Katakata.id – Menjadi aktivis dan membangun bisnis bukanlah dua dunia yang selalu berjarak. Pengalaman berorganisasi justru dapat menjadi modal penting bagi generasi muda untuk membangun usaha, memperluas jaringan, dan menciptakan nilai di tengah perubahan ekonomi digital.
Pesan itu disampaikan Ketua Umum Badan Pengurus Wilayah Himpunan Pengusaha KAHMI (BPW HIPKA) Riau, Ary Nugraha, saat berbagi pengalaman dan motivasi kewirausahaan dalam Seminar Karir SPYFEST yang diselenggarakan BEM FISIP Universitas Riau (UNRI).
Mengangkat tema “Dari Aktivis ke Wirausaha”, Ary menceritakan perjalanan membangun karier dari pengalaman organisasi dan aktivisme hingga menekuni dunia bisnis.
Perjalanan tersebut, kata Ary, sebenarnya telah dimulai sejak masih menjadi mahasiswa. Ketertarikannya terhadap dunia usaha tumbuh ketika memasuki semester lima. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia kemudian memilih fokus membangun usaha dan menjadikan kewirausahaan sebagai jalan karier.
Namun, perjalanan tersebut bukanlah jalan yang selalu mulus. Berbagai fase pasang surut, kegagalan, perubahan strategi, hingga proses membangun kembali menjadi bagian dari perjalanan yang justru memperkaya pengalaman dan membentuk cara pandangnya sebagai seorang entrepreneur.
“Saya tidak datang sebagai orang yang sudah berada di puncak. Saya masih dalam perjalanan. Tetapi saya sudah melewati cukup banyak proses untuk bisa berbagi apa yang saya pelajari,” ujar Ary.
Dalam paparannya, Ary mengajak mahasiswa melihat pengalaman organisasi dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, aktivitas organisasi tidak semestinya hanya dipandang sebagai kegiatan tambahan selama kuliah. Pengalaman tersebut dapat menjadi ruang untuk membangun berbagai kompetensi yang kelak dibutuhkan dalam dunia profesional maupun kewirausahaan.
Kemampuan berkomunikasi, membangun jaringan, memimpin, bernegosiasi, berkolaborasi, hingga menggerakkan orang untuk mencapai tujuan bersama merupakan keterampilan yang menurut Ary sangat relevan dalam membangun bisnis.
“Organisasi mengajarkan bagaimana kita berkomunikasi, membangun relasi, bekerja dengan orang lain, memimpin, dan menyelesaikan persoalan. Semua itu sangat relevan ketika kita masuk ke dunia usaha,” jelasnya.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya mengembangkan bisnis dengan memanfaatkan inovasi dan teknologi digital. Bagi Ary, perkembangan teknologi telah mengubah cara pelaku usaha membangun bisnis. Persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana menciptakan nilai, membangun kepercayaan konsumen, mengembangkan sistem, dan memanfaatkan teknologi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
“Dulu kita berpikir bagaimana produk bisa terjual. Sekarang kita harus berpikir bagaimana menciptakan nilai, membangun sistem, dan memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar,” katanya.
Antusiasme mahasiswa terlihat sepanjang seminar. Sejumlah peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai pengalaman membangun usaha, menghadapi kegagalan, pemanfaatan teknologi digital, hingga strategi memulai bisnis sejak masih berada di bangku kuliah.
Diskusi juga berkembang pada persoalan yang lebih luas, yakni bagaimana generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja dan peluang kewirausahaan di tengah perkembangan ekonomi digital.
Bagi Ary, dialog dengan mahasiswa justru menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Menurutnya, proses belajar tidak berhenti ketika seseorang selesai menyampaikan materi. Pertukaran pengalaman dan pertanyaan dari peserta justru dapat membuka perspektif baru bagi kedua belah pihak.
Di hadapan mahasiswa FISIP UNRI, Ary mendorong generasi muda agar tidak terlalu takut menentukan arah masa depan sejak dini. Mahasiswa, menurutnya, tidak harus menunggu sampai lulus untuk mulai membangun sesuatu.
Membuat proyek kecil, membangun komunitas, membuat konten, mengembangkan keterampilan digital, mengikuti organisasi, maupun mencoba usaha sederhana dapat menjadi bagian dari proses menemukan kompetensi dan arah karier.
Ia mengajak mahasiswa mengubah cara bertanya tentang masa depan.
Bukan hanya setelah lulus saya akan bekerja di mana? Tetapi juga masalah apa yang bisa saya selesaikan dan nilai apa yang bisa saya ciptakan?
Pertanyaan tersebut, kata Ary, penting agar mahasiswa tidak hanya memosisikan diri sebagai pencari pekerjaan, tetapi juga mulai melihat kemungkinan menjadi pencipta peluang.
Gubernur BEM FISIP Universitas Riau, Taufik Hidayat, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ary Nugraha dalam Seminar Karir SPYFEST. Taufik mengucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan Ary untuk berbagi pengalaman sekaligus mengisi materi dalam kegiatan tersebut.
“Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang telah diberikan untuk mengisi materi di kegiatan Seminar Karir SPYFEST. Materi yang disampaikan sangat luar biasa dan tentunya memberikan banyak inspirasi bagi mahasiswa,” ujar Taufik.
Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan SPYFEST, tetapi dapat dilanjutkan dalam berbagai kegiatan lainnya.
“Semoga ke depannya kita bisa kembali berkolaborasi dalam kegiatan-kegiatan lainnya,” tambahnya.
Bagi Ary, perjalanan dari aktivisme menuju kewirausahaan bukanlah sebuah cerita tentang keberhasilan yang sudah selesai. Berbagai pengalaman, kolaborasi dan capaian yang telah dilalui, termasuk kiprahnya dalam membangun bisnis berbasis inovasi dan digital, justru menjadi bagian dari proses pembelajaran yang terus berlangsung.
Ia juga dikenal sebagai Pendiri dan CEO Keroncongantar, sekaligus aktif dalam jejaring kewirausahaan KAHMI melalui HIPKA Riau. Namun, ia mengingatkan mahasiswa bahwa pencapaian tidak boleh membuat seseorang berhenti belajar.
“Prestasi bukan garis akhir. Prestasi hanya penanda bahwa kita pernah berjalan sejauh itu. Setelahnya, kita harus kembali belajar dan membangun sesuatu yang lebih besar,” ujar Ary.
Pesan tersebut menjadi benang merah dari perjalanan yang dibagikannya kepada mahasiswa FISIP UNRI. Bahwa karier tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Aktivisme dapat menjadi modal untuk membangun bisnis. Kegagalan dapat menjadi ruang belajar. Teknologi dapat menjadi alat untuk memperluas peluang. Dan yang paling penting, perjalanan tidak harus menunggu seseorang memiliki semuanya untuk dimulai.
Dari aktivis menjadi wirausaha. Dari membangun bisnis hingga ikut mendorong ekonomi digital. Dan bagi Ary Nugraha, perjalanan itu belum selesai. (RLS/RSD)
