Lebih Dari Sekadar Kata
Buku Pengantar Jurnalisme Multi Platform ( Foto : prenadamedia.com )

Jurnalisme Warga

KataKata.id – Filsuf Jerman Jürgen Habernas yang mendefinisikan ruang publik sebagai terdiri dari orang-orang pribadi berkumpul bersama sebagai publik dan mengartikulasikan kebutuhan masyarakat dengan negara.

Salah satu peran penting media massa adalah membuka ruang diskusi publik dan wacana baru. ruang diskusi harus disediakan secara independen dan beradab. memang sulit mewujudkan ruang publik yang ideal, tetapi ruang diskusi sangat penting dilakukan oleh media massa agar tidak dikuasai oleh dominasi opini segelintir orang. karena ruang publik yang ideal adalah terbuka untuk seluruh publik dan bisa diakses luas oleh publik.

Media massa sebagai pembuat public sphere harus menjadi penggerak dalam menyelesaikan masalah publik. karena dengan jurnalisme yang berimbang dan independen, serta publik sphere yang terjamin kebebasannya, maka akan muncul opini publik yang benar – benar mewakili kepentingan publik secara luas.

Public opinion yang mengemuka kemudian dapat dijadikan sebagai sumber bagi proses pembuatan kebijakan publik yang berpihak semata – mata kepada publik. Dengan demikian, dampaknya ada pada peningkatan mutu pelayanan publik artinya media yang melayani kepentingan publik.

Ruang publik yang ada di media – media di negeri ini mulai dapat dirasakan masyarakat setelah runtuhnya rezim Orde Baru. sebab sistem Komunikasi Indonesia saat itu bersifat tertutup, sehingga arus informasi bersifat satu arah ( dari atas ke bawah ). sementara warga tidak diberikan kesempatan untuk memberikan feed back.

Era Reformasi, sistem komunikasi lebih terbuka sehingga publik memiliki kebebasan dan kesempatan untuk bersuara menyampaikan pendapatnya tanpa diintimidasi pemerintah. sistem komunikasi beralih ke sistem memberikan kebebasan kepada publik sesuai UUD 1945.

Media massa mendapatkan kesempatan untuk memberikan ruang bagi masyarakat dengan berpartisipasi aktif dalam diskusi melalui publikasi media. Masyarakat pun bisa memberikan umpan balik sebagai kontribusi untuk pembangunan negara.

Masyarakat dapat menyampaikan pendapatnya setelah dibukanya rubrik opini dan surat pembaca di media cetak, pun talk show yang membahas permasalahan publik di televisi maupun radio yang hampir setiap hari menyiarkan diskusi publik yang dapat disimak langsung masyarakat, seperti acara “ILC” di TV One yang saat ini sedang istirahat.

Namun yang disayangkan, di era kapitalisme media, fungsi media massa sebagai ruang publik mengalami degradasi yang lumayan signifikan. sebab mayoritas televisi di Indonesia milik swasta yang cenderung penuh dengan porsi program acara dan periklanan yang berisikan kepentingan para pemilik media, pemilik modal, politisi dan para pemasang iklan. Televisi swasta memang sebagai bagian dari pers memiliki fungsi ekonomi. tapi masih terdapat kekurangan yang didapati dalam fungsi sebagai media informasi, pendidikan dan kontrol sosial.

Setiap hari kita lebih banyak disuguhi berita di stasiun televisi swasta yang menayangkan berita korupsi, sikap pejabat negara, kegiatan artis, pusat perbelanjaan, atau tayangan liburan yang hanya mementingkan aspek komersial, tidak ada nilai edukasinya.

Porsi pemberitaan yang menyangkut pendidikan, layanan kesehatan, persoalan Hak Asasi Manusia ( HAM), kebutuhan dasar masyarakat lainnya, minimnya transportasi massal yang mengakibatkan kemacetan, sarana pendidikan yang belum memadai, limbah sampah sangat sedikit.

Ruang publik dalam bingkai media massa saat ini bisa dikatakan hanya di akses oleh orang – orang tertentu. publik tidak memiliki akses yang sama untuk dapat turut serta urun rembuk dalam diskusi publik. dengan alasan keterbatasan space dan durasi, publik sphere yang dibuat media massa sering kurang maksimal karena sudah dikavling oleh pengiklan atau program media itu sendiri.

Habernas pernah menyebutkan tentang degradasi fungsi ruang publik di media massa yang justru dilakukan oleh praktik media massa itu sendiri. Dampaknya adalah tumbuhnya budaya masyarakat konsumtif daripada masyarakat kritis. Hal ini dikarenakan media massa kini lebih banyak dipenuhi promosi dan hiburan daripada forum yang membahas permasalahan publik.

Buku ini layak dibaca mahasiswa jurusan komunikasi, penggiat media dan wartawan pemula yang ingin mengetahui lebih banyak tentang perkembangan dunia jurnalisme abad modren. bagaimana jalan cerita media massa itu berkembang menjadi Multi Platform buku ini membahasnya dengan apik dan didukung dengan teori – teori komunikasi yang terupdate dan terbaru.

Penulis : Rasid Ahmad

Sumber : Pangantar Jurnalisme Multi Platform

Judul Buku: Pengantar Jurnalisme Multi Platform

Penulis: Masriando Sambo dan Jafaruddin Yusuf

Penerbit: Prenadamedia Group

Tahun terbit: 2017

Ukuran : 180 halaman

Print Friendly, PDF & Email