Katakata.id – Di era media sosial, kritik tidak selalu berujung pada tekanan politik. Dalam banyak kasus, kritik justru bisa berubah menjadi popularitas. Fenomena itulah yang tergambar dalam viralnya lagu berbasis kecerdasan buatan (AI) berjudul **MBG**, yang belakangan menjadi salah satu perbincangan paling ramai di jagat digital Indonesia.
Awalnya, lagu tersebut lahir sebagai bentuk sindiran warganet terhadap seorang menteri yang tengah menjadi sorotan publik. Namun alih-alih menjadi alat kritik yang menekan, lagu itu justru menjelma menjadi hiburan massal yang dinikmati jutaan orang dan bahkan mendapat respons positif dari sejumlah elite politik.
Fenomena tersebut menjadi sorotan dalam analisis media sosial yang dilakukan Drone Emprit terhadap percakapan publik di platform X, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, dan media online sepanjang 1 April hingga 3 Juni 2026.
Hasilnya menunjukkan angka yang mencengangkan. Isu MBG menghasilkan sedikitnya **96.596 percakapan** dengan total interaksi mencapai lebih dari **735 juta** di berbagai platform digital.
Menurut Drone Emprit, temuan paling menarik dari fenomena ini adalah bagaimana sarkasme yang awalnya ditujukan sebagai kritik terhadap pejabat publik justru berbalik menjadi keuntungan citra politik.
“Respons santai dari sejumlah elite dan tokoh pemerintah membuat lagu tersebut semakin populer, bahkan keluar dari konteks kritik awalnya,” tulis Drone Emprit dalam laporannya yang dikutip Sabtu (6/6/2026).
Di media online, pemberitaan bernada positif mendominasi. Banyak media mengangkat sisi kreativitas digital, hiburan, hingga apresiasi pejabat terhadap karya warganet. Namun situasinya berbeda ketika melihat percakapan di media sosial.
Khusus di platform X, publik terlihat terbelah menjadi dua kelompok besar. Sebagian menikmati lagu tersebut sebagai hiburan ringan yang kreatif dan menghibur. Namun kelompok lainnya melihat viralitas MBG sebagai bentuk “gemoyfication” politik, yakni strategi mengubah kritik menjadi candaan hingga substansi persoalan yang dikritik perlahan memudar dari perhatian publik.
Percakapan mengenai MBG mencapai puncaknya pada 17 April 2026, bertepatan dengan menguatnya perdebatan mengenai kebijakan energi. Sementara di media online, pemberitaan memuncak pada 25 Mei ketika isu gemoyfication dan perubahan makna lagu tersebut ramai dibahas oleh akademisi serta pengamat komunikasi.
Sejumlah kalangan kritis menilai viralnya MBG telah menjadi distraksi dari persoalan yang lebih penting. Mereka menyoroti bagaimana kontroversi terkait kebijakan energi, pasokan BBM, hingga isu tata kelola pemerintahan perlahan tenggelam di tengah banjir konten hiburan yang terus diproduksi dan direplikasi.
Tak hanya itu, muncul pula dugaan adanya amplifikasi oleh akun-akun pendengung yang memperluas jangkauan lagu tersebut. Di sisi lain, efek “earworm” atau lagu yang terus terngiang di kepala membuat sebagian pengguna media sosial merasa jenuh karena hampir tidak bisa menghindari paparan konten MBG di lini masa mereka.
Meski demikian, banyak tokoh pemerintah dan elite partai justru memandang fenomena ini secara positif. Mereka menganggap lagu MBG sebagai bentuk kreativitas digital masyarakat yang patut diapresiasi sekaligus bukti bahwa ruang ekspresi publik semakin terbuka.
Pandangan berbeda datang dari sejumlah akademisi dan pakar komunikasi. Mereka menilai keberhasilan sebuah sindiran berubah menjadi hiburan massal menunjukkan bagaimana pengulangan pesan secara terus-menerus mampu mengubah persepsi publik.
Menurut mereka, ketika sebuah parodi terus diputar, dibagikan, dan dijadikan tren, kritik yang terkandung di dalamnya berpotensi kehilangan daya tekan dan substansi awalnya.
Menariknya, analisis juga menemukan bahwa publik masih mampu membedakan antara MBG yang viral sebagai lagu dengan Program Makan Bergizi Gratis yang dijalankan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional. Tuntutan terhadap transparansi, evaluasi, dan akuntabilitas program tersebut tetap muncul secara konsisten dalam berbagai percakapan.
Dari sisi emosi, Drone Emprit mencatat tiga respons dominan yang muncul di masyarakat. Pertama, kegembiraan dari mereka yang menikmati kreativitas dan kelucuan lagu tersebut. Kedua, kemarahan dari kelompok yang menilai viralitas MBG telah mengaburkan kritik terhadap kebijakan publik. Ketiga, kekhawatiran akan menurunnya daya kritis masyarakat akibat dominasi gimmick politik di ruang digital.
Fenomena MBG pada akhirnya menjadi cerminan wajah baru komunikasi politik di era media sosial. Kritik tidak lagi selalu menjadi ancaman bagi penguasa. Dalam kondisi tertentu, kritik justru dapat diolah menjadi simpati, popularitas, bahkan keuntungan politik.
Namun di balik keberhasilan mengubah sindiran menjadi tren hiburan nasional, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih penting bagi masa depan demokrasi Indonesia: apakah viralitas membantu publik memahami persoalan, atau justru membuat masyarakat semakin jauh dari substansi yang seharusnya diawasi bersama?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang mungkin akan menentukan kualitas ruang publik Indonesia di tengah derasnya arus informasi dan hiburan digital saat ini.
Editor: Rasid Ahmad
