Katakata.id – Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil langkah tegas terkait situasi di Lebanon yang masih dilanda konflik. Ia menilai keselamatan pasukan penjaga perdamaian, termasuk prajurit Indonesia, harus menjadi prioritas utama.
Melalui pernyataan di akun X pribadinya, SBY meminta agar PBB, khususnya di New York, segera menghentikan penugasan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di area berbahaya atau memindahkan lokasi penugasan ke luar medan pertempuran aktif.
“Seharusnya PBB segera mengambil keputusan dan langkah tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL atau memindahkan mereka dari medan pertempuran yang masih membara,” tegasnya, Senin (6/4/2026).
SBY juga mendorong Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar sidang dan mengeluarkan resolusi yang jelas dan tegas. Ia menekankan bahwa PBB tidak boleh bersikap pilih kasih atau menggunakan standar ganda dalam menyikapi konflik.
Mengulas pengalamannya, SBY mengingat saat menjabat sebagai Menkopolkam RI pada tahun 2000, ia menghadiri sidang Dewan Keamanan PBB menyusul insiden di Atambua, Nusa Tenggara Timur, yang menewaskan tiga petugas kemanusiaan PBB. Menurutnya, respons cepat saat itu seharusnya menjadi standar dalam setiap konflik.
SBY juga menyatakan dukungan moral terhadap langkah Prabowo Subianto dalam memperjuangkan keadilan bagi prajurit TNI yang menjadi korban dalam konflik di Lebanon. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral, mengingat perannya dahulu dalam menginisiasi pengiriman pasukan Indonesia ke misi perdamaian PBB di wilayah tersebut.
Ia kemudian mengenang kembali konflik antara Israel dan Lebanon pada Agustus 2006. Saat itu, korban sipil berjatuhan, sementara Dewan Keamanan PBB dinilai belum bertindak efektif menghentikan perang.
Dalam upaya mendorong aksi internasional, SBY mengusulkan kepada Perdana Menteri Malaysia saat itu, Abdullah Ahmad Badawi, untuk menggelar pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Pertemuan tersebut kemudian terlaksana di Kuala Lumpur dan dihadiri sejumlah pemimpin dunia, termasuk Mahmoud Ahmadinejad, Recep Tayyip Erdoğan, serta Perdana Menteri Lebanon saat itu, Fouad Siniora.
Dalam forum itu, Indonesia menyatakan kesiapan mengirimkan satu batalyon pasukan untuk mendukung misi penjaga perdamaian PBB setelah tercapai gencatan senjata. Untuk memenuhi kebutuhan operasional, SBY bahkan menghubungi Presiden Prancis saat itu, Jacques Chirac, guna pengadaan kendaraan tempur VAB melalui skema kerja sama antarpemerintah (G to G).
Hasilnya, pada November 2006, Kontingen Garuda XXIII/A berhasil diberangkatkan ke Lebanon. Hingga kini, Indonesia telah mengirimkan puluhan kontingen dalam misi PBB tersebut, menjadikannya salah satu penugasan terlama yang diemban TNI di bawah mandat internasional.
Menutup pernyataannya, SBY memberikan pesan khusus kepada prajurit TNI yang masih bertugas di Lebanon agar tetap semangat dan menjaga diri.
“Laksanakan tugas sebaik-baiknya dan jaga diri. Keluarga di Tanah Air menanti kepulangan kalian,” pungkasnya.(RSD)
