Lebih Dari Sekadar Kata
Akademisi Ilmu Politik yang juga Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung, Ariandi A Zulkarnain. (Foto: istimewa)

Bagaimana Kaderisasi dan Kepemimpinan Partai Politik?

Oleh : Ariandi A Zulkarnain, S.IP, M.Si

Katakata.id – Kita ketahui bersama bahwa persoalan krusial demokrasi internal partai politik salah satunya adalah persoalan kepemimpinan. Ideal nya pemimpin partai politik haruslah merupakan sosok yang bisa diterima oleh anggota partai, diikuti idenya, dipatuhi intruksinya, dan menjadi konsolidator bagi internal partainya. Sedangkan dilingkup eksternal ia harus menjadi fungsi simbolik bagi partainya ketika berhadapan dengan publik dan partai politik lainnya. Maka pemilihan pemimpin partai haruslah mengedepankan prinsip partisipatif, meskipun setiap partai politik memiliki mekanisme dan tata cara pemilihan yang merujuk pada AD/ART masing masing.

Persoalan regenerasi kepemimpinan partai politik baik secara ide, gagasan, inovasi, dan pemahaman ideologi masih menjadi puncak dari persoalan yang ada. Hal ini juga diwarnai dengan persoalan lain yang cukup membuat benang kusut kepemimpinan partai seolah tidak pernah terselesaikan yakni usia yang menjadi alternatif pemimpin. Tentu masalah ini tidak berdiri sendiri, hal ini dikarenakan kegagalan partai politik melakukan fungsi rekruitmen dan kaderisasi.

Baru-baru ini kita menyaksikan seorang kaesang pangarep, yang merupakan putera presiden republik Indonesia yang ditunjuk menjadi ketua umum partai PSI (Partai Solidaritas Indonesia), Tentunya partai politik memiliki pertimbangan dan perhitungan tersendiri dengan penunjukan ini, namun ini justru memperkuat penarikan kesimpulan bahwa partai politik hari ini tidak menjalankan fungsi rekrutmen dan kaderisasi secara trategis, politik hanya dianggap tukar tambah kepentingan jangka pendek. Secara usia seorang kaesang memang cukup muda, namun persoalan ideologi menjadi catatan penting dimana seorang kaesang baru 2 hari bergabung sebagai kader PSI.

Persoalan lain yang cukup mengakar adalah dominasi pemimpin partai politik yang tidak melakukan regenerasi, Prabowo Subianto yang masih menjadi pimpinan partai sejak partai gerindra dibentuk atau berdiri, Surya Poloh di Nasdem, Hari tanoe di Perindo. Selain itu kita juga sama sama menyaksikan bagaimana kuatnya kharisma seorang Megawati soekarnoputri di PDI-P yang sampai hari ini dianggap cukup kuat dan sangat sulit tergantikan, selain itu partai dengan spektrum islam juga tidak luput dari catatan ini yakni Muhaimin iskandar di PKB, dan hampir disemua partai politik mendapatkan hegemoni elit partai yang cukup dominan dan cenderung mengabaikan prinsip demokratis dan sirkulasi kepemimpinan di Internal partainya sendiri. Maka idealnya secara usia dan ideologi perlu menjadi satu paket utama dalam proses regenerasi kepemimpinan partai politik. Banyak kader yang secara usia ideal namun persoalan ide, gagasan dan pemahaman ideologi dianggap masih belum cukup kuat untuk merepresentasi fungsi simbolik, salah satunya ada nama AHY yang masih dibawah bayang bayang seorang SBY. Hal ini tentu tidak lepas dari fungsi kaderisasi pertai demokrat yang tidak berjalan secara maksimal, kecenderungan faktor keturunan masih cukup besar memberikan pengaruh ketimbang pertimbangan idelogis.

Prinsip kaderisasi partai harus disusun ulang dalam rangka memperkuat kelembagaan partai politik yang demokratis, partai politik harus tegas untuk membentuk pola kepemimpinan berjenjang yang kemudian dapat memberikan pengaruh terhadap kader yang hendak dipersiapkan menjadi pemimpin yakni dengan jenjang tingkatan karir kepemimpinan (dari bawah hingga keatas, atau dari daerah menuju pusat), hal ini tentu memberikan warna tersendiri bagi setiap regenerasi pemimpin partai yang memahami mekanisme kepartaian dengan baik, memahami ideologi partai dengan baik, serta mampu memberikan keputusan keputusan strategis yang dimunculkan dari basis ideologi dan platform partai yang ia pahami sejak memimpin dari bawah.***

Penulis merupakan Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung

Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Apa yang Indonesia Keliru Soal Omicron?

rasid

Keimanan dan Pengorbanan

rasid

Lembaga kemasyarakatan desa antara ada dan tiada

rasid