Katakata.id – Asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Riau. Kondisi kualitas udara di Kota Pekanbaru pada 14–15 September 2026 berada pada kategori sedang hingga berbahaya. Jarak pandang juga menurun, sementara ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi di tengah musim kemarau.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi PM2.5 di Kota Pekanbaru berada pada kategori sedang hingga berbahaya. Kondisi tersebut disertai penurunan jarak pandang di sejumlah wilayah.
Di UPT BMKG Provinsi Riau dan Pos Meteorologi (Posmet) Pelalawan, jarak pandang terpantau berkisar antara 0,8 hingga 3 kilometer dengan kondisi udara berkabut asap.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Polda Riau. Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Akmadi mengatakan jajaran kepolisian terus meningkatkan langkah pencegahan dan penanganan karhutla di seluruh wilayah hukum Polda Riau.
“Situasi ini menjadi perhatian kita bersama. Jajaran Polda Riau terus melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan, termasuk melakukan pemadaman dan pendinginan terhadap titik api serta memastikan setiap kejadian yang memiliki indikasi tindak pidana diproses sesuai ketentuan hukum,” tegas Akmadi.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, pencegahan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah dan aparat penegak hukum.
“Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Kalau menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan karhutla, segera laporkan kepada petugas. Masyarakat adalah benteng utama dalam mencegah karhutla,” ujarnya.
96 Hotspot Terdeteksi di Riau
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono, S.Si., M.Kom., mengatakan penurunan kualitas udara perlu mendapat perhatian serius. Selain konsentrasi PM2.5 yang meningkat, pemantauan juga menunjukkan adanya titik panas dan sebaran asap yang masuk ke wilayah Riau.
“Berdasarkan pemantauan kualitas udara, konsentrasi PM2.5 di Kota Pekanbaru pada 14–15 September 2026 berada pada kategori sedang hingga berbahaya. Kondisi ini juga disertai penurunan jarak pandang,” ujar Warjono.
Berdasarkan pemantauan satelit pada 14 September 2026 pukul 23.00 WIB, terdapat 96 titik panas atau hotspot di wilayah Provinsi Riau. Dari jumlah tersebut, enam titik di antaranya memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Pada waktu yang sama, BMKG juga mendeteksi sebaran asap di atas wilayah Riau.
Warjono menjelaskan, asap yang menyelimuti Riau tidak hanya berasal dari titik panas yang berada di wilayah provinsi tersebut. Hasil pemantauan menunjukkan adanya sebaran asap dari wilayah bagian selatan Sumatera yang bergerak menuju Sumatera bagian tengah dan utara.
“Jadi, kondisi asap yang terjadi di Riau tidak hanya perlu dilihat dari titik panas yang ada di wilayah Riau, tetapi juga memperhatikan dinamika sebaran asap dari wilayah selatan Sumatera,” jelasnya.
Musim Kemarau Perbesar Risiko Karhutla
Menurut Warjono, kondisi kabut asap berlangsung bersamaan dengan musim kemarau yang masih diperkirakan terjadi sepanjang September 2026.
Analisis curah hujan periode 10–15 September menunjukkan penurunan intensitas hujan secara gradual di seluruh wilayah Riau. Sejumlah wilayah timur dan pesisir juga mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori sangat pendek hingga sangat panjang, yakni antara 1–60 hari.
Bahkan di Kabupaten Indragiri Hilir, HTH kategori sangat panjang mencapai 31–60 hari.
“Curah hujan dasarian II September di wilayah Riau diprediksi berada pada kategori rendah, yaitu sekitar 10–50 milimeter per dasarian. Kondisi yang semakin mengering ini membuat lahan gambut lebih mudah kering dan rentan terbakar,” tegas Warjono.
Karena itu, kewaspadaan terhadap potensi karhutla perlu terus ditingkatkan. Lahan gambut yang mengering dapat meningkatkan risiko kebakaran, terlebih apabila disertai aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar.
BMKG bersama instansi terkait, lanjut Warjono, akan terus memantau perkembangan cuaca, kualitas udara, titik panas, dan sebaran asap di Riau serta wilayah sekitarnya.
Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi BMKG, meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi asap dalam beberapa hari ke depan, serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah tanpa pengawasan maupun membuka lahan dengan cara dibakar. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama selama periode musim kemarau,” pungkasnya.
Di tengah udara yang kembali diselimuti asap, pencegahan karhutla menjadi pekerjaan bersama. Penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika api telah membesar, tetapi harus dimulai dari kesadaran untuk tidak menyalakan api sembarangan dan segera melaporkan setiap potensi kebakaran.(Rasid/Nainggolan)
