Katakata.id – Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD bersama Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada Dr. Ari Sujito menyoroti berbagai tantangan yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari dinamika gerakan mahasiswa, kebebasan akademik, hingga menurunnya kualitas demokrasi dan arah pembangunan desa.
Dalam dialog yang membahas kondisi sosial-politik nasional, keduanya sepakat bahwa perguruan tinggi tetap memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar kritis dan ruang lahirnya gagasan untuk memperkuat demokrasi.
Ari Sujito menilai gerakan mahasiswa saat ini memang berbeda dengan era Reformasi 1998. Jika dahulu kritik terhadap pemerintah dihadapkan pada situasi yang lebih represif, kini mahasiswa hidup di tengah arus informasi yang jauh lebih terbuka.
Meski demikian, menurutnya, perubahan cara menyampaikan aspirasi tidak mengurangi pentingnya peran mahasiswa sebagai kekuatan moral yang kritis terhadap berbagai kebijakan publik.
Ia menegaskan, demokrasi yang sehat justru membutuhkan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dan gagasan tanpa intimidasi maupun pembungkaman.
Selain membahas gerakan mahasiswa, dialog juga menyoroti tantangan yang dihadapi perguruan tinggi.
Ari Sujito mengakui kampus saat ini menghadapi tekanan pendanaan serta meningkatnya beban ekonomi. Namun, kondisi tersebut tidak boleh mengorbankan kebebasan akademik yang menjadi ruh perguruan tinggi.
Sementara itu, Mahfud MD menekankan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik.
Menurutnya, kampus harus melahirkan “sarjana yang sujana”, yakni lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, kepekaan sosial, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
Dalam dialog tersebut, Mahfud MD dan Ari Sujito juga menyoroti kualitas demokrasi Indonesia yang dinilai mengalami kemunduran atau regresi demokrasi.
Mereka menyinggung munculnya berbagai gejala seperti menguatnya oligarki, kecenderungan militerisasi kembali dalam ruang sipil, hingga semakin sempitnya ruang diskusi publik yang sehat.
Kondisi tersebut dinilai berdampak pada menurunnya kualitas partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi.
Menurut Ari Sujito, partisipasi publik kini lebih banyak bersifat formalitas karena adanya jarak antara elite politik dengan kebutuhan nyata masyarakat di akar rumput.
Isu pembangunan desa juga menjadi perhatian dalam dialog tersebut.
Ari Sujito mengkritik pendekatan pembangunan yang masih bersifat top-down, yakni kebijakan yang lebih banyak ditentukan dari pemerintah pusat tanpa berangkat dari kebutuhan riil masyarakat desa.
Sebagai contoh, ia menyinggung program Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai belum sepenuhnya lahir dari kebutuhan warga, melainkan lebih menyerupai proyek pemerintah.
Menurutnya, pembangunan desa akan lebih efektif apabila dirancang secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat sebagai subjek utama, bukan sekadar penerima program.
Melalui dialog tersebut, Mahfud MD dan Ari Sujito menegaskan bahwa penguatan demokrasi, kebebasan akademik, serta pembangunan yang berpihak pada masyarakat merupakan fondasi penting untuk menjaga kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara.
Editor: Rasid Ahmad || Sumber: Youtube Mahfud MD Official
