Katakata.id – Skandal dugaan korupsi yang menyeret pimpinan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mendapat sorotan tajam dari sejarawan senior Prof. Anhar Gonggong. Ia mengaku kecewa dan marah karena dugaan praktik korupsi justru terjadi di lingkungan perguruan tinggi yang membawa nama besar Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebelumnya menetapkan Rektor Unsoed Prof. Akhmad Sodiq bersama Wakil Rektor III dan sejumlah pihak terkait sebagai tersangka dalam dugaan pemerasan pada proses penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri, khususnya di Fakultas Kedokteran.
Bagi Prof. Anhar, perkara tersebut bukan sekadar persoalan hukum. Ada persoalan moral dan integritas yang jauh lebih besar ketika dugaan penyalahgunaan jabatan terjadi di institusi pendidikan yang menggunakan nama seorang tokoh bangsa.
Nama Jenderal Soedirman, menurutnya, tidak sekadar menjadi identitas sebuah universitas. Nama tersebut membawa nilai perjuangan, keberanian, integritas dan pengabdian kepada bangsa. Karena itu, dugaan korupsi di lingkungan Unsoed dinilai menjadi ironi yang menyakitkan.
Di mata Prof. Anhar, seorang rektor seharusnya menjadi teladan bagi sivitas akademika. Jabatan tersebut bukan sekadar posisi administratif, melainkan amanah untuk menjaga marwah pendidikan sekaligus membentuk karakter generasi bangsa. Ketika jabatan justru diduga digunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi, persoalannya tidak lagi berhenti pada pelanggaran aturan.
Perguruan tinggi semestinya menjadi tempat masyarakat menanamkan harapan tentang masa depan. Dari kampus, lahir dokter, guru, peneliti, birokrat, pengusaha, pemimpin dan berbagai profesi yang akan menentukan arah bangsa. Karena itu, kampus seharusnya menjadi salah satu ruang paling kuat untuk menanamkan kejujuran.
Ironis apabila tempat yang mengajarkan integritas justru tersandung perkara yang berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan.
Prof. Anhar juga menyoroti persoalan kepemimpinan di perguruan tinggi. Menurutnya, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang melekat di dalamnya.
Rektor tidak hanya bertanggung jawab terhadap administrasi universitas. Ia juga membawa tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai akademik, membangun budaya integritas dan memberikan contoh kepada mahasiswa serta seluruh civitas akademika.
Dalam konteks itulah, kasus Unsoed menjadi momentum untuk kembali bertanya untuk apa sebenarnya pendidikan tinggi dibangun?
Apakah kampus hanya menjadi tempat memperoleh gelar dan mengejar jabatan, atau menjadi ruang untuk membentuk manusia yang berpengetahuan sekaligus berkarakter?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika persoalan penerimaan mahasiswa baru diduga menjadi pintu masuk praktik pemerasan. Pendidikan semestinya membuka kesempatan berdasarkan kemampuan, proses yang adil, serta aturan yang transparan. Jangan sampai akses terhadap pendidikan tinggi berubah menjadi transaksi kekuasaan.
Jika hal tersebut terjadi, yang paling dirugikan bukan hanya mahasiswa dan orang tua, tetapi juga masa depan dunia pendidikan itu sendiri.
Prof. Anhar pun menyerukan agar Menteri Pendidikan Tinggi melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola perguruan tinggi. Evaluasi diperlukan bukan hanya untuk mencari siapa yang salah, tetapi juga memastikan sistem pendidikan memiliki mekanisme pencegahan yang kuat agar praktik serupa tidak kembali terjadi. Sebab, memberantas korupsi tidak cukup hanya dengan menangkap pelaku.
Kasus Unsoed pada akhirnya menjadi pengingat bahwa semakin tinggi sebuah lembaga menjunjung nama besar tokoh bangsa, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga nilai yang diwariskan tokoh tersebut. Jenderal Soedirman dikenal sebagai simbol perjuangan dan keteguhan dalam mempertahankan kehormatan bangsa.
Maka, ketika nama besar itu melekat pada sebuah perguruan tinggi, nilai-nilai tersebut seharusnya hidup dalam setiap kebijakan, keputusan dan perilaku para pemimpinnya. Jangan sampai nama besar Jenderal Soedirman hanya terpampang di gerbang kampus, sementara nilai perjuangannya justru hilang dari ruang-ruang kepemimpinan. Bagi dunia pendidikan Indonesia, perkara ini seharusnya menjadi alarm keras bahwa kampus harus kembali menjadi benteng ilmu, integritas dan pembentukan karakter—bukan tempat kekuasaan diperdagangkan.
Editor: Rasid Ahmad
Sumber: Youtube Anhar Gonggong Official
