Katakata.id – Komunitas Teratak Literasi menggelar diskusi publik yang dirangkai dengan kegiatan berbuka puasa bersama pada Ahad (8/3/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Agresi Militer AS dan Israel ke Palestina dan Iran: Dampak dan Tantangan bagi Perdamaian Global.”
Diskusi yang berlangsung hangat tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan aktivis, akademisi, hingga pengamat hubungan internasional. Para pembicara membedah dinamika geopolitik global sekaligus menyoroti dampaknya terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Founder Teratak Literasi, Nugroho Noto Susanto, menjelaskan bahwa Teratak Literasi merupakan komunitas belajar yang terus berkembang. Komunitas ini awalnya lahir di Yogyakarta, kemudian sempat beraktivitas di Rokan Hulu sebelum akhirnya berlanjut di Pekanbaru.
Menurutnya, diskusi publik semacam ini penting untuk membuka ruang dialog dan memperkaya perspektif masyarakat terhadap berbagai persoalan global.
“Kita melihat tatanan global saat ini seperti tidak lagi memiliki keseimbangan. Amerika Serikat tampil sebagai negara yang bertindak seolah-olah seluruh wilayah di dunia berada dalam pengaruhnya,” ujar Nugroho.
Ia menilai masyarakat perlu memiliki perspektif yang jelas dalam memahami dinamika geopolitik yang terjadi, sehingga mampu menemukan titik temu dalam menyikapi berbagai persoalan internasional.
Dalam diskusi tersebut, aktivis Agra dan APC Indonesia, Rendy Perdana Khasmy, menyoroti pentingnya pemahaman yang objektif terhadap gerakan perlawanan terhadap imperialisme, khususnya yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, kaum tani memiliki kepentingan besar dalam melawan dominasi negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan sekutunya.
“Kami kaum tani memiliki kepentingan agar dominasi imperialisme Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel, tidak lagi mencengkeram negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia dan negara-negara di Asia,” kata Rendy.
Ia menilai dominasi global tersebut juga berdampak pada sektor pertanian di Indonesia. Banyak aspek pertanian, mulai dari benih, bibit hingga pestisida, masih berada di bawah pengaruh perusahaan-perusahaan besar yang terkait dengan kepentingan global.
“Hampir seluruh input pertanian, mulai dari benih hingga pestisida, dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki keterkaitan dengan kekuatan ekonomi global,” ujarnya.
Selain itu, ia menilai kontrol terhadap distribusi hasil pertanian membuat petani belum sepenuhnya memiliki kedaulatan atas produksi mereka sendiri.
Sementara itu, Pakar Keamanan Internasional Universitas Islam Riau (UIR), Rendi Prayuda, menilai kondisi geopolitik dunia saat ini semakin kompleks dan dipenuhi ketegangan.
Menurutnya, dinamika global yang terjadi saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi sebelum pecahnya Perang Dunia II.
“Dunia saat ini tidak sedang baik-baik saja. Kita melihat meningkatnya ketegangan geopolitik yang dalam beberapa hal mengingatkan pada kondisi menjelang Perang Dunia II,” kata Rendi.
Ia menjelaskan bahwa sistem politik internasional saat ini cenderung bersifat multipolar, dengan tiga kekuatan besar yang memainkan peran penting, yakni Amerika Serikat, China, dan Rusia.
“Jika dilihat dari sistem polarisasi politik internasional, dunia saat ini berada dalam sistem multipolar dengan tiga kekuatan utama tersebut,” ujarnya.
Rendi juga menambahkan bahwa pola konflik modern telah mengalami perubahan signifikan dibandingkan masa lalu.
“Perang saat ini tidak selalu membutuhkan pengerahan pasukan infanteri secara besar-besaran. Serangan dapat dilakukan melalui teknologi militer seperti rudal jarak jauh,” jelasnya.
Dalam analisisnya, konflik yang melibatkan Iran juga tidak terlepas dari berbagai kepentingan strategis, mulai dari keamanan, ekonomi, hingga pengaruh geopolitik di kawasan.
Sementara itu, pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Dina Y. Sulaeman, menilai upaya Amerika Serikat untuk menggulingkan pemerintahan Iran sebenarnya telah berlangsung sejak lama, terutama setelah Revolusi Islam Iran.
Menurutnya, revolusi tersebut membuat Amerika Serikat kehilangan pengaruh terhadap sumber daya alam Iran.
“Upaya untuk melemahkan Iran sudah berlangsung sejak Revolusi Islam Iran, yang memutus dominasi Amerika terhadap sumber daya alam negara tersebut,” kata Dina.
Ia juga menyinggung bahwa dalam berbagai pernyataan politiknya, Amerika Serikat sering menyebut Iran sebagai ancaman, salah satunya karena dukungan Iran terhadap kelompok perlawanan Palestina.
Diskusi publik yang berlangsung dinamis ini diikuti dengan antusias oleh peserta yang hadir. Selain menjadi ruang dialog intelektual, kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan literasi masyarakat terhadap isu-isu geopolitik global yang dinilai memiliki dampak luas terhadap stabilitas dunia. (Rasid Ahmad)
