Katakata.id – Galodo yang menerjang Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Senin malam, 21 September 2026, tidak terjadi dalam satu proses sederhana. Hujan lebat memang menjadi pemicu awal, tetapi berubahnya air hujan menjadi aliran banjir bandang yang membawa lumpur, batu, kayu dan material lainnya merupakan hasil dari rangkaian proses yang terjadi di wilayah hulu hingga alur sungai.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan di sekitar Solok mencapai sekitar 94 milimeter per hari. Hujan lebat tersebut disebut menjadi pemicu banjir bandang yang terjadi Senin malam.
Namun, menurut Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono, angka curah hujan saja belum cukup untuk menjelaskan mengapa aliran air berkembang menjadi galodo dengan daya rusak besar.
Ada sebuah rantai proses yang perlu dilihat yakni hujan – lereng – kejenuhan tanah – longsoran – DAS – material lepas – konsentrasi limpasan – galodo.
Hujan lebat dengan akumulasi sekitar 94 mm per hari membuat suplai air menuju daerah aliran sungai (DAS) meningkat dengan cepat. Ketika hujan berlangsung selama beberapa jam, sebagian air masuk ke dalam tanah melalui proses infiltrasi. Pada saat yang sama, sebagian lainnya menjadi limpasan permukaan.
Persoalan muncul ketika kemampuan tanah menyerap air terlampaui. Air kemudian lebih cepat mengalir di permukaan dan terkonsentrasi menuju alur-alur sungai. Dalam kondisi wilayah hulu Solok yang memiliki topografi perbukitan hingga pegunungan, proses tersebut menjadi semakin cepat.
Kemiringan lereng menjadi faktor penting berikutnya. Pada lereng yang relatif curam, air memiliki energi gravitasi lebih besar dan dapat bergerak dengan kecepatan tinggi. Aliran tersebut tidak hanya membawa air, tetapi juga mampu mengikis permukaan tanah dan mengangkut material seperti tanah, batu serta kayu menuju alur sungai.
Artinya, ketika air semakin deras, material yang tersedia di sepanjang jalur aliran juga berpotensi ikut terseret.
Hujan yang berlangsung terus-menerus juga membuat pori-pori tanah terisi air hingga mendekati kondisi jenuh. Dalam kondisi tersebut, tekanan air pori meningkat sehingga kekuatan geser tanah dapat menurun. Lereng pun menjadi lebih rentan mengalami ketidakstabilan atau longsor. Longsoran yang terjadi di kawasan hulu kemudian dapat memasukkan tanah, batu, pohon dan material lainnya ke dalam alur sungai. Di sinilah karakter galodo mulai terlihat.
Galodo bukan sekadar banjir yang membawa air dalam jumlah besar. Alirannya dapat berubah menjadi campuran air dengan material padat dalam jumlah besar sehingga daya rusaknya meningkat.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah keberadaan material lepas di sepanjang alur sungai. Endapan pasir, kerikil, bongkah batu, kayu maupun material hasil longsoran yang sebelumnya berada di dasar atau tebing sungai dapat kembali termobilisasi ketika debit air meningkat secara tiba-tiba. Akibatnya, volume material yang dibawa aliran bertambah. Air yang semula bergerak sebagai limpasan kemudian berkembang menjadi aliran yang membawa muatan sedimen dan material padat dalam jumlah besar.
Air dari berbagai lereng dan anak sungai pada akhirnya berkumpul di lembah dan alur sungai utama. Pada DAS dengan kemiringan yang tinggi, waktu yang dibutuhkan air untuk berkumpul dapat relatif singkat. Debit sungai pun dapat meningkat dengan cepat. Jika peningkatan debit tersebut terjadi bersamaan dengan masuknya material longsoran, sedimen, batu dan kayu, terbentuklah aliran deras bermuatan material padat.
Daryono mengingatkan, tutupan lahan juga merupakan faktor yang perlu diperiksa. Vegetasi memiliki peran dalam menahan sebagian air hujan, meningkatkan infiltrasi dan mengurangi erosi. Namun, perubahan tutupan lahan tidak semestinya langsung ditetapkan sebagai penyebab galodo Solok tanpa analisis data penggunaan lahan dan kondisi DAS secara menyeluruh.
Artinya, perlu ada pembuktian berbasis data mengenai seberapa besar kontribusi masing-masing faktor terhadap kejadian tersebut.
Rangkaian tersebut memberikan gambaran bahwa sebuah bencana hidrometeorologi tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan satu penyebab. Hujan lebat merupakan pemicu meteorologis. Tetapi besar kecilnya dampak sangat dipengaruhi oleh bagaimana kondisi lereng, tanah, DAS, sungai, material sedimen dan tutupan lahan merespons hujan tersebut.
Dalam konteks Solok, rantainya dapat disederhanakan yakni Hujan lebat → limpasan meningkat → tanah jenuh → lereng rentan longsor → material masuk sungai → sedimen dan material lama ikut termobilisasi → limpasan terkonsentrasi → terbentuk galodo.**
Karena itu, evaluasi pascabencana tidak cukup hanya menghitung berapa milimeter hujan yang turun. Yang juga perlu diperiksa adalah apa yang terjadi di hulu sebelum air tiba-tiba menerjang kawasan hilir.
Pemeriksaan kondisi DAS, kemiringan lereng, titik longsoran, sedimentasi, material yang tersedia di sepanjang alur sungai, serta perubahan tutupan lahan menjadi penting untuk memahami karakter galodo Solok sekaligus memperbaiki sistem mitigasi ke depan.
BNPB mencatat galodo di Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, menyebabkan satu warga meninggal dunia dan satu lainnya masih dalam pencarian berdasarkan pembaruan data hingga 22 September 2026. Sebanyak sembilan kepala keluarga atau 32 jiwa juga mengungsi. Dengan demikian, galodo Solok bukan hanya cerita tentang hujan yang turun deras.
Editor: Rasid Ahmad
Sumber: Akun X/Daryono Perwira Sakti
