Katakata.id – Gunung Anak Krakatau masih menyimpan potensi bahaya setelah mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9/2026) malam. Badan Geologi mengingatkan aktivitas gunungapi tersebut masih dapat berfluktuasi bahkan meningkat karena suplai magma dan gas masih berlangsung.
Dalam konferensi pers mengenai fenomena erupsi menerus Anak Krakatau, Badan Geologi mengungkap sedikitnya tiga bahaya utama yang perlu diwaspadai masyarakat.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengatakan bahaya pertama berasal dari lontaran material vulkanik, berupa batu pijar dan batuan vulkanik.
“Material tersebut dapat membahayakan siapa pun yang berada terlalu dekat dengan kawah sekaligus berpotensi merusak peralatan pemantauan di lapangan,” kata Lana.
Bahaya berikutnya berasal dari abu dan gas vulkanik. Konsentrasi abu maupun gas dalam jumlah tinggi dapat membahayakan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
Selain itu, terdapat potensi aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh gunungapi.
Lana menegaskan aktivitas Anak Krakatau belum sepenuhnya mereda. Suplai magma dan gas yang masih berlangsung membuat intensitas aktivitas gunungapi dapat berubah sewaktu-waktu.
“Anak Krakatau belum sepenuhnya tenang,” ujarnya.
Erupsi menerus Anak Krakatau mulai terjadi pada 4 September 2026 sekitar pukul 23.00 WIB. Aktivitas tersebut disertai semburan lava (lava fountain), suara gemuruh, dan dentuman yang terdengar hingga sejumlah wilayah Jawa Barat.
Status aktivitas Anak Krakatau sendiri telah berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026, setelah sebelumnya berada pada Level II atau Waspada.
Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan tsunami, Badan Geologi memberikan penjelasan penting. Erupsi gunungapi tidak otomatis menyebabkan tsunami.
Potensi tsunami sangat bergantung pada mekanisme erupsi serta perubahan morfologi tubuh gunungapi.
Lana mengatakan, berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, kondisi tubuh Anak Krakatau saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala besar yang dapat memicu tsunami seperti peristiwa 2018.
“Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, kondisi Anak Krakatau saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala besar yang dapat memicu tsunami seperti peristiwa 2018,” kata Lana.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta tidak mengabaikan peringatan keselamatan.
Badan Geologi melarang masyarakat, wisatawan maupun pendaki mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam **radius 3 kilometer dari kawah aktif**.
Warga yang terdampak abu vulkanik juga diminta menggunakan masker dan mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi.
Pemantauan terhadap Anak Krakatau terus dilakukan melalui berbagai parameter. Koordinasi terkait sebaran abu vulkanik dan keselamatan penerbangan juga dilakukan secara berkelanjutan.
Editor: Rasid Ahmad
