Katakata.id – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,68 persen. Angka ini turun tipis 0,08 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik, Teguh Sugiyarto, menjelaskan bahwa secara sederhana, dari setiap 100 orang angkatan kerja, sekitar lima orang masih belum mendapatkan pekerjaan.
“Meski tren penurunan ini menjadi sinyal positif, struktur pengangguran menunjukkan persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (5/5/2026).
Dari sisi jenis kelamin, tingkat pengangguran laki-laki masih lebih tinggi, yakni 4,88 persen, dibandingkan perempuan sebesar 4,36 persen. Keduanya memang mengalami penurunan, namun kesenjangan tersebut tetap terlihat.
Perbedaan juga tampak mencolok antara wilayah perkotaan dan perdesaan. TPT di perkotaan mencapai 5,60 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang berada di angka 3,20 persen. Kondisi ini mencerminkan tekanan pasar kerja di kota masih lebih besar.
Namun sorotan utama justru berada pada kelompok usia muda. Tingkat pengangguran usia 15–24 tahun mencapai 16,36 persen—tertinggi dibanding kelompok usia lainnya.
“Artinya, hampir satu dari enam anak muda angkatan kerja belum terserap pasar kerja,” jelas Teguh.
Sebaliknya, kelompok usia 60 tahun ke atas mencatat tingkat pengangguran terendah, yakni 1,89 persen. Pola ini menunjukkan tantangan terbesar justru dihadapi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja.
Dari sisi pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni 7,74 persen. Sementara itu, lulusan SD ke bawah justru mencatat tingkat pengangguran paling rendah sebesar 2,32 persen.
Meski demikian, secara jumlah, pengangguran paling banyak berasal dari lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), yang mencapai 28 persen dari total pengangguran. Di sisi lain, lulusan Diploma I/II/III menjadi kelompok dengan proporsi pengangguran paling kecil, hanya 2,48 persen.
Data ini menunjukkan bahwa persoalan pengangguran bukan sekadar soal jumlah, tetapi juga menyangkut kualitas serta relevansi pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja.
Penurunan angka pengangguran memang patut diapresiasi. Namun tanpa perbaikan serius pada keterkaitan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, terutama bagi generasi muda, tren ini berpotensi stagnan bahkan kembali meningkat di masa mendatang.(SID/BPS RI)
