Katakata.id – Perhatian dunia Islam tertuju ke Jeddah, Arab Saudi, saat Konferensi Tingkat Menteri (KTM) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) resmi digelar, Rabu (26/8/2026). Pertemuan yang berlangsung hingga 27 Agustus 2026 itu membawa sejumlah agenda penting, salah satunya menentukan Sekretaris Jenderal (Sekjen) OKI untuk periode 2026–2031.
Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat sorotan dalam forum tersebut. Delegasi Republik Indonesia dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, dengan membawa dua agenda strategis, yakni memperkuat perjuangan diplomasi untuk kemerdekaan Palestina sekaligus ikut menentukan arah kepemimpinan baru organisasi negara-negara Islam tersebut.
Ketua DPD Partai Gelora Kota Pekanbaru, Ade Faizal, SH, menilai momentum pertemuan di Jeddah merupakan kesempatan penting bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar di OKI.
Menurutnya, posisi Indonesia cukup strategis jika melihat komposisi dan mekanisme rotasi geografis kepemimpinan OKI.
“Berdasarkan sistem rotasi geografis OKI, setelah periode Afrika selesai, kini giliran Grup Asia atau Grup Arab yang memimpin. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan rekam jejak diplomasi yang konsisten, Indonesia berada di posisi paling strategis,” ujar Ade Faizal di Pekanbaru, Rabu (26/8/2026).
Ade menilai kepemimpinan Indonesia di OKI bukan sekadar persoalan prestise diplomatik. Jika terwujud, posisi tersebut dinilai dapat menjadi ruang bagi Indonesia untuk memperkuat agenda perdamaian, kemanusiaan, serta solidaritas negara-negara Muslim dalam menghadapi berbagai krisis global.
Salah satu isu yang menjadi perhatian utama adalah Palestina.
Indonesia selama ini konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dalam berbagai forum internasional. Karena itu, menurut Ade, posisi Indonesia dalam proses penentuan kepemimpinan OKI menjadi momentum yang patut dikawal.
“Ketegasan diplomasi yang ditunjukkan oleh delegasi Indonesia di bawah arahan Anis Matta dalam membela hak-hak Palestina di berbagai forum dunia telah mendapat apresiasi mendalam dari negara-negara anggota OKI,” katanya.
Ia berharap diplomasi Indonesia mampu membangun konsensus di antara negara anggota sehingga kepemimpinan OKI ke depan dapat membawa organisasi tersebut menjadi lebih solid dan efektif.
Partai Gelora Pekanbaru, lanjut Ade, mendukung langkah diplomasi Indonesia dalam KTM Luar Biasa OKI di Jeddah.
“Kami dari Pekanbaru mendukung penuh langkah diplomasi yang sedang diperjuangkan di Jeddah. Jika Indonesia berhasil memimpin konsensus OKI, ini akan menjadi era baru bagi soliditas dunia Islam dalam menghadapi krisis kemanusiaan global,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan dunia Islam saat ini tidak hanya menyangkut konflik dan isu Palestina, tetapi juga berbagai persoalan kemanusiaan, ekonomi, ketahanan pangan, hingga perubahan geopolitik dunia.
Karena itu, kepemimpinan OKI membutuhkan negara yang memiliki kapasitas diplomasi, pengalaman membangun komunikasi lintas negara, serta mampu menjembatani berbagai kepentingan di antara negara anggota.
Dengan posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dan pengalaman panjang dalam diplomasi internasional, Ade menilai peluang tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal.
KTM Luar Biasa OKI di Jeddah diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan mengenai kepemimpinan organisasi untuk periode 2026–2031, tetapi juga memperkuat posisi bersama negara-negara Islam dalam menghadapi berbagai persoalan global.
Bagi Indonesia, Jeddah bukan sekadar ruang diplomasi. Momentum ini menjadi ujian sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa suara Indonesia dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam menentukan arah dunia Islam di tengah perubahan geopolitik global.(Rilis/RSD)
