Katakata.id – Menjaga demokrasi bukan hanya tugas penyelenggara pemilu. Peran aktif masyarakat, terutama generasi muda, menjadi faktor penting dalam memastikan setiap tahapan pemilu berjalan jujur, adil, dan berintegritas.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Bawaslu Mengajar yang digelar Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Riau bersama mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau di Aula Kantor Bawaslu Riau, Jalan Adi Sucipto, Pekanbaru, Rabu (3/6/2026).
Sebanyak 52 mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Sosiologi Politik hadir dalam kegiatan tersebut didampingi dosen pembimbing. Kunjungan ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami secara langsung praktik pengawasan pemilu di lapangan.
Ketua Bawaslu Riau, Alnofrizal menjelaskan bahwa pengawasan pemilu bertujuan menjaga kepercayaan publik terhadap hasil demokrasi.
“Kita ingin hasil Pemilu mendapat legitimasi dari masyarakat dan mendapat kepercayaan dari masyarakat. Bawaslu memastikan seluruh tahapan Pemilu diawasi dengan baik, bahkan hingga tingkat desa dan Tempat Pemungutan Suara (TPS),” ujarnya.
Menurut Alnofrizal, Bawaslu telah membangun jaringan pengawasan yang luas hingga ke tingkat akar rumput. Pada pemilu sebelumnya, sekitar 18 ribu pengawas direkrut dan ditempatkan di berbagai tingkatan, mulai dari TPS, desa dan kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota hingga provinsi.
Namun demikian, jumlah tersebut belum cukup untuk mengawasi seluruh proses pemilu yang berlangsung di tengah masyarakat.
“Apakah Bawaslu mampu mengawasi seluruh proses pemilu hanya dengan jumlah tersebut? Jawabannya tidak. Karena itu, kami membutuhkan pengawasan partisipatif dari masyarakat,” tegasnya.
Karena itu, Bawaslu terus mengembangkan Program Pendidikan Pengawasan Partisipatif (P2P) sebagai upaya membangun kesadaran publik untuk ikut mengawal jalannya demokrasi dan mencegah berbagai potensi pelanggaran pemilu.
Dalam sesi pemaparan materi, Anggota Bawaslu Riau, Patminah Nularna yang juga Koordinator Divisi SDM, Organisasi dan Diklat, menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengawasan pemilu.
Dengan mengusung slogan “Bersama Rakyat Awasi Pemilu”, Patminah menegaskan bahwa keberhasilan pengawasan tidak hanya bergantung pada lembaga pengawas, melainkan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.
“Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Salah satunya dengan memastikan hak pilihnya terpenuhi dan ikut berpartisipasi dalam pengawasan Pemilu,” katanya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar memastikan diri telah terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) ketika telah memenuhi syarat sebagai pemilih pada pemilu maupun pilkada mendatang.
Sepanjang kegiatan, suasana diskusi berlangsung dinamis. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan mengenai tantangan pengawasan pemilu, bentuk pelanggaran yang kerap terjadi, hingga peran masyarakat dalam membantu tugas Bawaslu.
Bagi kalangan akademisi, kegiatan seperti ini dinilai penting untuk menjembatani teori yang dipelajari di kampus dengan praktik demokrasi yang berlangsung di lapangan.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Sosiologi Politik FISIP Universitas Riau, Robi Armilus mengatakan kunjungan tersebut bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai peran strategis Bawaslu dalam mengawal proses demokrasi.
“Pada kesempatan ini mahasiswa diberikan penjelasan bahwa partisipasi masyarakat menjadi penting dalam membantu pengawasan rangkaian kegiatan pemilu dan pilkada. Tujuannya untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya pelaksanaan pemilu yang jujur, adil, dan transparan sehingga menghasilkan hasil pemilu yang sesuai dengan aturan,” jelasnya.
Melalui Program Bawaslu Mengajar, Bawaslu Riau berharap semakin banyak mahasiswa dan kalangan akademisi yang memahami pentingnya pengawasan partisipatif serta terlibat aktif dalam menjaga kualitas demokrasi.
Sebab pada akhirnya, pemilu yang berintegritas tidak hanya lahir dari penyelenggara yang profesional, tetapi juga dari masyarakat yang peduli, kritis, dan berani ikut mengawasi jalannya demokrasi. Karena demokrasi yang kuat hanya bisa terwujud ketika rakyat turut menjadi pengawasnya.(Rasid)
