Oleh: Marcelina Putri Nabila, Mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Katakata.id – Pola asuh adalah cara setiap orang tua mendidik, membimbing, dan melindungi anaknya dari bayi hingga dewasa. Orang tua dengan pola asuh yang baik akan ber dampak positif kepada sang anak, terutama kepada perkembangan psikososialnya, yang pastinya itu akan sangat berpengaruh pada kognitif dan fisik sang anak. Hal ini dapat kita lihat seperti, anak dapat menjadikan dirinya sebagai pribadi yang lebih baik lagi, mandiri, cerdas, bertanggung jawab, dan juga sopan. sebaliknya, jika pola asuh orang tua tersebut salah, maka akan berdampak negatif kepada sang anak. Anak cenderung lebih mudah menyerah, emosi, tidak bisa mandiri, dan juga dapat menyerang kapasitas fisik dan kognitif sang anak.
Sekarang kita akan bahas, apa saja perbedaan pola asuh keluarga Asia dengan pola asuh keluarga Eropa? dalam masalah pola asuh, keluarga Asia lebih menekankan pola asuh proksimal dan pola asuh otoriter kepada sang anak, pola asuh proksimal adalah pola asuh yang lebih menekankan kepada kontak tubuh antara ibu dan juga anak, sedangkan pola asuh otoriter ialah pola asuh yang lebih menekankan kedisiplinan yang ketat kepada sang anak,yang bertujuan untuk membuat anak patuh dan mendengarkan semua peraturan orang tuanya. Dalam pola asuh ini orang tua cenderung lebih bersikap keras, memaksa, dan juga mengontrol semua kegiatan sang anak. Hal ini dapat bedampak negatif ke kehidupan sang anak selanjutnya, anak bisa jadi lebih manja, kurang percaya diri, dan bahkan dapat membuat anak mejadi pribadi yang cukup keras (tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, egois, dan mau menang sendiri).
Pola asuh keluarga Asia juga termasuk kategori pola asuh yang cukup keras, dimana dalam pola asuh keluarga Asia sangat mengedepankan agama, budaya, dan juga bagaimana orang tua kita dulunya di didik.
Di Asia, terutama Indonesia angka kesehatan dan permasalahan mental anak dan remaja tergolong tinggi. Menurut hasil survey dari I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 remaja (34,9%) mengalami masalah kesehatan mental, angka tersebut setara dengan 15, 5 juta dan 2, 45 juta remaja
Detail angka dan jenis gangguan mental:
- Gangguan cemas: 26,7%.
- Masalah pemusatan perhatian dan/atau hiperaktivitas: 10,6%.
- Depresi: 5,3%.
- Masalah perilaku: 2,4%.
- Stres pascatrauma: 1,8%.
Dari data diatas, dapat kita lihat, bahwa pola asuh keluarga itu sangat penting dan berpengaruh besar terhadap Kesehatan dan juga kelangsungan psikologis sang anak.
Sedangkan pola asuh keluarga Eropa lebih menekankan kepada pola asuh distal. Pola asuh distal yaitu, pola asuh yang dimana sang anak cenderung diutamakan untuk lebih mandiri, mengambil keputusan sendiri dan memberikan kepercayaan lebih kepada sang anak dalam menentukan jalan hidup anak selanjutya. Di dalam pola asuh distal ini, orang tua tidak terlalu melibatkan dirinya langsung dengan sang anak, mereka lebih cenderung membebaskan sang anak untuk mengeksplore dunianya lebih luas dan mendalam lagi. Dari pola asuh ini anak dapat mengenal dirinya lebih baik lagi (self recognition).
Namun, pola asuh ini juga dapat memberikan dampak negatif kepada sang anak, Dimana anak jadi cenderung ingin berkuasa dan mengatur, hal ini disebabkan karena kedudukan anak setara dengan kedudukan orang tua, anak juga dapat melakukan segala hal untuk mencapai keinginannya, baik hal itu positif maupun negatif. (***)
