Katakata.id – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengingatkan generasi muda bahwa masa depan Indonesia tidak cukup ditopang kecerdasan dan penguasaan teknologi. Bangsa ini juga membutuhkan anak muda yang berkarakter, berani menyuarakan kebenaran, melawan ketidakadilan, dan berpihak kepada rakyat kecil.
Pesan itu disampaikan Megawati melalui tayangan video dalam puncak Merah Muda Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Ahad (25/10/2026) malam. Di hadapan generasi muda yang menjadi sasaran pesan tersebut, ia menegaskan bahwa festival bukan sekadar ruang perayaan, melainkan tempat bertukar gagasan bagi mereka yang kelak memikul tanggung jawab besar atas masa depan bangsa.
“Jangan lupa, kamu adalah orang yang akan menerima tugas yang begitu berat,” kata Megawati.
Mengusung tema Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Kemanusiaan, Merah Muda Fest, menurut Megawati, membawa pesan tentang persatuan, keberanian, dan pembangunan yang menempatkan manusia sebagai pusatnya. Baginya, pemuda tidak semata-mata ditentukan oleh usia, tetapi oleh keberanian berpikir kritis, bertindak, dan bertanggung jawab terhadap masa depan Indonesia.
Pesan itu ia kaitkan dengan peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda pada 28 Oktober mendatang. Megawati mengajak generasi muda melihat kembali keberanian para pemuda pada 1928, ketika Indonesia masih berada di bawah kolonialisme Belanda.
Saat itu, pemuda dari berbagai organisasi dan latar belakang memilih menanggalkan sekat kedaerahan demi membangun identitas sebagai satu bangsa. Mereka menyadari kemerdekaan akan sulit diraih jika Indonesia terus terpecah belah.
“Para pemuda tahun 1928 tidak menunggu Indonesia merdeka untuk menjadi satu bangsa. Mereka membangun persatuan agar Indonesia dapat lahir sebagai sebuah bangsa yang merdeka,” ujarnya.
Megawati juga mengingatkan bahwa Lapangan Banteng merupakan bagian dari jejak sejarah pergerakan pemuda. Kawasan yang pada masa kolonial dikenal sebagai Waterlooplein itu berkaitan dengan penyelenggaraan rapat pertama Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928.
Karena itu, ia meminta anak muda menikmati ruang ekspresi dan kreativitas, tetapi tidak melupakan tanggung jawab sejarah yang melekat pada generasi penerus bangsa.
“Bergembiralah dan berekspresilah, tetapi pulanglah dengan kesadaran bahwa kalian adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa ini,” katanya.
Bagi Megawati, kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan. Kemerdekaan justru menjadi kesempatan bagi bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Tanggung jawab itu, menurut dia, harus diteruskan melalui tindakan nyata generasi muda, bukan berhenti pada seremoni dan slogan kebangsaan.
Ia mendorong anak muda menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk teknologi terapan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta menyelesaikan persoalan nyata di tengah rakyat. Namun, kemajuan itu harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter dan penguatan jati diri bangsa.
Megawati mengingatkan kembali konsep *nation and character building* yang diperkenalkan dalam gagasan pembangunan bangsa oleh para pendiri Indonesia. Penguasaan ilmu, menurut dia, harus disertai integritas, nilai-nilai Pancasila, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan semangat gotong royong.
“Banyak mereka justru orang pintar, tetapi hatinya goyang, hatinya tidak teguh, tidak berani,” ujar Megawati.
Pernyataan itu menjadi salah satu penekanan utama pesannya: kecerdasan tidak otomatis melahirkan keberanian moral. Pendidikan dan kemajuan teknologi akan kehilangan makna jika tidak diiringi keteguhan prinsip serta kesediaan membela kepentingan masyarakat.
Ia secara khusus meminta generasi muda memiliki keberanian menyuarakan kebenaran, keteguhan melawan ketidakadilan, serta kepekaan untuk berpihak kepada rakyat, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pembelaan.
Megawati juga mengajak anak muda memadukan kecerdasan dengan kebijaksanaan, kemajuan teknologi dengan nilai kemanusiaan, serta keberanian bertindak dengan tanggung jawab moral dan etika.
Megawati berharap semangat Merah Muda Fest tidak berhenti setelah acara berakhir. Ia menginginkan festival itu menjadi pemantik lahirnya gagasan, kreativitas, dan kontribusi konkret bagi kemajuan Indonesia.
Tantangan generasi muda, dalam pandangannya, bukan hanya menjadi generasi yang terampil menghadapi perubahan zaman, melainkan memastikan kemajuan tetap berpihak pada manusia dan keadilan.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, pesan tersebut menempatkan karakter sebagai ukuran penting masa depan bangsa. Sebab, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu menciptakan inovasi, tetapi juga mereka yang berani menggunakan pengetahuan untuk kepentingan rakyat.
Megawati menutup pesannya dengan seruan yang menjadi slogan festival “Merah berani, muda beraksi. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Kemanusiaan. Rawat sejarahnya, nyalakan semangatnya, teruskan api perjuangannya.”
(Rasid Ahmad)
