Katakata.id – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Suharyanto, Ahad (30/11/2025) melaporkan perkembangan terbaru penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi: Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Memasuki hari keempat penanganan darurat, jumlah korban jiwa kembali mengalami peningkatan, meskipun penanganan di lapangan disebut semakin baik.
Sumatera Utara: 217 Meninggal, 209 Masih Hilang
Sumatera Utara menjadi wilayah dengan jumlah korban tertinggi. BNPB mencatat:
- 217 orang meninggal dunia
- 209 orang masih hilang
Korban tersebar di beberapa daerah yang terdampak paling parah, yaitu Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan. Data tersebut menunjukkan adanya penambahan dibandingkan hari sebelumnya.
Aceh: 96 Korban Meninggal, 75 Masih Hilang
Di Provinsi Aceh, perkembangan penanganan bencana menunjukkan:
- 96 meninggal dunia
- 75 orang hilang
Korban berasal dari 11 kabupaten/kota yang terdampak banjir dan longsor di wilayah tersebut.
Sumatera Barat: Kondisi Berangsur Pulih
Sementara itu, Sumatera Barat menunjukkan perkembangan yang lebih stabil dibanding Aceh dan Sumut. BNPB melaporkan:
- 129 meninggal dunia
- 118 hilang
- 16 orang luka-luka
Dengan akses wilayah yang mulai pulih, proses pencarian, evakuasi, dan pemulihan infrastruktur berlangsung lebih cepat.
BNPB Pastikan Penanganan Semakin Baik
Letjen Suharyanto menegaskan bahwa penanganan bencana di tiga provinsi tersebut terus menunjukkan kemajuan.
“Intinya, bisa kami pastikan kondisi per hari ini semakin maju dan semakin baik. Kami akan terus mendampingi masyarakat dan pemerintah daerah dalam mengatasi bencana ini,” ujar Suharyanto.
Ia menuturkan bahwa seluruh unsur pemerintah telah diterjunkan. “Semua kekuatan turun. Menteri-menteri, pejabat, TNI/Polri, relawan, dunia usaha sudah hadir,” tegasnya.
Pemulihan Komunikasi: Operator Seluler Dikerahkan
Suharyanto juga menyampaikan bahwa seluruh operator GSM akan hadir pada pertemuan besok untuk mempercepat pemulihan jaringan komunikasi yang terdampak bencana.
Langkah ini penting mengingat jaringan telekomunikasi di sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh masih mengalami gangguan sehingga menghambat proses pelaporan dan penanganan darurat. (Rasid Ahmad)
