Katakata.id – Partai politik memiliki posisi penting dalam sistem demokrasi, baik sebagai wadah artikulasi kepentingan masyarakat maupun sebagai salah satu aktor utama dalam proses pengambilan keputusan publik.
Namun, hasil survei nasional Poltracking Indonesia menunjukkan masih terdapat jarak antara keberadaan partai politik dalam sistem demokrasi dengan tingkat pengetahuan dan keterhubungan publik terhadap partai.
Dalam survei bertajuk “Membaca Peta Elektoral & Dinamika Partai Politik” yang dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 terhadap 1.220 responden di 38 provinsi, Poltracking mengukur sejumlah aspek, mulai dari elektabilitas partai, tingkat kepercayaan dan kedekatan publik, hingga persepsi masyarakat terhadap partai politik. Survei menggunakan metode stratified multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,9 persen.
Salah satu temuan survei adalah masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai parliamentary threshold atau ambang batas parlemen.
Peneliti Poltracking Indonesia, Yoki Alvetro, mengatakan sebanyak 64,7 persen publik mengaku tidak mengetahui bahwa salah satu syarat sebuah partai politik dapat memperoleh kursi di DPR RI adalah memenuhi ambang batas parlemen sebesar 4 persen.
Sementara itu, hanya 17,7 persen responden yang mengatakan mengetahui ketentuan tersebut.
“Sebanyak 64,7 persen publik tidak mengetahui ambang batas parlemen atau syarat sebuah partai politik lolos ke DPR RI harus mendapat suara minimal 4 persen, sedangkan 17,7 persen mengatakan tahu,” kata Yoki, Rabu (23/9/2026).
Menariknya, ketika pertanyaan hanya diajukan kepada responden yang mengetahui ambang batas tersebut, 49 persen menilai angka 4 persen tetap menjadi ambang yang tepat. Sebanyak 14,8 persen memilih ambang batas di atas 7 persen, sedangkan 7,6 persen memilih angka 6 persen.
Survei juga mengukur sejauh mana dukungan partai politik terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden memengaruhi pilihan masyarakat.
Hasilnya, 44,6 persen responden mengatakan dukungan partai politik terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden tidak memengaruhi pilihan mereka terhadap partai politik. Sebaliknya, 32,8 persen mengatakan dukungan tersebut memengaruhi pilihan mereka.
Pola yang hampir sama terlihat ketika responden ditanya mengenai pilihan terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Sebanyak 44,5 persen mengatakan dukungan partai politik tidak memengaruhi pilihan mereka terhadap pasangan calon, sementara 33 persen menyatakan dukungan partai memengaruhi pilihan tersebut.
Temuan lainnya menunjukkan persoalan kedekatan antara pemilih dan wakilnya di parlemen.
Sebanyak 57,6 persen responden mengaku tidak tahu atau tidak mengenal anggota DPR RI yang mewakili daerah mereka. Hanya 26,2 persen yang menyatakan tahu atau mengenal wakilnya di DPR RI.
Dalam pertanyaan terbuka mengenai asosiasi terhadap partai politik, nama tokoh dan simbol tertentu masih cukup kuat muncul dalam ingatan publik.
Ketika mendengar PKB, sebanyak 6,1 persen responden menyebut Nahdlatul Ulama, disusul Muhaimin Iskandar sebesar 5,8 persen dan Gus Dur 5,4 persen.
Sementara ketika mendengar Gerindra, nama Prabowo Subianto menjadi asosiasi yang paling banyak muncul, yakni 26,1 persen. Berikutnya adalah lambang Garuda sebesar 3,5 persen dan kata “Presiden” sebesar 0,8 persen.
Untuk PDI Perjuangan, nama Megawati Soekarnoputri disebut 17 persen responden. Setelah itu muncul lambang banteng sebesar 8 persen dan Puan Maharani 2,4 persen.
Pada Partai Golkar, lambang pohon beringin menjadi asosiasi yang paling banyak disebut, yakni 6,4 persen. Berikutnya Bahlil Lahadalia 4,9 persen dan warna kuning 3,5 persen.
Sementara untuk NasDem, nama Surya Paloh muncul pada 11 persen responden, disusul warna biru 1,8 persen dan Anies Baswedan 1,1 persen.
Pada PKS, kata “agamis” menjadi asosiasi yang paling banyak disebut, yakni 3,2 persen. Kemudian Anies Baswedan 0,6 persen serta sejumlah asosiasi lain seperti kesejahteraan, lambang padi dan kapas, serta warna oranye, masing-masing 0,4 persen.
Untuk PAN, nama Zulkifli Hasan disebut 2,8 persen, diikuti asosiasi artis sebesar 2,6 persen dan warna biru 1,7 persen.
Sedangkan pada Partai Demokrat, nama Susilo Bambang Yudhoyono menjadi asosiasi yang paling banyak muncul, yakni 16 persen. Berikutnya Agus Harimurti Yudhoyono sebesar 7,3 persen, serta demokrasi dan warna biru masing-masing 0,8 persen.
Temuan tersebut menunjukkan sejumlah dimensi dalam relasi masyarakat dengan partai politik yakni pengetahuan mengenai sistem pemilu, keterhubungan dengan wakil politik, pengaruh dukungan partai terhadap pilihan politik, hingga asosiasi publik terhadap partai.
Poltracking menegaskan survei tersebut merupakan gambaran persepsi dan preferensi publik berdasarkan pengumpulan data pada 14–20 Agustus 2026. Karena itu, hasilnya merepresentasikan kondisi pada periode survei dan dapat berubah seiring perkembangan isu maupun dinamika politik berikutnya. (Rasid Ahmad)
