Katakata.id – Dinamika atmosfer di kawasan Asia Tenggara memicu kewaspadaan terhadap potensi cuaca signifikan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Riau. BMKG mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan perkembangan prakiraan cuaca, terutama pengguna transportasi udara, nelayan, dan warga yang beraktivitas di kawasan rawan bencana.
Prakirawan BMKG, Puji S. dalam prakiraan cuaca untuk Senin (26/10/2026), menyampaikan bahwa bibit siklon tropis 98B terpantau di Teluk Benggala dan berpotensi berkembang menjadi siklon tropis dalam 48–72 jam ke depan.
Selain itu, sirkulasi siklonik terpantau di sekitar Thailand, Laut Cina Selatan, utara Kalimantan, dan Papua. Kondisi atmosfer tersebut berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG juga mengingatkan pengguna transportasi udara agar mewaspadai hujan dan awan kumulonimbus di Sumatera bagian tengah dan utara, Riau, Selat Malaka, Laut Natuna Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, serta sebagian Papua.
Awan kumulonimbus dapat berkaitan dengan cuaca buruk yang mengganggu keselamatan dan kelancaran penerbangan. Karena itu, perkembangan cuaca perlu terus dipantau oleh masyarakat maupun pihak terkait.
Dalam ringkasan prakiraan untuk wilayah Sumatera, Pekanbaru dan Bengkulu diprakirakan mengalami udara kabur. Sementara itu, Tanjung Pinang berpotensi mengalami hujan petir.
Kondisi udara kabur di Pekanbaru perlu dicermati, terutama di tengah kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau. Namun, prakiraan tersebut tidak dengan sendirinya memastikan bahwa kondisi udara kabur disebabkan oleh kabut asap karhutla. Penilaian lebih lanjut membutuhkan data kualitas udara dan informasi pendukung lainnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan risiko kekeringan dan karhutla. Pemantauan wilayah rawan serta pelaporan dini jika ditemukan indikasi kebakaran menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Ancaman cuaca tidak hanya berkaitan dengan hujan. BMKG meminta pengguna transportasi laut dan nelayan mewaspadai gelombang setinggi 2,5–4 meter di Selat Malaka bagian utara, Laut Natuna bagian utara, Selat Karimata, serta Samudra Hindia di sebelah barat Kepulauan Mentawai.
Potensi banjir rob juga perlu diantisipasi di sejumlah wilayah pesisir akibat pasang air laut. Warga pesisir dan pelaku aktivitas kelautan diimbau mengikuti informasi resmi serta mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas.
Di wilayah lain, hujan petir berpotensi terjadi di Pontianak dan Banjarmasin. Bandung diprakirakan berpeluang mengalami hujan sedang. Adapun sejumlah wilayah Sulawesi berpotensi mengalami hujan ringan hingga udara kabur, sedangkan Ambon dan Sorong diprakirakan mengalami udara kabur serta Nabire berpeluang diguyur hujan sedang.
BMKG mengimbau masyarakat untuk memantau pembaruan prakiraan dan peringatan dini melalui kanal resmi. Kewaspadaan diperlukan agar perubahan cuaca dapat diantisipasi sejak awal, terutama di wilayah yang menghadapi risiko cuaca signifikan, gelombang tinggi, banjir rob, kekeringan, dan karhutla.(Rasid Ahmad)
