Katakata.id – Enam dekade kurang empat tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di usia ke-56 tahun, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) terus meneguhkan perannya sebagai penjaga marwah budaya Melayu sekaligus mitra masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Momentum Milad ke-56 LAMR yang diperingati pada 5 hingga 7 Juni 2026 tidak sekadar menjadi perayaan hari jadi organisasi adat terbesar di Riau tersebut. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, memperkokoh identitas budaya, serta mendorong pemberdayaan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi.
Berpusat di Balai Adat LAMR Pekanbaru, rangkaian kegiatan berlangsung meriah dan sarat makna. Mulai dari ziarah serta silaturahmi kepada para pendiri LAMR, Musyawarah Kerja 2026, tegak tiang tonggul adat, sosialisasi administrasi dan pendaftaran tanah ulayat, bazar UMKM, pagelaran 56 juadah Melayu Riau, berbalas pantun, pelayanan kesehatan gratis, pelatihan membuat bubur lambuk hingga kegiatan Jumat Berkah.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian LAMR, Datuk Sri Taufik Ikram Jamil, mengatakan Milad ke-56 menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang LAMR dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan nilai-nilai budaya Melayu di tengah derasnya arus modernisasi.
Menurutnya, usia 56 tahun menjadi bukti konsistensi LAMR dalam mengawal adat istiadat Melayu sekaligus memperjuangkan berbagai kepentingan masyarakat Melayu di Provinsi Riau.
“Rangkaian kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk perayaan hari jadi lembaga, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam pelestarian budaya Melayu. Ini juga menjadi wadah memperkenalkan kekayaan tradisi Melayu kepada generasi muda,” ujar Taufik.
Ia menjelaskan, kegiatan ziarah kepada para pendiri LAMR merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh yang telah meletakkan fondasi perjuangan lembaga adat tersebut sejak berdiri pada 1970 silam.
Sementara Musyawarah Kerja 2026 menjadi forum strategis untuk merumuskan langkah-langkah dan program kerja yang relevan dalam menjawab tantangan masyarakat adat di masa depan, termasuk isu pelestarian budaya, tanah ulayat, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Tidak hanya fokus pada pelestarian budaya, LAMR juga menunjukkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan masyarakat melalui pelaksanaan bazar UMKM dan layanan kesehatan gratis yang terbuka bagi masyarakat umum.
Pagelaran 56 juadah Melayu Riau dan tradisi berbalas pantun menjadi salah satu daya tarik utama dalam perayaan tersebut. Kegiatan itu tidak hanya menghadirkan kekayaan kuliner dan sastra Melayu, tetapi juga menjadi sarana pewarisan nilai budaya kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Pelestarian adat dan budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kegiatan yang kami laksanakan juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Taufik berharap Milad ke-56 menjadi momentum memperkuat sinergi antara lembaga adat, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga eksistensi budaya Melayu sebagai identitas utama Bumi Lancang Kuning.
“Kebersamaan ini sangat penting agar adat dan budaya Melayu tetap hidup, berkembang, dan menjadi jati diri masyarakat Riau di masa depan,” katanya.
Sementara itu, Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Riau, Helmi D, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan ucapan tahniah atas Milad ke-56 LAMR.
Menurutnya, kemampuan LAMR bertahan dan berkembang selama lebih dari lima dekade merupakan bukti nyata besarnya kontribusi lembaga tersebut dalam menjaga warisan budaya Melayu.
“Organisasi yang mampu bertahan selama puluhan tahun tentu memiliki kontribusi besar bagi masyarakat. Keberhasilan ini tidak terlepas dari dedikasi para pendiri, pengurus, dan seluruh anggota yang terus menjaga komitmen terhadap pelestarian adat dan budaya Melayu,” ujarnya.
Helmi juga mengapresiasi berbagai kegiatan yang digelar karena tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki nilai edukatif, sosial, dan budaya yang kuat.
Bagi masyarakat Riau, Milad ke-56 LAMR bukan sekadar perayaan usia organisasi. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya perubahan zaman, adat dan budaya Melayu tetap menjadi akar yang menguatkan identitas masyarakat serta menjadi penuntun dalam membangun masa depan yang beradab dan bermartabat.(Mediacenter Riau)
