Katakata.id – Perayaan Imlek di Indonesia bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Tionghoa. Di berbagai daerah, Imlek tumbuh dan berbaur dengan budaya lokal, melahirkan tradisi yang unik, sarat makna, dan mencerminkan harmoni dalam keberagaman.
Ragam perayaan ini menjadi bukti bahwa Imlek telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara, dirayakan tidak hanya oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga melibatkan masyarakat lintas etnis dan agama.
Melansir berbagai sumber, berikut sejumlah tradisi Imlek khas dari berbagai daerah di Indonesia:
1. Grebeg Sudiro – Surakarta
Di Kota Surakarta atau Solo, Imlek dirayakan melalui Grebeg Sudiro, sebuah karnaval budaya yang memadukan tradisi Tionghoa dan Jawa. Perayaan ini biasanya digelar di kawasan Pasar Gede, yang sejak lama menjadi pusat interaksi masyarakat Tionghoa dan Jawa.
Ciri khas Grebeg Sudiro adalah arak-arakan “gunungan” berisi kue keranjang, buah-buahan, serta sayuran. Gunungan tersebut menjadi simbol rasa syukur, kemakmuran, dan semangat berbagi. Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan kirab budaya yang diwarnai barongsai, liong, serta kesenian tradisional Jawa, menggambarkan akulturasi yang harmonis.
2. Cian Cui – Selatpanjang, Riau
Di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, Imlek dirayakan dengan tradisi unik bernama Cian Cui. Tradisi ini identik dengan kegiatan saling menyiram air di antara masyarakat.
Cian Cui melambangkan pembersihan diri dari hal-hal buruk di tahun sebelumnya, sekaligus menyambut harapan dan keberuntungan di tahun yang baru. Suasana penuh kegembiraan terasa ketika warga, tua dan muda, saling menyiram air dengan penuh canda. Tradisi ini juga menjadi simbol kebersamaan serta mempererat hubungan sosial antarwarga.
3. Pawai Tatung – Singkawang
Kota Singkawang, Kalimantan Barat, dikenal luas dengan Pawai Tatung yang digelar saat Cap Go Meh, tepat 15 hari setelah Imlek. Perayaan ini bahkan menjadi daya tarik wisata nasional dan internasional.
Tatung adalah orang-orang yang diyakini dirasuki roh leluhur atau dewa setelah menjalani ritual puasa dan penyucian diri. Dalam pawai, para tatung mempertontonkan atraksi ketahanan fisik ekstrem, seperti berjalan di atas pedang atau ditusuk benda tajam, tanpa terluka.
Tradisi ini merupakan bentuk akulturasi budaya Tionghoa dan Dayak yang telah berlangsung turun-temurun. Lebih dari sekadar atraksi, Pawai Tatung menjadi simbol spiritualitas, perlindungan, dan doa keselamatan bagi masyarakat.
Keberagaman tradisi Imlek di berbagai daerah tersebut menunjukkan bahwa budaya tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh, beradaptasi, dan menyatu dengan kearifan lokal. Dari Grebeg Sudiro di Solo, Cian Cui di Selatpanjang, hingga Pawai Tatung di Singkawang, semuanya menjadi cerminan indahnya toleransi dan harmoni dalam bingkai Indonesia.
Editor: Rasid Ahmad
