Lebih Dari Sekadar Kata
Alumni Fakultas Ekonomi Unri, Manajemen Angkatan 1995 (Foto : dok. pribadi)

Kiprah anak Transmigran yang sukses menjadi wakil rakyat di Majalengka

KataKata.id – Kiprahnya di dunia politik tidaklah beken seperti kebanyakan politisi  yang ada di negeri yang bernama Indonesia ini. kali ini sosok yang akan saya ceritakan adalah Jujun Junaidi namanya. sebelum masuk ke panggung politik yang setiap pencalonannya membutuhkan cost tinggi. Jujun begitu ia akrab disapa seusai tamat kuliah ia mencoba peruntungan dengan hijrah ke Jawa Barat.

Tiba di Majalengka, Jawa Barat, ia mengabdi di sebuah desa. hal itu memberikan semangat baru bagi dirinya. ia diberikan tugas di desa itu sebagai tenaga pendamping Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM).

Sebelum jauh bercerita mengenai tugas dan tantangannya selama menjadi pendamping Program PNPM itu kita cerita mengenai masa kuliah. semasa kuliah jujun tidak pernah aktif sebagai pengurus lembaga mahasiswa atau yang biasa disebut aktivis yang hari – harinya mengurus lembaga mahasiswa. masuk ke Kampus Unri melalui jalur Tes SMPTN pada tahun 1995. Ia berhasil lolos dan kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen.

“Saya kalau dunia organisasi tidak pernah masuk. memang saya tidak tertarik pada waktu itu. menjadi aktivis yang sibuk dengan kegiatan mahasiswa sesuatu hal yang tak pernah saya jalani semasa di kampus Unri,” kata Jujun Junaedi saat bercerita kepada awak media melalui sambungan telepon, Senin ( 19/7/2021) malam.

Usai menyelesaikan kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen itu ia mencoba bekerja di sebuah warung internet namun tidak sampai bertahan lama. tahun 2004 ia mencoba peruntungan ke daerah jawa tepatnya di bandung.  hijrah ke daerah jawa untuk mengubah nasib hidupnya. setelah sampai di sana ternyata situasi semakin sulit bagi dirinya mencari mata pencaharian untuk bertahan hidup. akhirnya ia kembali ke tanah kelahirannya di Majalengka.

Pada waktu ia di Majelengka ia mencoba ikut tes menjadi tenaga Fasilitator PNPM Mandiri . begitu lulus tes ditempatkan di sebuah desa yang bernama desa Talaga Kulon, Talaga, Majalengka.

“Awalnya menjadi petugas atau pengelola kegiatan UPK kecamatan sebagai sekretaris. Program di desa itu saya beri nama PNPM  Generasi Cerdas Kader Desa, “ terang Jujun.

Aktivitasnya di sana  pertama kali yang ia jalani adalah mengelola kegiatan di UPK kecamatan bersama masyarakat dengan melakukan program pemberdayaan masyarakat seperti menjadi tenaga pendamping dalam hal mengelola desa atau mengatur hal – hal yang berkaitan dengan program kemajuan Desa. sekian lama mengabdi bersama masyarakat di daerah itu, tahun 2006 ia menemukan tambatan hatinya lalu ia putuskan untuk menikah.

Namun pada tahun 2010 ia pindah ke bidang pemberdayaan desa di desa daerah Sukabumi.

“di daerah Sukabumi itu ditempatkan di desa bermasalah pada waktu itu. Alhamdulillah desa itu berhasil saya selesaikan masalahnya dengan baik. yang diselesaikan pada waktu itu masalah keuangan,” ujar Jujun.

Berbekal pengalamannya sebagai Pendamping desa itulah dirinya terjebak dan masuk ke panggung politik.

Masuk ke Panggung Politik

Cerita masuk ke panggung politik itu menjadi sesuatu yang tidak diinginkannya. karena ia masih semangat melakukan program pemberdayaan bersama masyakat desa.tetapi kenyataan bicara lain, didorong oleh rekannya, akhirnya terpaksa ia masuk partai politik. Partai Gerindra menjadi pilihannya.

“Sudah sangat terpaksa masuk partai pada waktu itu. memang masuk partai tetapi pada pileg tahun itu saya tidak mencoblos dan memilih Golput,” ungkap Jujun sambil berseloroh.

Setelah masuk partai dirinya banyak mendapat tawaran dan godaan untuk berkuasa. ada tawaran jadi ketua partai tingkat cabang. tawaran dari seorang teman di partai agar dirinya juga menjadi ketua partai.

“Seorang teman di gerindra menyarankan saya untuk menjadi ketua partai. Jadi saya menjadi ketua nggak mau. saya termasuk anti Partai sebenarnya,” kata Jujun dengan pikiran tak mau ambil pusing soal – soal begitu.

“Saya tidak terlalu tertarik menjadi ketua partai pada waktu itu,” tambah Jujun.

Pada tahun 2013 seleksi pendamping desa dibuka, ia ikut tes. tes pendamping desa bersamaan dengan pelatihan kader muda partai Gerindara di hambalang.

Jujun mengaku, tes yang harinya bersamaan itu, dua – duanya lulus.

Tetapi ia lebih memilih menjadi pendamping Desa. tugasnya pada waktu itu juga menyelesaikan masalah keuangan di desa.

“Desanya memang bermasalah. masalah dalam hal pengelolaan keuangan dan Sumber Daya Manusia,” ujar Jujun.

Selama di desa itu kegiatannya memberikan motivasi dan pelatihan kepada masyarakat pedesaan.

“Niat Saya ingin berbakti di kabupaten majalengka. di Desa Ganeas, Talaga, Majalengka. hanya ingin memberdayakan masyarakat saja, “ terangnya.

Seiring berjalannya waktu pertengahan 2013 ada seorang teman menyarankannya untuk ikut maju pemilihan legislatif. mencoba peruntungan menjadi wakil rakyat namun gagal.

Saran temannya itu kalau mau merubah kehidupan masyarakat secara lebih luas harus masuk ke dalam sistem.

“Masuk sistem dan kita bisa membantu masyarakat yang kesusahan,” Ujar Jujun meniru perkataaan temannya itu.

Setelah gagal duduk sebagai wakil rakyat dirinya tidak putus harapan. periode kedua tahun 2019 ia maju lagi mencoba peruntungan merebut kursi legislatif.

Ketika ditanya mengenai modal pencalonan. Ia mengaku tidak mengeluarkan ongkos politik yang terlalu besar. karena masyarakat berinisiatif membantunya dalam hal sosialisasi dan kampanye.

“Modal saya dikantong hanya 30 Juta pada waktu itu. Sedangkan di periode pertama saya mencalonkan itu habis biaya lebih kurang 200 juta. artinya dari segi keuangan manalah cukup untuk maju periode kedua ini,” ungkap Jujun sambil tertawa.

“Selain Modal uang itu, sebenarnya modal sosial jauh lebih penting. Kalau soal agenda sosialiasi saya dibantu oleh masyarakat seperti memberikan motivasi dan sosialisasi. artinya semua agenda itu masyarakat yang mengatur,” jelasnya.

Berinteraksi dengan masyarakat bisa menjadi modal sosial bagi dirinya untuk merebut kursi sebagai wakil rakyat.

Maju periode kedua justru menjadi pengantin saja. Menurutnya, calon pengantin itu kan yang membiayai orang lain. artinya masyarakat yang turun tangan membantu kampanye politik saya.

“Saya pun mulai berpikir, sebenarnya dengan masuk ke dalam sistem saya bisa mendengar dan mengelola aspirasi masyakat serta merubah kehidupan masyarakat desa,” tutupnya.

Akhirnya pada periode itu dirinya duduk sebagai wakil rakyat dengan perolehan suara 4000 suara di daerah pemilihan tempat ia mencalonkan diri.

Jujun Junaedi selalu memegang prinsip bahwa menjadi wakil rakyat bagi dirinya adalah Menjadi manusia yang berguna bagi lingkungannya. karena dengan begitu ia merasa ada kepuasan batin setelah membantu masyarakat. Janjinya ketika sudah duduk sebagai wakil rakyat ( DPRD) di kabupaten bukan janji nominal materi melainkan janji aspirasi masyarakat yang selama ini ia terima dan tampung.

Kalau mengenai orang tua. Jujun mengatakan, orang tua saya hingga hari ini tinggal di Pasir Pangaraian.

“banyak orang bilang saya ini kan seperti orang transmigran,” ujarnya mengakhiri pembicaraan malam itu.

Berikut Biodata Jujun Junaedi

Nama, Jujun Junaedi

Lahir, 12 November 1976.

Tempat lahir, Majalengka.

Riwayat Pendidikan :

  1. SDN Mulya Sari Talaga, Majalengka, Jawa Barat.
  2. MTS Negeri 1 Telaga, Majalengka, Jawa Barat.
  3. SMU di Pasir Pangaraian, Rokan Hulu, Riau.
  4. Kuliah di Universitas Riau, Fakultas Ekonomi, Manajemen 1995 , selesai 2001.

Hobi : Olahraga Sepakbola

Media Sosial :

  1. Facebook, Jujun Junaedi
  2. Intagram, SAUNG ASPIRASI KANG JUJUN
  3. Youtube, SAUNG ASPIRASI KANG JUJUN

Riwayat organisasi :

  1. Pengurus Partai Gerindra
  2. Satuan Relawan Indonesia Raya
  3. Pemuda Pancasila

Pengalaman pekerjaan :

  1. Fasilitator Pemberdayaan di PNPM-MP dan Pendamping Desa.

Penulis : Rasid Ahmad

Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Rahmat: Harus berani mengkritik dan menegakkan keadilan

admin

Jenewar: Pemimpin harus memiliki ketegasan

admin

Ade Angga : Politisi itu bekerja untuk kepentingan umum

admin