Katakata.id – Pendidikan, bagi Anies Baswedan, tidak berhenti pada persoalan ruang kelas, buku pelajaran, atau distribusi tenaga pengajar. Pendidikan juga dapat menjadi ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan, terutama ketika generasi muda bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan Anies ketika menjelaskan latar belakang lahirnya Indonesia Mengajar, sebuah gerakan yang mengirim anak-anak muda terpilih untuk mengajar di sekolah dasar di berbagai pelosok Indonesia.
Menurut Anies, Indonesia Mengajar sejak awal dirancang bukan semata-mata sebagai program pengiriman guru ke daerah terpencil. Di balik aktivitas mengajar terdapat misi yang lebih panjang, yakni menyiapkan calon pemimpin yang memahami Indonesia dari dekat.
“Bukan sekadar mengajar, tetapi menyiapkan pemimpin masa depan,” demikian gagasan utama yang disampaikan Anies dalam diskusi tersebut.
Anies menilai calon pemimpin membutuhkan pengalaman langsung untuk memahami persoalan masyarakat. Pengetahuan tentang Indonesia, menurutnya, tidak cukup diperoleh dari buku, ruang kuliah, maupun pusat-pusat pemerintahan.
Karena itu, para peserta Indonesia Mengajar ditempatkan di daerah yang jauh dari pusat perkotaan agar mereka berhadapan langsung dengan kondisi masyarakat. Pengalaman tersebut diharapkan membentuk pemimpin yang memiliki kompetensi global sekaligus memahami persoalan akar rumput.
“Grass root” menjadi bagian penting dalam filosofi program tersebut. Para pengajar tidak hanya dituntut hadir di depan kelas, tetapi juga diharapkan mampu menjadi penggerak bagi sekolah dan masyarakat di tempat mereka bertugas.
Pilihan sekolah dasar bukan tanpa alasan. Anies menjelaskan, SD merupakan jenjang pendidikan yang hampir selalu tersedia hingga ke desa-desa terpencil. Dengan memilih jenjang tersebut, program dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan sekaligus menjaga jarak dari kepentingan politik praktis.
Para peserta datang dengan identitas sebagai pengajar, bukan sebagai pejabat, aktivis politik, atau pembawa agenda elektoral tertentu.
Identitas tersebut juga dimaksudkan untuk membangun sikap rendah hati. Mereka datang untuk belajar sekaligus mengabdi, bukan merasa sebagai pihak yang lebih mengetahui dibandingkan masyarakat setempat.
Indonesia Mengajar juga memiliki akar sejarah. Anies mengaitkan gagasan tersebut dengan Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) pada era 1950-an. Ketika itu, mahasiswa secara sukarela dikirim ke berbagai daerah untuk membantu mengisi kekurangan tenaga pendidik.
Menurut penjelasan Anies, pembiayaan PTM pada masa tersebut ditanggung negara. Pemerintah antara lain menyediakan biaya transportasi, sementara kebutuhan keseharian para peserta di daerah dibantu melalui keterlibatan masyarakat setempat.
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan kembali dalam konteks zaman yang berbeda melalui Indonesia Mengajar.
Salah satu persoalan yang hendak dijawab adalah ketimpangan distribusi tenaga pendidik. Di satu sisi, sejumlah wilayah perkotaan dapat mengalami kelebihan guru. Di sisi lain, sekolah-sekolah di daerah terpencil masih menghadapi kekurangan tenaga pengajar.
Indonesia Mengajar berupaya menghadirkan anak-anak muda terpilih di wilayah yang membutuhkan sekaligus mendorong mereka untuk melihat persoalan pendidikan secara lebih luas.
Peran mereka tidak hanya berlangsung selama jam pelajaran. Mereka juga diharapkan membantu sistem sekolah, administrasi, manajemen, hingga ikut menggerakkan lingkungan masyarakat.
Dalam pandangan Anies, gagasan tersebut berkaitan dengan makna pendidikan sebagai bagian dari upaya mengisi kemerdekaan.
Kemerdekaan tidak hanya dipertahankan melalui politik dan pemerintahan, tetapi juga melalui kerja panjang memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, di mana pun mereka dilahirkan.
Karena itu, keberadaan seorang pengajar di pelosok bukan sekadar mengisi kekurangan tenaga guru. Kehadiran mereka juga dapat membuka perspektif baru bagi anak-anak yang tumbuh jauh dari pusat-pusat kemajuan. Pada titik inilah pendidikan ditempatkan bukan hanya sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai proses membangun harapan.
Dan bagi Anies, pengalaman turun langsung ke akar rumput sekaligus menjadi bagian dari proses pembentukan pemimpin yang memahami Indonesia bukan hanya dari pusat kekuasaan, melainkan dari kehidupan masyarakat yang paling jauh dari pusat tersebut.
Editor: Rasid Ahmad
Diolah dari Youtube Retorika Show
