Katakata.id – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyambut positif pembentukan kabinet bayangan yang digagas sejumlah akademisi dan pakar hukum, termasuk Feri Amsari. Menurutnya, kehadiran kabinet bayangan merupakan bentuk kreativitas dan partisipasi publik dalam mengawal jalannya pemerintahan melalui kritik yang konstruktif.
Hal itu disampaikan Mahfud MD dalam sebuah dialog bersama pakar hukum tata negara Feri Amsari. Dalam perbincangan tersebut, keduanya membahas pentingnya pengawasan terhadap pemerintah dalam sistem demokrasi.
Feri Amsari menjelaskan, pembentukan kabinet bayangan berangkat dari kegelisahan terhadap praktik penyelenggaraan pemerintahan yang dinilai mulai menjauh dari semangat sistem presidensial dan cenderung memiliki nuansa parlementer.
Menurutnya, kabinet bayangan bukan dibentuk untuk menjadi tandingan pemerintah atau menjatuhkan Presiden, melainkan sebagai wadah pengawasan yang berbasis data, fakta, dan argumentasi akademis.
“Tujuan kami bukan menjatuhkan Presiden. Kami ingin pemerintah bekerja lebih baik untuk kepentingan rakyat,” ujar Feri.
Ia mengatakan kabinet bayangan akan berperan memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah sekaligus menawarkan alternatif solusi yang dapat menjadi bahan pertimbangan publik.
Dengan demikian, masyarakat dapat membandingkan kualitas gagasan maupun program antara menteri di pemerintahan dengan para anggota kabinet bayangan yang berasal dari kalangan profesional dan akademisi sesuai bidang keahliannya.
Selain menjalankan fungsi pengawasan, Feri menyebut gerakan tersebut juga menjadi bentuk perlawanan terhadap praktik kekuasaan yang dinilai mulai menunjukkan sikap arogan.
“Gerakan ini ingin menunjukkan bahwa kabinet semestinya diisi oleh orang-orang yang benar-benar ahli di bidangnya dan mampu mempertanggungjawabkan gagasannya kepada publik,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Mahfud MD mengaku senang melihat munculnya inisiatif dari generasi muda yang dinilainya kreatif, kritis, dan berani mengambil peran dalam kehidupan demokrasi.
Menurut Mahfud, demokrasi membutuhkan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik secara terbuka selama dilakukan berdasarkan fakta dan bertujuan memperbaiki penyelenggaraan negara.
“Saya senang melihat anak-anak muda yang kreatif, idealis, dan berani tampil sebagai figur publik. Hal yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula,” ujarnya.
Mahfud juga mendukung semangat melawan kesombongan dalam kekuasaan. Menurutnya, sikap arogan tidak boleh dibiarkan karena dapat melemahkan kualitas demokrasi dan tata kelola pemerintahan.
“Kalau orang sombong tidak dihadapi dengan ketegasan, dia akan terus bersikap demikian,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Mahfud turut mengulas pemikirannya mengenai hubungan antara hukum dan politik yang selama ini menjadi dasar buku monumentalnya, Politik Hukum.
Ia menjelaskan bahwa hukum dan politik merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam penyelenggaraan negara.
“Hukum adalah tulangnya, sedangkan politik adalah dagingnya,” ungkap Mahfud.
Menurutnya, pemahaman terhadap politik hukum menjadi penting untuk menilai arah kebijakan suatu pemerintahan, apakah bergerak menuju demokrasi yang sehat atau justru mengarah pada praktik yang lebih otoriter.
Diskusi berlangsung dalam suasana santai namun sarat gagasan. Di penghujung perbincangan, Mahfud dan Feri bahkan sempat berbincang ringan mengenai kuliner Nusantara, mulai dari sate Madura hingga sate Padang, sebagai simbol keberagaman Indonesia.
Meski demikian, pesan utama yang mengemuka dari dialog tersebut adalah pentingnya menjaga ruang kritik dalam demokrasi. Bagi Mahfud MD dan Feri Amsari, kehadiran kabinet bayangan merupakan salah satu cara agar pemerintah tetap berada dalam koridor konstitusi, lebih terbuka terhadap evaluasi, dan semakin berpihak pada kepentingan rakyat.
Editor: Rasid Ahmad
Sumber: Mahfud MD Official
