Katakata.id, Sijunjung – Pemupukan tak lagi harus identik dengan aktivitas membungkuk berulang kali dan menguras tenaga. Di Nagari Padang Sibusuk, Kecamatan Kupitan, Kabupaten Sijunjung, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) menghadirkan inovasi sederhana yang dirancang untuk membuat pekerjaan petani lebih cepat, nyaman, dan efisien.
Melalui program teknologi tepat guna, Tim KKN Unand memperkenalkan Alat Penabur Pupuk Ekonomis dan Ergonomis yang dirancang khusus untuk menjawab persoalan yang selama ini dihadapi petani setempat.
Inovasi tersebut lahir dari kondisi di lapangan. Selama ini, mayoritas petani masih melakukan pemupukan secara manual dengan cara membungkuk berulang kali sambil menaburkan pupuk menggunakan tangan. Cara tersebut membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar, terutama ketika harus mengerjakan lahan yang luas.
Tak hanya soal efisiensi, metode manual juga berpotensi menimbulkan keluhan fisik seperti nyeri pinggang atau low back pain. Kontak langsung dengan pupuk juga dapat meningkatkan risiko iritasi pada kulit.
Melihat persoalan tersebut, mahasiswa KKN Unand mencoba menghadirkan solusi yang sederhana tetapi langsung menyentuh kebutuhan petani.
Alat penabur pupuk tersebut dibuat menggunakan bahan yang mudah diperoleh dan relatif terjangkau. Dari sisi penggunaan, alat dirancang mengikuti postur tubuh manusia sehingga petani dapat melakukan pemupukan dalam posisi berdiri tanpa harus terus-menerus membungkuk.
Tak hanya membuat pekerjaan lebih nyaman, alat tersebut juga membantu menaburkan pupuk secara lebih merata dan terarah di sekitar akar tanaman. Dengan demikian, penggunaan pupuk diharapkan menjadi lebih efisien sekaligus mengurangi pemborosan.
PIC Pelaksana Program KKN Unand, Fauzan Ahmad Riadi, mengatakan gagasan pembuatan alat tersebut berawal dari keluhan para petani yang ditemui mahasiswa saat melakukan survei awal di lapangan.
“Kami ingin memberikan solusi konkret yang langsung terasa manfaatnya. Alat penabur pupuk ini kami buat agar ramah di kantong petani dan mudah dirawat,” jelas Fauzan.
Menurutnya, aspek ergonomi menjadi salah satu perhatian utama dalam perancangan alat. Dengan posisi kerja yang lebih tegak, beban fisik petani dapat dikurangi sehingga mereka tidak mudah lelah ketika melakukan pemupukan dalam waktu lama.
Respons positif pun datang dari kelompok tani dan masyarakat Nagari Padang Sibusuk. Para petani menilai inovasi tersebut dapat membantu mempercepat pekerjaan sekaligus membuat proses pemupukan menjadi lebih ringan.
“Biasanya kalau memupuk ladang seharian, pinggang terasa pegal sekali karena harus membungkuk terus. Dengan alat dari mahasiswa Unand ini, kerja jadi lebih cepat, tidak capek, dan pupuknya juga tidak boros,” ujar salah seorang petani.
Tak berhenti pada pembuatan alat, mahasiswa KKN Unand juga melakukan demonstrasi penggunaan sekaligus menyerahkan unit alat kepada pengurus jorong dan kelompok tani setempat.
Agar inovasi tersebut dapat terus dikembangkan, mahasiswa juga membagikan panduan teknis pembuatan alat. Dengan begitu, petani maupun masyarakat setempat memiliki kesempatan untuk membuat dan memodifikasi alat secara mandiri sesuai kebutuhan di lapangan.
Bagi Tim KKN Unand, program ini bukan sekadar menghadirkan sebuah alat. Lebih jauh, inovasi tersebut menjadi upaya mendorong pertanian lokal agar perlahan beralih dari cara kerja konvensional menuju praktik yang lebih efisien dan ramah terhadap kondisi fisik petani.
Dari alat sederhana, mahasiswa KKN Unand ingin menghadirkan perubahan nyata: pemupukan lebih cepat, tenaga lebih hemat, petani lebih nyaman, dan produktivitas pertanian Padang Sibusuk semakin meningkat.
Penulis: Fauzan Ahmad Riadi
Editor: Rasid Ahmad
