Katakata.id – Kesabaran masyarakat Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, menghadapi persoalan listrik akhirnya kembali diuji. Setelah pemadaman berlangsung kurang lebih lima bulan, masyarakat kini menunggu kepastian dari PLN.
Persoalan tersebut menjadi perhatian serius Ikatan Mahasiswa Kecamatan Rangsang Barat (IPMKRB) yang turut mengawal pertemuan antara Pemerintah Kecamatan Rangsang Barat, masyarakat, tokoh masyarakat, dan pihak PLN, Rabu (26/8/2026).
Ketua Umum IPMKRB, Anissa Rahmaddini, hadir langsung dalam pertemuan tersebut. Ia mendengarkan penjelasan pihak PLN sekaligus menyampaikan sejumlah penegasan kepada Manager PLN pada sesi akhir pertemuan.
Dalam pertemuan itu, PLN menyampaikan bahwa kondisi kelistrikan di Rangsang Barat ditargetkan kembali stabil pada 1 September 2026.
Namun, target tersebut disebut masih menjadi solusi jangka pendek. PLN juga menyampaikan bahwa solusi jangka panjang akan dilakukan setelah mesin baru tiba dan dapat dioperasikan.
Bagi IPMKRB, penjelasan tersebut belum cukup untuk menghapus keresahan masyarakat yang sudah berbulan-bulan merasakan dampak pemadaman.
“Kami sudah mendengar penjelasan dan mencatat komitmen PLN. Tapi masyarakat tidak membutuhkan alasan yang terus berulang. Yang dibutuhkan adalah listrik yang benar-benar menyala dan stabil,” tegas Anissa.
IPMKRB juga mempertanyakan kepastian terkait mesin baru yang disebut PLN sebagai solusi jangka panjang.
Menurut Anissa, masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jelas mengenai kedatangan hingga pengoperasian mesin tersebut. “Kalau mesin baru memang menjadi solusi, masyarakat berhak tahu kapan datang, kapan beroperasi, dan kapan persoalan ini benar-benar selesai. Jangan sampai solusi jangka pendek kembali menjadi alasan untuk menunda penyelesaian,” ujarnya.
IPMKRB menilai persoalan listrik yang berlangsung selama lima bulan bukan lagi sekadar masalah penerangan. Pemadaman yang berulang telah berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari pendidikan, kegiatan ekonomi, komunikasi hingga kehidupan rumah tangga sehari-hari.
Karena itu, IPMKRB meminta komitmen PLN tidak berhenti pada forum pertemuan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam pelayanan listrik yang stabil di tengah masyarakat.
Kini, 1 September 2026 menjadi tanggal yang dinantikan sekaligus titik uji komitmen PLN.
IPMKRB menyatakan akan memantau langsung realisasi janji tersebut di lapangan. Jika kondisi kelistrikan tidak sesuai dengan komitmen yang telah disampaikan, organisasi mahasiswa tersebut akan kembali meminta pertanggungjawaban dan tindak lanjut dari pihak terkait.
IPMKRB menegaskan, pengawalan persoalan ini bukan untuk mencari konflik dengan PLN. Sebaliknya, mahasiswa ingin memastikan keresahan masyarakat benar-benar mendapatkan penyelesaian.
Sebab, bagi masyarakat Rangsang Barat, listrik bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar yang menopang hampir seluruh aktivitas kehidupan. Lima bulan sudah masyarakat menunggu. Kini bukan waktunya lagi sekadar menjelaskan persoalan. PLN ditunggu untuk membuktikan komitmennya.(RLS/RSD)
