Katakata.id – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 telah melahirkan kepemimpinan baru. KH Miftachul Akhyar dipercaya sebagai Rais Aam, sementara KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin dipercaya memimpin PBNU.
Kemenangan Gus Kikin menjadi salah satu hasil penting dalam forum tertinggi organisasi Nahdlatul Ulama tersebut. Dukungan terhadapnya disebut menembus 472 dukungan dari wilayah dan cabang NU di seluruh Indonesia.
Namun, di balik angka besar tersebut, ada cerita lain yang tidak banyak terlihat di depan kamera.
Ada sosok yang bekerja dalam senyap, mengonsolidasikan dukungan dan menghubungkan berbagai simpul kekuatan NU di daerah. Sosok itu adalah Dr. Ir. H. Muhammad Lukman Edy, M.Si.
Mantan Sekretaris Jenderal DPP PKB dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) itu disebut memainkan peran penting dalam proses pemenangan Gus Kikin.
Juru Bicara Tim Qanun Asasi (pemenangan), Abi Rekso, mengatakan kontribusi Lukman Edy dalam proses suksesi Gus Kikin cukup signifikan.
Menurut dia, waktu konsolidasi menuju Muktamar NU ke-35 terbilang sangat singkat. Tim hanya memiliki waktu sekitar dua pekan setelah Gus Kikin menyatakan mantap untuk maju.
Dalam waktu yang terbatas itu, konsolidasi dilakukan secara paralel dengan melibatkan berbagai jaringan.
“Kalau boleh jujur, persiapan ini hanya 2 minggu setelah Yai Kikin mantap untuk maju. Di bawah koordinasi Pak Lukman Edy seluruh tim bersinergi secara paralel. Alhamdulillah hasil dukungan 472 karena kerja cerdas yang solid,” kata Abi Rekso mengutip RMOL di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Angka 472 menjadi penanda penting. Sebab, dukungan tersebut datang dari wilayah dan cabang NU yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia.
Menurut Abi Rekso, hasil tersebut tidak terlepas dari jaringan dan pengalaman Lukman Edy selama bertahun-tahun bersentuhan dengan tokoh-tokoh NU di berbagai daerah.
Lukman Edy bukan figur baru dalam perjalanan politik NU dan PKB. Lahir di Teluk Pinang, Indragiri Hilir, Riau, pada 26 November 1970, Lukman Edy menempuh pendidikan Teknik Sipil di Universitas Brawijaya. Karier politiknya dimulai dari Riau. Ia pernah memimpin PKB Riau dan menjadi anggota DPRD Riau.
Dalam perjalanan politiknya, Lukman Edy juga dikenal sebagai salah satu tokoh Melayu yang ikut menggalang kekuatan NU di Sumatera untuk bergabung dengan PKB yang ketika itu dipimpin KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Jejaring tersebut kemudian berkembang ke tingkat nasional. Pada 2005, Lukman Edy dipercaya Muhaimin Iskandar menjadi Sekretaris Jenderal DPP PKB. Dua tahun kemudian, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayakannya sebagai Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal untuk periode 2007–2009.
Pengalaman panjang itu membuat Lukman Edy memiliki jejaring politik dan organisasi yang cukup luas, termasuk dengan sejumlah tokoh NU di berbagai daerah. Jaringan inilah yang kemudian menjadi salah satu modal dalam konsolidasi dukungan untuk Gus Kikin.
Muktamar NU ke-35 juga memperlihatkan kuatnya perhatian pemerintah terhadap organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Presiden Prabowo Subianto tidak hanya hadir dalam pembukaan Muktamar NU ke-35 pada 27 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Presiden juga hadir dalam penutupan pada Senin (31/8/2026).
Kehadiran Presiden dalam dua momentum penting tersebut memberi pesan politik bahwa NU memiliki posisi strategis dalam kehidupan kebangsaan sekaligus dalam agenda pemerintahan. NU bukan hanya organisasi yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan dan pendirian bangsa, tetapi juga diposisikan sebagai salah satu mitra strategis pemerintah dalam menjalankan berbagai program pembangunan.
Di tengah posisi tersebut, pergantian kepemimpinan NU melalui Muktamar ke-35 menjadi momentum penting untuk melihat bagaimana organisasi tersebut akan menempatkan dirinya dalam dinamika kebangsaan dan hubungan dengan pemerintah.
Dan di balik lahirnya kepemimpinan baru itu, nama Lukman Edy muncul sebagai salah satu figur yang bekerja jauh dari sorotan kamera. 472 dukungan tidak lahir dalam semalam. Di balik angka itu ada konsolidasi, jaringan dan kerja politik yang berlangsung dalam senyap.
Editor: Rasid Ahmad
Sumber: RMOL
