Katakata.id – Sepulang dari forum internasional Inter-Parliamentary Union (IPU) di Istanbul, Türkiye, Syahrul Aidi Maazat tak langsung beristirahat. Anggota Komisi I DPR RI itu justru memilih bersilaturahmi dengan insan pers di Riau, menyerap langsung suara dari pelaku industri media yang tengah menghadapi berbagai tantangan.
Pertemuan yang berlangsung hangat di Wareh Kupi, Jalan Arifin Achmad, Kota Pekanbaru, Kamis (23/4/2026), menjadi ruang terbuka bagi para pimpinan asosiasi media untuk menyampaikan kondisi riil dunia pers saat ini. Hadir dalam diskusi tersebut Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau Raja Isyam Azwar, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau Dheni Kurnia, Sekretaris Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Riau Budi Satria, Sekretaris Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Riau Zulmiron, serta Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Riau Saidul Tombang.
Dalam suasana santai namun penuh makna, satu suara mengemuka: industri media saat ini sedang tidak baik-baik saja. Para pimpinan asosiasi menilai, minimnya perhatian pemerintah terhadap ekosistem pers membuat media kian terhimpit, baik dari sisi regulasi maupun keberlangsungan bisnis.
“Kondisi media hari ini memang sedang sulit. Dari internal hingga regulasi, semuanya menjadi tantangan,” ungkap Raja Isyam Azwar, yang diamini peserta diskusi lainnya.
Menanggapi hal itu, Syahrul Aidi menegaskan pentingnya sinergi antara insan pers dan pemerintah. Ia menyebut dua lembaga yang memiliki peran strategis dalam menjaga ekosistem media, yakni Kementerian Komunikasi dan Digital dan Dewan Pers.
Ia pun membuka ruang seluas-luasnya bagi insan pers untuk menyampaikan masukan secara resmi agar dapat diperjuangkan di tingkat legislatif.
“Silakan sampaikan laporan dan pokok persoalan secara tertulis. Nanti akan kami bawa dan bahas di Komisi I DPR RI, agar bisa dicarikan solusi bersama,” ujar Syahrul.
Di tengah tekanan yang dihadapi, ia juga mengingatkan bahwa transformasi adalah keniscayaan. Media, menurutnya, harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan profesionalisme.
“Media yang berkualitas dan dikelola secara profesional akan tetap mendapat tempat di hati masyarakat,” tambahnya.
Tak hanya membahas soal media, diskusi juga melebar ke isu geopolitik global. Syahrul menyoroti konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang dinilai berpotensi panjang dan berdampak luas, termasuk bagi Indonesia.
“Kita harus cermat membaca situasi global. Jangan sampai salah mengambil langkah dalam kebijakan nasional,” tegasnya.
Pertemuan tersebut juga dirangkai dengan pengumuman pemenang lomba menulis opini yang digagas Syahrul Aidi sejak Ramadan lalu. Dari 43 peserta, Anthony Harry dari Riauinfo.com keluar sebagai juara pertama, disusul Deslina dari Pekanbaruekspress.com di posisi kedua, dan Harry Warisman di peringkat ketiga.
Mengangkat tema “Rekonstruksi Penanganan Fakir Miskin dengan Mereinterpretasi Penanganan Fakir Miskin di Indonesia”, lomba ini menjadi ruang refleksi sekaligus kontribusi pemikiran insan pers terhadap persoalan sosial di Tanah Air.
Silaturahmi ini tak sekadar pertemuan biasa, tetapi menjadi jembatan antara legislatif dan insan pers—mencari jalan keluar di tengah tantangan, sekaligus merawat harapan bagi masa depan media Indonesia.(RLS/SID)
