Katakata.id – Peta elektabilitas partai politik kembali dipotret Poltracking Indonesia melalui survei nasional yang dilakukan pada pertengahan Agustus 2026. Dalam simulasi surat suara 18 partai politik, sejumlah partai tercatat memperoleh tingkat elektabilitas yang berbeda, dengan Gerindra berada pada angka 23,2 persen, disusul PDI Perjuangan 11,6 persen dan Golkar 10,4 persen.
Peneliti Poltracking Indonesia, Yoki Alvetro, mengatakan simulasi tersebut menggambarkan preferensi publik terhadap partai politik berdasarkan kondisi ketika survei dilakukan.
“Pada simulasi surat suara 18 partai politik, Partai Gerindra memperoleh elektabilitas 23,2 persen, diikuti PDI Perjuangan 11,6 persen, dan Partai Golkar 10,4 persen,” kata Yoki, sebagaimana dikutip dari rilis Poltracking, Rabu (23/9/2026).
Dalam simulasi yang sama, PKB memperoleh 6,2 persen, Partai Demokrat 6,1 persen, NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen, PKS 3,3 persen, PSI 2,3 persen, dan PPP 1,9 persen. Sementara partai politik lainnya berada di bawah 1 persen.
Poltracking juga mencatat adanya perubahan tren elektabilitas sejumlah partai.
Menurut Yoki, Gerindra, PDI Perjuangan, dan PKB cenderung mengalami sedikit penurunan. Sementara Golkar dan Demokrat disebut cenderung stabil.
“Tren elektabilitas partai politik, Gerindra, PDI Perjuangan, dan PKB cenderung mengalami sedikit penurunan, sedangkan Golkar dan Demokrat cenderung stabil,” ujar Yoki.
Perubahan juga terlihat pada kelompok partai lainnya. NasDem dan PKS disebut mengalami kecenderungan sedikit menurun, sedangkan PAN, PSI, dan PPP cenderung stabil.
Temuan ini menunjukkan bahwa angka elektabilitas dalam survei bukanlah angka yang bersifat permanen. Poltracking menegaskan hasil tersebut merupakan potret persepsi publik pada pertengahan Agustus 2026 dan masih dapat berubah mengikuti perkembangan isu maupun langkah strategis masing-masing partai.
Yang menarik, Poltracking tidak hanya mengukur partai mana yang dipilih, tetapi juga mencoba melihat alasan di balik pilihan tersebut. Hasil survei menunjukkan faktor lingkungan terdekat masih memainkan peran.
Sebanyak 8,8 persen responden menyebut memilih partai yang sama dengan keluarganya sebagai salah satu alasan. Berikutnya, 6,8 persen menyatakan menyukai pimpinan partai, sementara 5,9 persen memilih karena menilai kinerja kader partai tersebut baik.
Temuan ini memperlihatkan bahwa preferensi terhadap partai tidak hanya terbentuk dari pertimbangan program atau kebijakan, tetapi juga dapat berkaitan dengan relasi sosial dan persepsi terhadap figur yang berada di dalam partai.
Keluarga menjadi salah satu lingkungan sosial pertama tempat seseorang mengenal pilihan politik. Di sisi lain, figur pimpinan dan pengalaman masyarakat terhadap kinerja kader juga menjadi bagian dari pertimbangan ketika menentukan pilihan.
Jika angka elektabilitas dibaca bersama temuan lain dalam survei yang sama, terlihat bahwa hubungan publik dengan partai politik memiliki sejumlah lapisan.
Poltracking mencatat 49,7 persen publik masih menyatakan percaya terhadap keberadaan partai politik, tetapi hanya 12,3 persen yang merasa dekat dengan partai politik. Sebaliknya, 66,8 persen menyatakan tidak merasa dekat. Pada pemilihan legislatif, publik juga lebih banyak menyatakan cenderung memilih calon legislatif secara individual dibandingkan memilih partai, masing-masing 53,3 persen dan 24,7 persen.
Dengan demikian, elektabilitas partai tidak berdiri sendiri. Di balik angka dukungan tersebut terdapat persoalan yang lebih luas mengenai kedekatan, kepercayaan, figur, keluarga, serta pengalaman publik terhadap kinerja kader partai.
Survei Poltracking sendiri dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi. Pengambilan sampel menggunakan metode stratified multistage random sampling, dengan margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Bagi partai politik, angka-angka tersebut bukan hanya soal posisi elektoral, tetapi juga menjadi gambaran tentang bagaimana publik mengenali, menilai, dan membangun hubungan dengan mereka.
Dan di tengah dinamika politik yang terus bergerak, satu hal menjadi jelas yakni dukungan publik tidak hanya dibentuk oleh nama partai, tetapi juga oleh keluarga, figur, serta pengalaman masyarakat terhadap orang-orang yang bekerja membawa nama partai tersebut.(Rasid Ahmad)
