Katakata.id – International Class (IC) adalah kegiatan perkuliahan 1 semester yang terselenggara berkat kerjasama Eurasia Foundation dan Jurusan Ilmu Politik (UBB) untuk para mahasiswa Ilmu Politik UBB.
Tema yang angkat dalam seminar kali ini yakni “Environment Mitigation and Conservation: Reserving Earth for Sustainable and Inclusive Prosperity” yang membahas tentang bagaimana menjaga bumi untuk kemakmuran yang berkelanjutan dan inklusif melalui mitigas dan konservasi lingkungan. Seminar ini diselenggarakan pada hari kamis, 30 Oktober 2025 di Ruang Akustik Gedung Timah 1 UBB yang dimoderatori Jamal Din Aulia.
Pemateri yang diundang untuk menyampaikan materi terkait isu lingkungan tersebut yakni Budi Setiawan yang berasal dari Belitung. Beliau merupakan seorang aktivis lingkungan yang sekitar lebih dari 20 tahun berkarier di bidang lingkungan, pemberdayaan masyarakat, konservasi, pendidikan, dan ekonomi inklusif.
Beliau juga merupakan pendiri dan direktur dari Tarsius Center Indonesia (TCI), sebuah yayasan dan gerakan sosial yang bergerak dibidang peduli lingkungan. Lebih lanjut, beliau juga terlibat dalam pembangunan Taman Wisata Alam Batu Mentas, dan melakukan penelitian serta konservasi Tarsius sejak 2007.
Pembahasan Budi Setiawan diawali dari statement menarik yang menyatakan bahwa jika seseorang berbicara terkait peduli lingkungan, maka seseorang tersebut dapat dikatakan akan menghambat proses pembangunan (konteks yang berkaitan dengan ekonomi). Hal ini juga sesuai dengan pengalamannya pada tahun 1997 hingga 1998 ketika memulai dalam kegiatan peduli lingkungan, Budi menjelaskan bahwa Bangka Belitung masih terpaku pada tambang. Hal ini menjadi tantangan karena diperkuat secara kebijakan ditahun tersebut dinas lingkungan hidup dan dinas pertambangan adalah satu dinas yang sama sehingga memicu adanya kekhawatiran dan rasa apatis terkait program peduli lingkungan.
Dalam presentasinya, Budi Setiawan menceritakan kepada partisipan terkait dengan perjalanannya sebagai aktivis lingkungan hingga ke forum internasional. Beliau juga memaparkan bagaimana perjalanannya untuk memperkenalkan tarsius sebagai hewan primata purba Belitung. Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan mengenai pentingnya untuk berani bersuara, gigih dalam memperjuangkan melalui tindakan konkret terutama dalam forum global.
Presentasinya juga menceritakan mengenai perjalanan dan perjuangannya untuk terlibat aktif di forum internasional. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai pengalamannya diundang untuk berbicara salah satunya di forum PBB. Beliau juga telah memenangkan beberapa prestasi gemilang seperti halnya Peraih penghargaan Wana Lestari Award 2011 dari Kementerian Kehutanan RI, Coastal Award 2012 dari Kementerian Kelautan RI, diundang sebagai perwakilan IVLP dari Kementerian AS 2014, meraih penghargaan Equator Prize Award 2015 dari UNDP dan menjadi pembicara perwakilan internasional pada puncak acara World Ocean Day 2017 di kantor pusat PBB di New York serta menerima penghargaan “Tourism for Tomorrow Award 2019” dari World Travel & Tourism Council (WTTC) di Seville, Spanyol.
Lebih lanjut, dalam presentasinya ia juga menyinggung terkait kondisi dan situasi Bangka Belitung hari ini. Beliau menceritakan bahwa hari ini, Bangka Belitung masih terpaku pada timah yang terlalu dieksploitasi namun tidak cukup signifikan untuk membantu ekonomi masyarakat. Disela – sela ironi yang dikhawatirkan, Beliau menjelaskan terkait program terbaru Jage Laut yakni sebuah gerakan yang bertujuan untuk menjaga kelestarian pesisir laut dan pulau-pulau kecil.
Harapannya, terciptanya laut dan pulau-pulau kecil yang lestari, kesejahteraan masyarakat pesisir dan menjaga ekosistem laut dari ekploitasi. Gerakan ini berinduk di Pulau Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Program ini juga rencananya akan dibuatkan Business Plan dengan melibatkan teknologi. Hal ini bertujuan untuk memudahkan nelayan untuk mendapatkan jenis – jenis ikan berbasis data digital yang diperoleh sehingga akan menimbulkan pengetahuan baru terkait pola migrasi ikan.
Budi menegaskan bahwa saat ini manfaat lingkungan sering diabaikan karena dinilai hanya bersifat jangka panjang dan manfaatnya tidak langsung terlihat. Hal yang berbeda jika berbicara mengenai pembangunan yang hasilnya lebih cenderung terlihat karena prosesnya instan (jangka pendek) namun mengorbankan aspek lingkungan sebagai wadah kehidupan umat manusia.
Bagi Budi, konservasi dijelaskan sebagai bagian dari tindakan untuk melindungi, memanfaatkan serta mengelola sumber daya alam secara bijak dengan tujuan agar tetap lestari untuk generasi yang akan datang.
Sementara itu diakhir acara beliau juga menyampaikan bahwa hari ini masih kurangnya kesadaran bahwa lingkungan merupakan fondasi utama ekonomi. Hal itu dijelaskan dengan mengibaratkan bahwa jika tambang merusak air maka akan berdampak ke petani atau nelayan yang akan kehilangan mata pencahariannya.
Disisi lain juga dijelaskan bahwa jika udara tercemar atau kotor maka ini juga akan berdampak terhadap terganggunya kesehatan masyarakat yang berpengaruh terhadap lambatnya produktivitas seseorang.
Harapannya, tema dalam seminar ini yang mengangkat terkait “Mitigasi dan Konservasi Lingkungan: Melestarikan Bumi untuk Kemakmuran yang Berkelanjutan dan Inklusif” dapat membuat kita sadar bahwa pentingnya mengintegrasikan kesadaran ekologis dengan keadilan sosial, inovasi ekonomi, serta tanggung jawab moral.
“Satu hal yang akan menjadi tantangan bagi manusai yakni terkait pemahaman dan komitmen untuk mengubah hubungannya dengan alam seperti misalnya dari Tindakan eksploitasi menjadi tindakan pengelolaan dengan tujuan akhir yakni membangun masa depan di mana kemakmuran tidak dicapai jika bumi kita yang dikorbankan,” pungkas Budi. (Rilis)
