Katakata.id – Teror seekor monyet ekor panjang yang menyerang warga di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, terus menjadi perhatian serius. Hingga awal Agustus 2026, sebanyak 19 warga dilaporkan mengalami luka akibat serangan satwa liar tersebut.
Merespons kondisi itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melalui Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, Forkopimda, serta berbagai instansi terkait guna menangani konflik manusia dan satwa liar secara terukur.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Namun, setiap langkah penanganan tetap harus mengedepankan prinsip-prinsip konservasi.
“Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi,” ujarnya dalam siaran persnya, Kamis (6/8/2026).
Tim WRU bersama Kapolres Indragiri Hilir, Dinas Pemadam Kebakaran, Camat Tembilahan, dan Lurah Tembilahan Kota telah menggelar rapat koordinasi pada Rabu (5/8/2026) di Kantor Lurah Tembilahan Kota. Pertemuan tersebut bertujuan menyamakan langkah penanganan sekaligus mengevaluasi perkembangan konflik yang telah berlangsung sejak 23 Juli 2026.
Berdasarkan hasil identifikasi, serangan terjadi di kawasan Parit 12, Parit 13, Parit 14, dan Parit 15, Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota.
Dari hasil pemantauan sementara, petugas menduga pelaku merupakan satu individu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dewasa berjenis kelamin jantan. Satwa itu memiliki ciri khas berupa bekas luka atau codet di bagian pipi, sehingga memudahkan proses identifikasi di lapangan.
Pola serangannya pun terbilang unik. Monyet tersebut cenderung mengincar warga yang berjalan sendirian atau sedang lengah. Setelah menggigit bagian kaki korban, satwa itu langsung melarikan diri.
“Hingga saat ini individu tersebut juga belum merespons umpan yang diberikan berupa pisang,” ungkap Ujang.
Sebelum Tim WRU turun ke lokasi, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bersama unsur TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, pemerintah kecamatan, relawan, hingga masyarakat telah melakukan berbagai upaya pencarian menggunakan jaring dan tangguk. Berbagai langkah mitigasi juga dilakukan untuk mencegah bertambahnya korban.
Meski demikian, seluruh pihak sepakat bahwa penanganan tidak boleh dilakukan dengan cara memburu atau melukai satwa tersebut. Fokus utama saat ini adalah memperkuat pemantauan di lapangan serta memasang kandang perangkap agar individu penyebab konflik dapat dievakuasi dengan aman.
BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan tidak beraktivitas sendirian di lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan satwa. Warga diminta tidak memberikan makanan kepada monyet liar serta segera melapor kepada petugas apabila melihat monyet dengan ciri bekas luka di bagian pipi.
BBKSDA berharap masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang justru memperburuk situasi. Penanganan konflik satwa liar, menurut mereka, membutuhkan kerja sama semua pihak agar keselamatan warga tetap terjamin, sementara satwa liar dapat ditangani sesuai kaidah konservasi.
Editor: Rasid Ahmad
