Katakata.id – Negara itu hanya salah satu subsistem kehidupan berbangsa. Jadi kehidupan kita berbangsa itu ada state, ada civil society, ada dunia usaha dan ada media.
Hal itu disampaikan Pengamat Hukum Tata Negara Prof Jimly Asshiddiqie pada acara Jimly Award 2025 seperti dikutip dari tayangan Youtube JSLG Official, Sabtu (18/10/2025).
Prof Jimly berpandangan bahwa sekarang yang paling berkuasa itu sebenarnya yang keempat yakni media. Kita harus melihat gejala baru. Inilah yang saya namakan The New Quadro Politica dalam arti makro. Ada dalam arti mikro ada dalam arti makro empat cabang kekuasaan itu.
“Dalam arti mikro yakni eksekutif, legislatif, yudikatif dan cabang keempat cabang campuran. Bawaslu dan KPU itu contoh cabang keempat. Bawaslu dan KPU bukan bawahan presiden karena presiden itu peserta pemilu maka dia tidak boleh dibawah presiden itulah yang saya namakan Mikro Quadro Politica empat cabang kekuatan dalam arti mikro,” ungkapnya.
Tapi disamping itu, kata dia, ada yang makro yang makro itu ya itu tadi state, civil society, market dan media. Ini kenyataan baru gak bisa kita abaikan.
Negara tidak lagi bisa menguasai semuanya. “Negara jangan lagi mempersepsi dia menguasai semuanya. Gak bisa. Bahwa hawa nafsu politik berusaha untuk merangkul semuanya itu naluri manusiawi. Tetapi kita harus menjaga supaya empat cabang kekuatan ini dia harus berbagi peran,” ujarnya.
Prof Jimly menjelaskan bahwa dalam sejarah republik kita berbeda dengan sejarah di eropa. Civil society dibangun oleh kesadaran politik para penguasa. para penguasa sesudah dia membangun kesadaran baru maka dibuatlah namanya partisipasi publik lalu dibikin namanya itu NGO. Itu belakangan hari baru muncul kesadaran itu. Berbeda dengan Indonesia. Sebelum Indonesia dibentuk sebagai organisasi negara, kita sudah punya banyak ratusan Ormas. Ormas di Indonesia ini lebih dulu dari organisasi negara.
“Ini mirip seperti Nabi Muhammad SAW sebelum mendirikan sebuah negara bernama Madinah dia membangun masyarakat di Yasrib yang kemudian berubah nama menjadi Madinah. Jadi membangun civil society masyarakat, baru diorganisasikan menjadi negara berkonstitusi,” jelasnya.
Ratusan Ormas sudah berdiri sebelum tahun 1945. “Indonesia ini sebelum tahun 1945 sudah ada ratusan Ormas. Diantara Ormas pertama itu yakni Syarikat Dagang Islam yang kemudian berubah oleh HOS Cokroaminoto dan kawan-kawan dirubah menjadi Syarikat Islam. Organisasi kayak begitu itulah kekuatan civil society dalam sejarah Indonesia. Baru sesudahnya kita bikin negara,” terangnya.
Prof Jimly menyampaikan negara itu berhutang budi kepada Ormas dalam sejarah Indonesia. Hutang budinya banyak. Semua sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi berawal dari infrastruktur sosial yang dinegarakan.
“Dimana ada daerah pemekaran pasti disana ada penegerian sekolah ada sekolah negeri yang tadinya swasta dinegerikan, rumah sakit swasta dinegerikan. Itu etatisme menegerikan itu persis seperti kebiasaan kita sebelum Indonesia merdeka,” terangnya.
Menurutnya, civil society itu gak bisa diabaikan keberadaannya, itu karakter kebangsaan kita.
“Maka kalau kita membangun bangsa, bukan cuma negara dalam arti sempit yang harus bekerja tapi juga civil society, dunia usaha semua membangun bangsa,” tegas Prof Jimly.
Editor: Rasid Ahmad
