Katakata.id – Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, memicu gelombang kemarahan luas di ruang publik. Insiden yang menyebabkan korban mengalami luka bakar serius hingga kebutaan permanen ini menjadi sorotan tajam, terutama setelah muncul dugaan keterlibatan aparat.
Analisis dari Drone Emprit menunjukkan tingginya atensi publik terhadap kasus tersebut. Tercatat sebanyak 9.135 artikel media dan 14.452 percakapan di media sosial membahas peristiwa ini, dengan dominasi sentimen negatif.
Kemarahan publik semakin memuncak setelah empat prajurit yang diduga berasal dari BAIS TNI disebut terlibat dalam penyerangan. Polemik bertambah panas ketika proses hukum dilimpahkan ke Pusat Polisi Militer TNI, disertai laporan intimidasi terhadap belasan saksi.
Dalam temuannya, Drone Emprit mencatat tiga isu utama yang memicu reaksi keras masyarakat: ancaman terhadap kebebasan berekspresi, kecurigaan adanya operasi intelijen terstruktur, serta penolakan terhadap peradilan militer yang dinilai rawan impunitas.
Tak hanya itu, publik juga mendesak agar aktor intelektual di balik serangan diungkap. Solidaritas masyarakat sipil menguat, diiringi skeptisisme terhadap respons pemerintah yang dinilai belum menyentuh akar persoalan.
Di sisi lain, pihak Istana dan Menteri HAM telah mengecam keras aksi tersebut. Sementara Polri dan TNI mengonfirmasi bahwa berkas perkara prajurit telah dilimpahkan ke Oditur Militer untuk proses peradilan. Namun langkah ini justru menuai kritik dari kalangan aktivis HAM yang menginginkan kasus diadili di peradilan umum.
Secara keseluruhan, percakapan publik mencapai lebih dari 39.786 sebutan dengan total interaksi melampaui 387 juta di berbagai platform digital. Puncak perhatian terjadi pada pertengahan Maret, seiring beredarnya rekaman CCTV serta konfirmasi keterlibatan aparat.
Di media sosial, dinamika percakapan menunjukkan pola yang beragam. Platform X (Twitter) didominasi kritik keras dan tuntutan keadilan, sementara Facebook cenderung dipenuhi dorongan transparansi. Di Instagram dan TikTok, gelombang empati dan dukungan moral mengalir deras, disertai kampanye solidaritas dan edukasi publik.
Meski demikian, bayang-bayang ketakutan akan teror lanjutan tetap menghantui. Publik menilai kasus ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan bagian dari upaya pembungkaman terhadap suara kritis.
Di tengah derasnya kritik, satu hal yang menonjol adalah kuatnya solidaritas masyarakat sipil. Dukungan terhadap korban terus mengalir, sekaligus menjadi tekanan moral agar aparat penegak hukum bertindak transparan dan menuntaskan kasus ini hingga ke akar-akarnya.
Editor: Rasid Ahmad
Sumber: Drone Emprit Official
