Katakata.id – Mayoritas orang tua dan wali murid mendukung penerapan jalur domisili dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Namun, dukungan tersebut belum sepenuhnya diiringi kepercayaan terhadap pelaksanaan sistem, terutama terkait keandalan teknologi dan potensi kecurangan.
Temuan itu terungkap dalam Survei Opini Pelaksanaan SPMB 2026 yang dirilis Lembaga Survei KedaiKOPI secara daring, Jumat (3/7/2026).
Head of Research KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, mengatakan sebanyak 66 persen responden menyatakan mendukung jalur domisili dalam SPMB 2026. Meski demikian, tingkat dukungan tersebut dinilai belum terlalu kuat.
“Kalau kita lihat nilai rata-ratanya 6,71, sebenarnya dapat dikategorikan cukup setuju. Jadi walaupun ada pendukungan, tetapi sebenarnya dukungannya tidak terlalu kuat,” ujar Ashma.
Ia menjelaskan, sekitar 34 persen responden masih menyatakan keberatan terhadap penerapan jalur domisili, meskipun konsep serupa telah diterapkan selama hampir sembilan tahun dalam sistem penerimaan peserta didik di sekolah negeri.
Menurut Ashma, alasan utama dukungan terhadap jalur domisili adalah karena sekolah yang dekat dengan tempat tinggal dinilai mampu mengurangi biaya transportasi sekaligus memberikan kesempatan lebih besar bagi anak-anak di sekitar sekolah untuk memperoleh akses pendidikan.
“Mereka menganggap ini bisa meringankan biaya transportasi dan memberikan kesempatan bagi warga di sekitar sekolah untuk masuk sekolah tersebut. Jadi dianggap lebih adil bagi warga yang tinggal di sekitar sekolah,” katanya.
Di sisi lain, kelompok yang tidak mendukung jalur domisili menilai kebijakan tersebut berpotensi menghambat siswa berprestasi yang tinggal jauh dari sekolah dengan kualitas pendidikan yang dianggap lebih baik.
“Mereka menganggap jalur domisili merugikan anak yang berprestasi,” ujar Ashma.
Survei juga menunjukkan persepsi mengenai sekolah favorit masih sangat kuat di masyarakat. Sebanyak 80,2 persen responden meyakini masih ada sekolah-sekolah tertentu yang menjadi incaran utama para orang tua.
Menurut Ashma, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian masyarakat belum sepenuhnya menerima kebijakan jalur domisili.
“Ini bisa jadi karena memang masih ada persepsi terkait sekolah favorit yang masih tinggi, dan juga ketersediaan sekolah negeri yang mungkin terbatas di beberapa wilayah domisili,” jelasnya.
Selain persoalan persepsi, aspek teknis pelaksanaan SPMB juga masih menjadi kekhawatiran masyarakat.
Survei mencatat sebanyak 71,8 persen responden mengaku khawatir terhadap keakuratan sistem dalam membaca lokasi tempat tinggal dan menghitung jarak ke sekolah tujuan.
“Sebanyak 71,8 persen orang tua merasa khawatir mengenai keterandalan sistem dalam membaca lokasi mereka,” kata Ashma.
Tak hanya itu, potensi praktik kecurangan juga masih menjadi perhatian. Sebagian responden masih mengkhawatirkan adanya titipan, manipulasi dokumen, hingga praktik jual beli kursi dalam proses penerimaan murid baru.
“Hal-hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah dalam pelaksanaan SPMB tahun 2026,” ujarnya.
Survei KedaiKOPI juga menemukan bahwa sekolah swasta belum menjadi pilihan utama bagi sebagian besar keluarga. Sebanyak 78,6 persen responden menilai biaya pendidikan di sekolah swasta masih terlalu berat bagi kondisi ekonomi mereka.
Menurut Ashma, persepsi tersebut dipengaruhi besarnya biaya masuk maupun iuran bulanan yang dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan sekolah negeri.
Berdasarkan berbagai temuan tersebut, KedaiKOPI merekomendasikan agar pemerintah tidak hanya fokus pada sosialisasi mekanisme pendaftaran, tetapi juga memperkuat pemahaman masyarakat mengenai tujuan utama penerapan SPMB.
“Kami menyarankan agar substansi tujuan SPMB semakin diperkuat, terutama terkait jalur domisili. Jadi masyarakat memahami bahwa SPMB bukan hanya soal tata cara pendaftaran, tetapi juga mengapa empat jalur penerimaan itu penting diterapkan,” kata Ashma.
Survei ini dilaksanakan pada 14–22 Juni 2026 terhadap 585 responden yang merupakan orang tua atau wali calon peserta didik jenjang SD hingga SMA yang berencana mendaftarkan anak ke sekolah negeri. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan metode Computer Assisted Self Interview (CASI).
Editor: Rasid Ahmad
