Katakata.id – Program Studi Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) menggelar International Class bertema “Migration: long term impact on ethnic relation in the mallaca peninsula” di Ruangan Akustik Gedung Timah I, Kamis (28/8/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari perkuliahan internasional hasil kerja sama Eurasia Foundation dengan Jurusan Ilmu Politik UBB. Puluhan peserta yang merupakan mahasiswa prodi Ilmu Politik dari semester 3 ini tampak antusias dan serius mengikuti International Class di pertemuan yang kedua pada perkuliahan Semester Gasal tahun ajaran 2025-2026.
Drs. Akhmad Elvian DPMP CECH hadir menjadi pemateri yang mengusung konsep “Sejarah dan Budaya Bangka Belitung Tetap Ada” Sejarah migrasi masyarakat Bangka Belitung terdiri dari tiga migrasi. Migrasi awal dikenal dengan orang darat dan orang laut. Orang darat atau orang gunung merupakan masyarakat dari gelombang kedua persebaran bangsa austronesia atau dikenal deutro melayu (melayu muda). Orang laut merupakan penduduk asli bangka atau dikenal dengan sekak pengembara laut.
Drs Akhmad Elvian atau dikenal Dato juga menegaskan bahwa etnik group yang migrasi ke Bangka Belitung adalah etnik cina. Secara resmi orang cina didatangkan secara langsung oleh Sultan Mahmud Badaruddin 1 dengan tujuan untuk mempekerjakan orang cina sebagai penambang cina. Tujuannya jelas untuk meningkatkan produksi timah di Bangka berasal dari semenanjung malaka, vietnam, laos, kamboja dan pattani. Orang cina menyebut bangka dengan “Pangka-To” yang berarti pulau. Dalam penambangan timah terdapat juga sebagian orang hakka yang bekerja secara kontrak. Mereka menyebut pulau bangka dengan sebutan “Mong-Kap-San”. Wilayah mong-kap-san terdiri dari delapan wilayah yang disebut “pat-kong-mun”, yaitu 1. Buntu yang menyatakan wilayah muntok, 2. Nampong yang menyatakan jebus, 3. Bli-Jong yang menyatakan wilayah belinyu, 4. Liet-kong yang menyatakan sungai liat, 5. Liu-sak yabg menyatakan batu rusa atau merawang, 6. pin-kong yang menyatakan wilayah pangkal pinang, 7. komuk yang menyatakan wilayah koba dan 8. Sabang yang menyatakan toboali.
Migrasi terakhir di pulau Bangka adalah orang melayu yang berasal dari Johor, Semenanjung malaka, dan Siantan. Kedatangan orang melayu ke pulau Bangka juga menyebabkan terjadinya akulturasi dan asimilasi antara orang melayu dengan orang darat dan orag laut pribumi bangka serta dengan orang cina. Asimilasi dan Akulturasi menyebabkan terjadinya pembentukan budaya baru dan keberagaman budaya di pulau Bangka. Selain migrasi panjang, terdapat juga migrasi pendek yang dilakukan oleh orang Bugis dan Bone Sulawesi yang berbondong datang ke pulau Bangka Belitung. Kedatangan orang sulawesi di pimpin oleh Sultan Anom Alimuddin yang membangun kekuasan di Koba dengan 5.000 dan 130 kapal pendukung dari masyarakat Bugis dan bone. Tujuannya ingin menguasai pulau bangka. Akan tetapi, hal itu tidak bertahan lama ketika sultan mahmud badaruddin 1 memerintah VOC untuk mengusir rombongan masyarakat bugis dan bone.
Seminar ini menegaskan bahwa sejarah Bangka Belitung bukan sekadar warisan budaya, melainkan hal yang harus dikenang dan selalu diingat. “Pulau Bangka Belitung terbuka untuk siapapun yang mau tinggal disini. Mereka bebas tinggal dan mengakui bahwa mereka putra/putri asli bangka belitung asalkan tidak merusak adat dan istiadat dari masyarakat Bangka Belitung itu sendiri,” ujar Dr. Iskandar.
Melalui International Class ini, Prodi Ilmu Politik FISIP UBB menegaskan komitmennya untuk memperkaya wawasan mahasiswa sekaligus mengangkat kearifan lokal ke dalam wacana akademik internasional. UBB percaya, dari Bangka Belitung, identitas lokal dapat memberi kontribusi nyata bagi pemahaman politik global.(Rls)
