Lebih Dari Sekadar Kata

Perempuan Tangguh di Bahu Gunung Tertinggi (2)

Ranu Kumbolo, nama itu terdengah indah dan eksotik.

Ranu berarti danau, berasal dari bahasa Tengger. Suku yang mendiami wilayah Gunung Semeru. Ranu Kumbolo berarti Danau Kumbolo. Di sekitaran Semeru sebenarnya ada 5 ranu lainnya, tapi Ranu Kumbolo adalah primadona. Keindahannya begitu membahana di dunia pergunungan dan perdanauan.

Selama ini aku hanya melihat keindahan Ranu Kumbolo lewat gambar-gambar di internet. Sekarang kawan, aku akan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. 5 jam berjalan, mendaki bukit menuruni lembah untuk mencapai Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo terletak di ketinggian 2400 mdpl. Menjelang sampai ke ranu eksotik itu, ada 3 pos peristirahatan. Pos 1, pos 2, pos 3. Nama-nama itu menjadi penyemangatku ketika mulai teruk berjalan.

Dan akhirnya, ranu itu terlihat juga. Awalnya samar, makin lama makin jelas dan nyata. Kami datang ketika Ranu Kumbolo diselimuti kabut tipis, membuatnya nampak misterius tapi cantik luar biasa. Allahu Akbar…

Membentang seluas 15 ha, jernih airnya terlihat hijau dan biru. Terletak di lembah dengan dikelilingi perbukitan yang seolah menjaganya. Bening, tenang, dalam, tanpa riak, tanpa keriuhan. Hanya desir angin yang menjadi iramanya.

Ranu Kumbolo adalah lokasi perkemahan favorit. Banyak pendaki yang hanya menikmati keindahan ranu ini tanpa perlu melanjutkan perjalanan menuju puncak Mahameru. Terdapat ratusan tenda yang didirikan di tepian ranu setiap harinya. Jajaran tenda warna warni ini kemudian menjadi pemandangan indah tersendiri.

Hari pertama pendakian tim kami, diputuskan untuk tidak bermalam di Ranu Kumbolo. Hanya berhenti untuk beristirahat, sholat, makan siang, lalu melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Shelter terakhir jelang puncak Semeru.

Kami menginap di Ranu Kumbolo di malam kedua setelah turun dari puncak. Tenda didirikan bersama dengan ratusan tenda pendaki lainnya. Bisakah kau bayangkan rasanya kawan? Buka tenda viewnya danau seindah ini. Ah….

Tapi keindahan itu tak lama. Ketika malam menjelang aku mulai tersiksa. Angin menderu, dingin menusuk kalbu, aku membeku. Segala rayuan tentang indahnya bintang saat malam di Ranu Kumbolo sirna sudah. Aku menderita. Tak pernah aku merasa sedingin ini. Iya aku tahu ini gunung, dan gunung pasti dingin. Tapi sedingin ini? Allah Karim…

Base layer (semacam kaos dan celana manset berbahan polar) sudah dua lapis, baju, celana panjang, jaket tebal dua lapis, kaos kaki dua lapis, jilbab, buff (kain masker), sebo, sleeping bag, sudah dipakai semua. Rasanya tanpa guna. Aku tetap menggigil. Tak bisa lagi banyak bicara. Hanya bisa mengerang kedinginan.

Aarrgghh apa salah dan dosaku Ya Rabb…..
Yang lain masih bisa cekikikan diluar tenda. Saling bercerita entah tentang apa. Inderaku tak lagi berfungsi dengan baik untuk bisa menyimak mereka. Apa karena aku kurang gizi? Menyedihkan sekali. Aku bahkan sulit menggerakkan tubuh, semua terasa kaku. Jari-jariku beku. Belakangan baru kusadari jari-jariku pecah karena kedinginan di malam itu.

Ingin rasanya bangkit, lalu berjalan mendatangi tenda abang, suamiku, di sebelah tenda kami untuk sekedar merengek minta dipeluk. Tapi aku tak sanggup lagi. Akhirnya hanya bisa meringkuk penuh nestapa di tenda women series kami.

Vina, teman setendaku, mulai risau. Dia melakukan banyak hal agar dinginku berkurang. Terharu rasanya. Aku yang awalnya berbaring di bagian pinggir langsung disuruh pindah ke tengah, diapit, biar lebih hangat. Barang-barang kami, ransel, carrier, sebagian dipindahkan ke dekat pintu tenda, dekat dengan kaki, agar kakiku lebih hangat.

“Kak, belum bisa tidur ya? Apanya yang dingin lagi kak?”

“Ka-a-ki de-ek…” jawabku menggigil.

“Buka sleeping bag nya kak. Kita bebat kaki kakak pakai baju-baju, biar lebih hangat.”

“Iya…”

“Masih dingin kak?”

“Udah mendingan dek. Makasih ya…”

“Ini pakai juga bandana bulu vina, biar telinga kakak hangat.”

Malu sebenarnya. Teman-teman women series yang lain juga kedinginan, tapi mereka merelakan perlengkapannya untukku.

“Ga usah dek, Vina kedinginan nanti. Kakak kan udah pake jilbab juga”

“Ga papa kok kak. Vina bisa nahan. Kakak lebih butuh. Hangat pakai bandana bulu ini kak. Telinga kita ni ngaruh kali kak. Kalau hangat dia, hangat kita.”

Dan benar saja. Setelah memakai bandana bulu itu, tubuhku perlahan menghangat, rileks, dan mulai mengantuk.

“Kakak mau dipanggilkan bang jen? Biar bang jen pindah tidur disini sama kakak.”

Aku menggeleng. “Ga usah dek…”

“Sini kak, Vina himpit kaki kakak biar lebih hangat. Dah tidurlah…”

Makasih banyak dek….kataku dalam hati. Vina baik sekali.

Akupun tertidur. Tapi kurasa itu bukan karena hangatnya bandana bulu atau himpitan kaki itu, melainkan karena kehangatan hati Vina.

Penasaran, paginya kutanyakan pada mas guide, berapa sebenarnya suhu di Ranu Kumbolo semalam.

” Beruntung mbak, suhunya bersahabat. Hanya 4°C”

“What??? Hanya 4°C ? Bersahabat? Aku dah mau mati rasanya mas.”

“Minggu kemarin disini frosting mbak, suhunya sampai -5°C”

“Oohh…iya…alhamdulillah ya mas…” aku nyengir.

“Aku tinggal di daerah dengan suhu diatas 30°C mas. Suhu AC di kamarku bahkan tak pernah lebih dari 25°C” kataku, dalam hati.

Ah, Ranu Kumbolo.

Indah namun menyiksa, paling tidak untukku.

 

Penulis : Lufita Nur Alfiah

Print Friendly, PDF & Email

KataTerkait

Kalimati (3)

rasid

Perempuan Tangguh di Bahu Gunung Tertinggi (1)

admin

Menjelajah Gunung Djadi menghabiskan waktu 8 hari 7 malam

admin