelligence semakin luas di sektor pertanian, tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas hasil panen, tetapi juga menghadirkan solusi inovatif yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.(RLS/RSD)
