Katakata.id – Prestasi atlet penyandang disabilitas tidak lahir dari keterbatasan yang diabaikan, melainkan dari kesempatan yang dibuka. Pesan itulah yang mengemuka dalam kunjungan Staf Kepresidenan Republik Indonesia (KSP) ke Provinsi Riau dalam agenda bertema “Berjuang Bersama Ukir Prestasi”.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi pelaksanaan sejumlah program prioritas Presiden sekaligus membahas masa depan pembinaan atlet National Paralympic Committee (NPC) Riau. Persoalan olahraga disabilitas tidak hanya dilihat dari perolehan medali, tetapi juga dari sejauh mana pemerintah mampu menyediakan ruang yang setara bagi penyandang disabilitas untuk berkembang, mandiri, dan berprestasi.
Rombongan KSP dipimpin Pelaksana Tugas Deputi III Kepala Staf Kepresidenan, Dr. Yan Hiksas, S.E., M.Si. Turut hadir Tenaga Ahli Utama KSP, Lindsey Afsari, S.T., M.I.Kom., Tenaga Ahli Madya KSP Drs. M. Udyiana Mulyadin, M.Pd., serta Tenaga Ahli KSP Drs. Hakimah Zakaria.
Selain pembinaan atlet, pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda strategis pemerintah, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, hingga pembangunan kepemudaan dan olahraga.
Yan Hiksas mengatakan pembangunan sumber daya manusia tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan dasar. Setiap warga negara, termasuk penyandang disabilitas, harus memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Dalam konteks olahraga, kata dia, perjuangan atlet penyandang disabilitas memiliki arti yang lebih luas. Ketika seorang atlet Indonesia tampil di arena internasional, prestasi yang diraih bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi atau daerah, tetapi juga membawa nama Indonesia dan Merah Putih ke panggung dunia.
Karena itu, pembinaan atlet tidak bisa dilakukan secara instan. Dukungan harus diberikan secara konsisten melalui peningkatan kualitas latihan, sarana dan prasarana, kompetisi, serta berbagai kebutuhan lain yang menunjang perkembangan atlet.
Tantangannya bukan sekadar bagaimana mencetak juara, tetapi bagaimana memastikan atlet memiliki jalan yang cukup untuk menjadi juara.
KSP juga menyoroti pentingnya memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas di luar arena olahraga. Kesetaraan akses terhadap pekerjaan, pemberdayaan ekonomi, fasilitas publik, serta ruang partisipasi sosial dinilai menjadi bagian penting dari pembangunan yang inklusif.
Dengan demikian, pembinaan atlet disabilitas tidak semestinya berhenti ketika pertandingan selesai. Prestasi olahraga harus dapat menjadi pintu masuk bagi terbukanya kesempatan yang lebih luas, termasuk kemandirian ekonomi dan kehidupan sosial yang lebih setara.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Riau, Yurnalis, S.Sos., M.Si., mengatakan Pemerintah Provinsi Riau terus mendukung program pemerintah pusat, khususnya dalam sektor kepemudaan dan olahraga.
“Dorongan Pemprov untuk program Presiden terus berjalan dengan baik, termasuk pembinaan para atlet, terkhusus NPC,” ujar Yurnalis.
Menurutnya, pembinaan atlet membutuhkan proses panjang dan tidak dapat mengandalkan hasil secara instan. Peningkatan kemampuan, ketersediaan fasilitas, hingga kesempatan mengikuti kompetisi harus berjalan secara berkelanjutan.
Karena itu, sinergi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Riau, dan organisasi olahraga menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pembinaan atlet NPC Riau.
NPC Riau: Dukungan Ada, Tetapi Masih Harus Dikembangkan
Ketua NPC Riau, Indra Warman mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap pembinaan atlet penyandang disabilitas. Menurutnya, dukungan yang diberikan selama ini pada prinsipnya sudah memadai, tetapi masih terdapat sejumlah aspek yang perlu dikembangkan.
“Pada prinsipnya, apresiasi dan dukungan yang diberikan sudah memadai. Namun, perlu kami sampaikan masih banyak yang mesti dikembangkan untuk pertumbuhan atlet ke depan dalam mencapai prestasi,” kata Indra.
Indra juga memaparkan perkembangan atlet NPC Riau yang tengah berkompetisi di berbagai ajang, termasuk tingkat internasional dan Asia. Sejumlah cabang olahraga, seperti bulu tangkis dan sepak bola sifil, menjadi bagian dari perjuangan atlet Riau membawa nama daerah sekaligus Indonesia.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa prestasi membutuhkan lebih dari sekadar bakat. Latihan yang konsisten, fasilitas yang memadai, peningkatan kemampuan, serta pengalaman bertanding menjadi mata rantai yang menentukan perkembangan seorang atlet.
Namun, bagi NPC Riau, ukuran keberhasilan tidak semata-mata terletak pada jumlah medali.
Olahraga juga menjadi ruang pembuktian bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan untuk berkarya, mandiri dan berkontribusi. Dari arena pertandingan, mereka tidak hanya mengejar podium, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan membuka perspektif masyarakat tentang kemampuan penyandang disabilitas.
Keterbatasan fisik bukan berarti keterbatasan untuk berprestasi. Yang sering kali dibutuhkan justru kesempatan, dukungan, dan ruang yang setara.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan dialog dan tanya jawab mengenai perkembangan serta masa depan NPC Riau. Sesi tersebut dipandu Tenaga Ahli Utama KSP, Lindsey Afsari.
Dari pertemuan itu, satu pesan mengemuka yaitu pembinaan atlet disabilitas tidak boleh berhenti pada seremoni dan target medali. Ia membutuhkan kebijakan yang konsisten, dukungan lintas lembaga, fasilitas yang memadai, serta komitmen membuka kesempatan yang lebih luas.
Sebab pada akhirnya, prestasi tidak hanya lahir dari siapa yang paling kuat bertanding, tetapi juga dari seberapa besar negara membuka jalan bagi setiap warganya untuk menunjukkan kemampuan.(RLS)
