Katakata.id – Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung menyelenggarakan kuliah tamu dengan menghadirkan Prof. Martin Henz dari National University of Singapore (NUS), Kamis (11/9/2025).
Kegiatan ini mengangkat tema “Cruising Malacca: Strategic Interconnection Hub of East Asia and the Middle North.”
Kuliah tamu ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung, dimana Prof. Henz berbagi pengalaman tentang metode pembelajaran experiential learning yang ia kembangkan melalui program pelayaran di Selat Malaka, dari Singapura hingga berbagai pulau di Indonesia. Salah satu tujuan pelayaran tersebut adalah Kepulauan Bangka, yang disinggahi pada Desember 2023. Di Bangka, Prof Henz dan mahasiswanya melakukan kunjungan ke area tambang terbuka (open-pit mining) untuk melakukan observasi dan mempelajari kondisi sosial maupun lingkungan di sekitarnya.
Melalui inisiatifnya yang dinamakan NUS Seafarers ini, Prof. Henz telah melakukan 27 pelayaran ke berbagai wilayah, dengan mayoritas destinasi berada di Indonesia. Menurutnya, kegiatan ini memberikan pengalaman langsung (first-hand experience) kepada mahasiswa mengenai kehidupan masyarakat di wilayah kepulauan, memunculkan kepekaan sosial mahasiswanya serta kemampuan menerapkan bidang keilmuan mereka secara langsung.
Lanjutnya, selama pelayaran, mahasiswa terlibat aktif dalam berbagai kegiatan, mulai dari menghitung arah dan memandu navigasi hingga mengoperasikan kapal di bawah pengawasan kapten. Selain itu, mereka juga mengikuti diskusi akademis di atas kapal bersama profesor dari beragam disiplin ilmu, seperti biologi, teknik, geografi, ilmu sosial, dan ekonomi. Selama pelayaran mahasiswa mengembangkan kemapuan teoritis, praktis dan perubahan perilaku kea rah yang lebih baik.
Mahasiswa Ilmu Politik UBB menyambut pengalaman yang dibagikan Prof. Henz dengan penuh antusias. Mereka menilai inisiatif yang digagas melalui program NUS Seafarers tidak hanya memberikan wawasan baru mengenai dinamika kawasan maritim, tetapi juga menginspirasi untuk melihat pembelajaran dari sudut pandang yang lebih luas, lintas disiplin, dan berbasis pengalaman nyata.
Apresiasi ini mencerminkan besarnya minat mahasiswa terhadap metode pembelajaran inovatif yang menghubungkan teori akademik dengan realitas lapangan.
Prof. Henz menekankan bahwa pengalaman semacam ini sangat berharga bagi mahasiswa, meski ia menyayangkan masih terbatasnya kegiatan serupa yang dapat diikuti mahasiswa di Indonesia. Ia menutup sesi kuliah tamu dengan mendorong mahasiswa dan dosen Ilmu Politik UBB untuk mengembangkan lebih banyak bentuk experiential learning, guna memperkaya kemampuan mahasiswa yang tidak hanya terbatas pada pembelajaran di kelas.(Rls/RA)
