Katakata.id – Politik Indonesia sedang mengalami perubahan besar. Pertarungan merebut perhatian publik tak lagi sepenuhnya berlangsung di panggung kampanye, layar televisi, atau halaman surat kabar.
Kini, pertarungan itu berlangsung di layar ponsel—bergerak cepat, tanpa garis komando yang jelas, dan ditentukan oleh algoritma.
Fenomena tersebut dibahas Prof. Rhenald Kasali bersama Gus Ipang Wahid dalam sebuah podcast yang mengupas perubahan komunikasi politik, kekuatan media sosial, hingga fenomena elektabilitas sejumlah tokoh publik, termasuk Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan Prabowo Subianto.
Gus Ipang menjelaskan, pola komunikasi politik telah mengalami perubahan mendasar. Jika sebelumnya informasi bergerak dengan pola *one-to-many*, kini komunikasi publik berkembang menjadi many-to-many. Artinya, masyarakat bukan lagi sekadar penerima pesan. Mereka sekaligus menjadi pembuat, penyebar, pengomentar, bahkan pengubah makna sebuah pesan politik.
Perubahan ini membuat komunikasi politik menjadi jauh lebih cair dan sulit dikendalikan.
Dalam pola komunikasi lama, seorang tokoh politik dapat menyampaikan pesan melalui media massa dan berharap pesan tersebut diterima publik sesuai dengan narasi yang dibangun.
Di era media sosial, mekanisme itu tidak lagi sesederhana itu. Algoritma menentukan siapa yang melihat sebuah konten, berapa lama konten bertahan dalam perhatian publik, dan bagaimana sebuah pesan berkembang melalui interaksi pengguna.
Dalam situasi seperti ini, otentisitas menjadi semakin penting. Tokoh yang terlihat dekat, spontan dan mampu berbicara menggunakan bahasa yang dipahami masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk membangun hubungan emosional dengan audiens.
Di sinilah fenomena KDM menjadi menarik. Menurut Gus Ipang, tingginya elektabilitas KDM tidak terlepas dari kemampuannya memahami karakter audiens media sosial sekaligus membangun pendekatan emosional. KDM tidak sekadar menyampaikan pesan politik.
Ia membangun cerita, menghadirkan keseharian, masuk ke ruang kehidupan masyarakat dan menggunakan bahasa yang terasa dekat dengan audiens. Pada akhirnya, yang dibangun bukan hanya popularitas. Melainkan kedekatan emosional.
Fenomena serupa juga terlihat dalam perjalanan citra Prabowo. Gus Ipang menilai keberhasilan Prabowo dalam pemilu tidak bisa dilepaskan dari perubahan persepsi publik terhadap dirinya. Sosok yang sebelumnya kuat dengan citra militeristik secara bertahap diperkenalkan dengan citra yang lebih humanis dan populer, termasuk melalui persona gemoy.
Perubahan tersebut merupakan bentuk perception engineering yaitu upaya membentuk kembali persepsi publik terhadap seorang tokoh. Perubahan citra ini menunjukkan bahwa dalam politik modern, persepsi bukan sesuatu yang statis.
Tokoh politik dapat dipersepsikan berbeda ketika cara mereka berkomunikasi berubah. Namun, era media sosial juga memiliki sisi lain yang jauh lebih berbahaya.
Satu kesalahan dapat menghapus reputasi yang dibangun bertahun-tahun.
Menurut Gus Ipang dan Rhenald, salah satu persoalan terbesar komunikasi politik saat ini adalah nirempati.
Masyarakat tidak hanya menilai apa yang dikatakan seorang pemimpin, tetapi juga bagaimana pemimpin tersebut menunjukkan kepekaan terhadap persoalan yang sedang dirasakan publik.
Di media sosial, respons masyarakat berlangsung hampir seketika. Sebuah tindakan yang dianggap tidak sensitif dapat berubah menjadi kontroversi dalam hitungan jam. Reputasi yang dibangun bertahun-tahun pun dapat mengalami kerusakan hanya karena satu momen.
Karena itu, komunikasi politik tidak cukup hanya membutuhkan kemampuan menyusun pesan. Ia membutuhkan kemampuan membaca perasaan publik.
Diskusi tersebut juga menyoroti penggunaan buzzer dalam komunikasi politik. Dukungan digital yang seharusnya membantu membangun citra justru dapat menjadi bumerang jika dilakukan secara kasar, agresif dan tidak cerdas. Serangan terhadap kelompok atau individu lain, misalnya, dapat membuat publik justru mengasosiasikan perilaku tersebut dengan tokoh yang dibela.
Dalam ekosistem media sosial, pendukung tidak selalu menjadi aset. Jika tidak terkendali, mereka bisa berubah menjadi beban reputasi. Karena itu, komunikasi politik modern tidak cukup hanya memiliki pasukan digital. Yang lebih penting adalah kecerdasan dalam mengelola percakapan publik.
Pada akhirnya, perubahan komunikasi politik membawa pesan yang lebih luas bagi para pemimpin dan tokoh publik. Generasi Z dan milenial tidak lagi mengonsumsi informasi dengan cara generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam ekosistem yang cepat, visual, interaktif dan penuh perubahan.
Karena itu, siapa pun yang ingin tetap relevan harus memiliki agility kemampuan untuk belajar, beradaptasi dan berubah mengikuti perkembangan zaman. Menjadi tua bukan persoalan usia. Seseorang bisa tetap muda secara biologis, tetapi tertinggal secara pemikiran. Sebaliknya, seseorang bisa berusia lebih tua tetapi tetap relevan karena mau belajar dan memahami perubahan.
Dalam politik era algoritma, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Sebab publik tidak lagi hanya bertanya siapa yang paling banyak berbicara. Mereka juga melihat siapa yang paling mampu memahami mereka. Dan pada akhirnya, politik bukan hanya soal memenangkan suara.
Politik adalah soal memenangkan kepercayaan dan kedekatan emosional. Di era ketika satu unggahan dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan jam, pemimpin yang kehilangan empati bisa kehilangan relevansi jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Algoritma mungkin menentukan siapa yang terlihat. Tetapi empatilah yang menentukan siapa yang dipercaya.
Editor: Rasid Ahmad
Sumber: Youtube Rhenald Kasali
