Katakata.id – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau Kabinet Aksi Nyata menggelar diskusi dan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi di lingkungan kampus Unri, Pekanbaru, Ahad (10/5/2026) malam.
Kegiatan tersebut disambut antusias ratusan mahasiswa dan masyarakat umum yang hadir untuk mengikuti pemutaran film sekaligus diskusi mengenai kondisi masyarakat adat di Papua.
Film dokumenter investigatif garapan Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale dari Ekspedisi Indonesia Baru itu menyoroti dampak deforestasi akibat proyek agroindustri dan food estate terhadap masyarakat adat di Papua Selatan.
Film tersebut menggambarkan hilangnya hutan dan tanah leluhur masyarakat adat, serta ancaman terhadap ketahanan pangan warga akibat ekspansi proyek strategis nasional di wilayah Papua.
Di sejumlah daerah lain, kegiatan pemutaran film karya Dandhy Laksono dan tim sempat mendapat penolakan bahkan pembubaran. Namun di lingkungan kampus Unri, kegiatan berlangsung lancar tanpa gangguan.
Presiden Mahasiswa Unri, Muhammad Azhari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kesadaran kolektif mahasiswa dalam menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas terhadap masyarakat adat Papua.
“Karena ini bentuk kesadaran kolektif kawan-kawan, kita masih terus berada di garis perjuangan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, terkhusus kepada masyarakat adat di Papua yang hari ini terus dieksploitasi, baik ruang hidup mereka, adat istiadat mereka, tempat mereka mencari makan, hingga kehidupan mereka,” ujarnya.
Azhari berharap kegiatan itu mampu meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap situasi yang terjadi di Papua serta mendorong solidaritas antarmahasiswa di berbagai daerah.
“Mudah-mudahan kegiatan ini menambah kesadaran kolektif kawan-kawan untuk terus bersolidaritas dan menyuarakan kondisi masyarakat di Papua, serta tidak mudah tertipu dengan framing media terkait kondisi Papua hari ini,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa selama proses persiapan hingga pelaksanaan kegiatan, pihak kampus maupun panitia tidak mendapatkan intervensi dari pihak manapun.
“Mulai dari persiapan, naik flyer sampai hari ini tidak ada intervensi ataupun gangguan-gangguan dari pihak manapun,” katanya.
Menurut Azhari, BEM Unri terus membangun komunikasi dengan berbagai elemen mahasiswa, termasuk mahasiswa asal Papua, guna memantau perkembangan situasi di wilayah tersebut.
“Kami tergabung dalam Aliansi BEM se-Indonesia dan beberapa kampus di Papua juga bergabung di sana. Kami terus berkoordinasi dengan para presiden mahasiswa di Papua dan juga membangun komunikasi dengan Himpunan Mahasiswa Papua Riau untuk terus mengfollow up kondisi di sana,” jelasnya.
Dalam pernyataan sikap yang disampaikan usai pemutaran film, BEM Unri bersama mahasiswa dan masyarakat umum menyampaikan sejumlah tuntutan terkait proyek strategis nasional di Papua.
Mereka mendesak penghentian proyek yang dianggap merampas ruang hidup masyarakat adat, meminta penghentian keterlibatan militer dalam pengamanan proyek strategis nasional di Papua, serta menolak berbagai bentuk kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat adat, khususnya perempuan Papua.
Selain itu, mereka juga meminta dilakukan audit dan evaluasi terhadap korporasi pemegang konsesi lahan HTI yang dinilai telah menguasai jutaan hektare lahan di Papua.
Kegiatan diskusi dan pemutaran film tersebut berlangsung hingga malam hari dengan suasana tertib dan penuh antusiasme dari para peserta yang hadir. (Rasid)
