Lebih Dari Sekadar Kata

Kapan Berakhirnya Covid-19?

“Selagi kita tidak seirama, tidak seiya dan sekata dalam menyikapi Covid-19, maka akan sulit diprediksi kapan akan berakhirnya wabah ini.”

……………….

“KAPAN cerita Covid-19 ‘ni akan berakhir di negeri kita agaknya, Pak Ustadz?” tanya seorang jamaah kepadaku suatu hari. Ketika itu saya menjawab semuanya tergantung pada sikap dan perilaku kita semua dalam menghadapinya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat kita terbelah ke dalam tiga kelompok dalam menyikapi Covid-19; ada yang percaya, ada yang ragu-ragu, dan ada yang tidak percaya sama sekali. Bagi masyarakat yang percaya, mereka akan disiplin mematuhi ketentuan-ketentuan pemerintah terkait upaya-upaya pencegahan penularan covid-19. Bagi yang ragu-ragu, mereka akan setengah hati untuk mematuhinya. Dan bagi yang tidak percaya, mereka akan menolak sama sekali kecuali kalau sudah terpaksa.

Bagi masyarakat yang masih ragu-ragu atau tidak percaya dengan Covid-19, ketika di antara mereka atau salah seorang keluarga dekat mereka terkonfirmasi positif dan melihat secara langsung keadaan yang dialaminya, barulah mereka mulai percaya dengannya.

Apakah covid-19 ini benar-benar nyata adanya? Sebenarnya fenomena wabah (penyakit) ini bukanlah sesuatu yang baru bagi umat manusia. Ia sudah berulang kali melanda masyarakat dunia, seperti wabah Pes yang melanda daratan Eropa hingga sampai ke benua Asia dan Afrika yang dikenal dengan “the black death” tahun 1346-1353, yang menyebabkan 25 juta jiwa meninggal; wabah Kolera yang melanda India hingga ke Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Utara tahun 1817-1823; Flu Spanyol tahun 1918-1920 hingga sampai ke Amerika Utara yang menelan korban lebih 500 juta orang; Virus SARS yang terjadi antara tahun 2002–2003 yang berasal dari Provinsi Guangdong, China dan dalam waktu yang sangat singkat menyebar ke 26 negara di seluruh dunia; Flu Babi tahun 2009 – 2010. yang berasal dari Meksiko menyebar hingga ke seluruh dunia dengan total yang terinfeksi lebih kurang 1,4 miliar orang dengan angka kematian mencapai 500.000 ribu orang; Ebola yang pertama kali muncul di Sudan dan Kongo tahun 1976 kemudian pada tahun 2014 menginfeksi warga Afrika Barat terjadi sekitar tahun 2013–2016 dengan jumlah terinfeksi sebanyak 28.600 orang dan meninggal sebanyak 11.325 orang.

Apakah wabah Covid-19 ini terjadi secara alamiah atau sebuah rekayasa? Itu adalah persoalan lain. Yang jelas fakta menunjukkan bahwa Covid-19 sudah menjadi pandemi dunia, hampir di semua negara saat ini, sebagaimana kita saksikan melalui berbagai media, tengah berjuang keras untuk mengatasi pandemi ini dengan menghabiskan banyak energi dan biaya.

Dari kacamata sains, wabah covid-19 adalah suatu fenomena yang bisa dijelaskan secara ilmiah baik dari segi penyebabnya dan cara mengatasinya. Sesuatu yang bersifat ilmiah harus diselesaikan secara ilmiah pula. Apa yang tengah dilakukan pemerintah saat ini terkait pencegahan penularan Covid-19 pada dasarnya merupakan ikhtiar dari sudut pandang ilmiah tersebut. Oleh karena itu, kalau kita ingin cerita Covid-19 segera berakhir, maka semua kita tanpa terkecuali harus disiplin dalam melaksakan anjuran pemerintah. Semakin tinggi tingkat pengabaian masyarakat terhadap anjuran pemerintah, semakin lama pula cerita Covid-19 akan selesai.

Dari kacamata teologis, fenomena Covid-19 yang juga melanda negeri kita sampai saat ini pada hakekatnya tidak terlepas dari izin dan kehendak Allah swt. Karena itu, suka atau tidak suka kita harus menerimanya sebagai manifestasi dari Tauhid kita kepada Allah swt dengan mengedepankan kesabaran, tidak berkeluh kesah, tidak berputus asa, tidak terlalu tertekan (takut berlebihan) dan tidak saling menyalah-nyalahkan atau tidak saling menyudutkan satu sama lain.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, bisa disimpulkan bahwa fenomena covid-19 yang melanda negeri kita saat ini akan segera berakhir, jika semua kita baik pemerintah maupun masyarakat satu kata, satu tekad dan satu langkah dalam ikhtiar untuk mengatasi masalah wabah ini. Namun, selagi kita tidak seirama, tidak seiya dan sekata dalam menyikapi Covid-19, maka akan sulit diprediksi kapan akan berakhirnya wabah ini. Wallah A’lam***

Penulis: Amrizal

Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Analisa Konflik AS dan Iran

rasid

Negara dalam ancaman Demokrasi Digital

admin

Keimanan dan Pengorbanan

rasid