Katakata.id – Di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat, masyarakat ternyata masih menempatkan kualitas jaringan sebagai pertimbangan utama dalam memilih operator seluler.
Hal itu terungkap dalam survei nasional yang dilakukan Poltracking Indonesia bersama XSagha – Market Research & Brand Strategy pada 14–20 Agustus 2026.
Survei menunjukkan Telkomsel menjadi operator seluler yang paling dipercaya publik dari sisi kualitas jaringan, dengan tingkat kepercayaan mencapai 46,9 persen. Posisi berikutnya ditempati Indosat (IM3) sebesar 14,7 persen dan AXIS sebesar 8,4 persen.
Temuan tersebut memperlihatkan adanya jarak yang cukup lebar antara Telkomsel dan operator lain dalam persepsi publik terkait kualitas jaringan.
Peneliti XSagha – Market Research & Brand Strategy, Ahmad Zia Fitrahuddin, mengatakan tingkat kepercayaan terhadap operator seluler tidak terlepas dari pengalaman masyarakat ketika menggunakan layanan tersebut.
“Survei ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap operator seluler sangat berkaitan dengan kualitas jaringan yang mereka rasakan dalam penggunaan sehari-hari. Telkomsel menjadi operator yang paling dipercaya publik dari sisi kualitas jaringan dengan tingkat kepercayaan 46,9 persen,” ujar Ahmad.
Menariknya, ketika ditanya mengenai alasan memilih operator seluler, masyarakat tidak menempatkan harga sebagai faktor yang paling dominan. Jangkauan yang luas justru menjadi alasan utama publik memilih operator seluler, dengan angka 19,1 persen.
Setelah itu, responden menyebut sinyal yang kuat dan stabil sebesar 15,6 persen serta kecepatan internet sebesar 13,6 persen.
Artinya, bagi pengguna, kualitas layanan bukan sekadar soal seberapa murah paket data yang ditawarkan. Kemampuan operator menghadirkan koneksi di berbagai lokasi serta menjaga kestabilan jaringan menjadi bagian penting dalam menentukan pilihan.
“Jangkauan yang luas menjadi alasan utama masyarakat dalam memilih operator seluler. Setelah itu, publik mempertimbangkan kekuatan dan kestabilan sinyal serta kecepatan internet. Ini menunjukkan bahwa pengalaman nyata pengguna terhadap kualitas layanan masih menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan,” kata Ahmad.
Temuan tersebut menjadi semakin relevan karena internet kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas masyarakat. Komunikasi, pekerjaan, pendidikan, transaksi ekonomi hingga berbagai layanan digital semakin bergantung pada konektivitas.
“Bagi masyarakat, konektivitas bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan. Internet sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, sehingga ketersediaan jaringan yang luas, kuat dan stabil menjadi semakin penting,” ujarnya.
Survei Poltracking-XSagha juga mengukur tingkat pengenalan publik terhadap layanan atau kegiatan usaha Telkom Indonesia. Hasilnya, internet menjadi layanan Telkom Indonesia yang paling dikenal masyarakat dengan angka 44,7 persen.
Berikutnya adalah jaringan dan infrastruktur telekomunikasi sebesar 12,7 persen serta telepon dan komunikasi sebesar 12,4 persen.
Dominasi internet menunjukkan semakin kuatnya posisi konektivitas digital dalam kehidupan masyarakat. Internet tidak lagi dipandang sekadar sebagai layanan komunikasi, melainkan telah menjadi infrastruktur penting untuk menunjang berbagai aktivitas.
“Temuan mengenai Telkom Indonesia juga memperlihatkan bahwa internet merupakan layanan yang paling dikenal publik. Ini sejalan dengan semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas dalam berbagai aktivitas, mulai dari komunikasi hingga kegiatan ekonomi dan sosial,” kata Ahmad.
Survei nasional tersebut menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan melibatkan 1.220 responden. Dengan jumlah sampel tersebut, survei memiliki margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Pengambilan sampel menjangkau 38 provinsi di seluruh Indonesia secara proporsional berdasarkan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2024. Stratifikasi dilakukan berdasarkan proporsi jenis kelamin pemilih.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh pewawancara terlatih terhadap responden yang dipilih secara acak, dengan dukungan teknologi aplikasi. Setiap pewawancara mewawancarai 10 responden untuk setiap desa atau kelurahan terpilih. Secara umum, survei ini bertujuan mengukur persepsi publik terhadap BUMN dan brand di sektor-sektor strategis.
Menurut Ahmad, hasil survei tersebut memberikan gambaran bahwa kekuatan sebuah merek di sektor telekomunikasi sangat berkaitan dengan kualitas layanan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Bagi industri telekomunikasi, hasil ini menunjukkan bahwa membangun dan mempertahankan kepercayaan publik tidak cukup hanya melalui komunikasi merek. Kualitas layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat tetap menjadi faktor yang sangat menentukan,” katanya.
Dengan kata lain, di tengah perang promosi dan semakin banyaknya pilihan operator, publik tetap kembali pada kebutuhan paling mendasar jaringan yang tersedia ketika dibutuhkan, sinyal yang stabil dan akses internet yang cepat.
Bagi operator seluler, survei ini menjadi pengingat bahwa memenangkan hati konsumen pada akhirnya bukan hanya perkara menjual paket data, tetapi memastikan koneksi benar-benar hadir dan dapat diandalkan di tengah aktivitas masyarakat.(Rasid Ahmad)
